web analytics

Tinggalan Perang Dunia II di Pulau Ambon dan Seram

Bekas Gudang Amunisi

Ketika Jepang menguasai atau merebut Kota Ambon dan Pulau Seram, banyak kubukubu pertahanan baru yang dibangun oleh mereka, dan uang yang dikeluarkan untuk membangun pertahanan tersebut, sangatlah minim, dibanding dengan pertahanan benteng-benteng besar seperti yang pernah dibuat dan dibangun oleh kolonial Portugis, Inggris, Spanyol dan Belanda. Pertahanan seperti lofrag, bahkan tidak memerlukan biaya, karena ada pekerja paksa yang melaksanakan tugas tersebut, atau pembuatan pillbox, lapangan udara, bunker, dan lain sebagainya. Pertahanan-pertahanan ini terdapat hampir merata di Kota Ambon, namun jika di Pulau Seram, yang terdapat tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Seram Bagian Barat dan Kabupaten Seram Bagian Timur, hanya terdapat di wilayah enam desa saja. Hal ini dimungkinkan karena basis utama ada terdapat di Pulau Ambon, dimana wilayah itu menjadi perebutan kekuasaan.

Tinggalan perang dunia kedua yang terdapat di wilayah Pulau Ambon dan Seram, sangat menarik, bahkan ada yang baru ditemukan di wilayah Maluku, seperti tinggalan onsen yang terdapat di desa Amahai atau gudang amunisi dengan kontruksi rancang bangunan yang sangat bagus. Karena budaya onsen itulah, sehingga temuan bak mandi, cukup banyak ditemukan oleh tim penelitian. Nampak jelas, bahwa tentara Jepang adalah tentara yang cerdas dalam merancang sebuah strategi pertahanan perang. Banyak bunker dengan sistem kamuflase dari tanah dan tutupan pohon, menjadi strategi yang jitu dalam menyembunyikan kubu pertahanannya.

Pintu Gudang Amunisi

Desa Amahusu menjadi Masterpiece situs tinggalan perangdunia kedua dalam penelitian ini karena terdapat bekas gudangamunisi dan bak penampungan minyak. Gudang Amunisi dan Bak Penampungan Minyak, menjadi sangat menarik, karena bangunan gudang amunisi ini dibangun secara terpisah, atau dengan kata lain: jauh berada dari lokasi benteng pertahanan yang kuat. Hanya di kelilingi oleh beberapa buah pillbox dan bunker berukuran kecil. Walaupun dibangun secara terpisah, namun gudang amunisi ini dibangun dan dirancangkan sangat mendetail, baik itu tentang penerangan lampunya, pendinginan udaranya, pintu kedap udara, dinding, cor atap, dan hal-hal penting lainnya.

Bak penampungan minyak tersebut berukuran panjang 6,65 m dan lebar 6,56 m, dengan ukuran lebar pintu masuk yang terbuat dari besi kedap udara sepanjang 2 m. Di tiap sudutnya (ada terdapat empat buah bak), ada terdapat bak penampungan kecil berbentuk segitiga dengan ukuran lebar 1,328 m. Jarak antara tiap bak kecil tersebut adalah 4,469 m. kemudian tinggi bak penampungan tersebut adalah 1,280 m. Besaran lahan dari bak penampungan minyak dan gudang amunisi ini cukup luas, yaitu ± 50 m. Khusus untuk bangunan gudang amunisi, memiliki dua buah ruangan besar tempat menyimpan amunisi, yaitu ruangan seluas 7,60 m dan ruangan seluas 4,30 m. kemudian ada satu buah ruangan kecil untuk generator seluas 3 m.

Yang menjadi masterpiece penelitian tinggalan perang dunia kedua di Pulau Seram adalah tinggalan Onsen Jepang yang terdapat di Desa Amahai, Kabupaten Maluku Tengah Onsen, adalah tempat mandi sauna milik tentara Jepang, yang berada di dekat tempat pengisian bahan bakar di Kecamatan Amahai. Oleh masyarakat, lokasi tersebut dikenal dengan nama bak Jepang. Lokasi tersebut berada tepat di bagian pesisir pantai. Pada lokasi tersebut, ada terdapat bekas pondasi bangunan untuk ruang mandi dengan ukuran 2 x 2 m dan terdapat bekas bangunan wadah tungku berbentuk lingkaran yang berfungsi sebagai tempat memasak. Untuk diketahui, onsen adalah kebutuhan penting dari budaya orang Jepang merelaksasi kondisi tubuhnya. Sehingga para tentara Jepang berusaha dan mencoba membuat onsen buatan di wilayah tersebut. Penemuan ini adalah yang pertama di Maluku. Ada terdapat bekas lubang cerobong asap, yang nantinya berfungsi sebagai penguapan untuk mengalirkan uap panas ke kamar mandi yang berjarak ± 8, 80 m dari tungku bak tersebut. Dapat diketahui bahwa ada tahapan proses yang terjadi ketika para tentara Jepang melakukan aktifitas harian di lokasi tersebut. Yaitu; pada tahap pertama, para tentara Jepang melakukan aktifitas mandi air laut, kemudian ketika mereka selesai mandi, mereka masuk ke bilik ruangan yang telah teraliri uap panas tersebut (proses sauna terjadi tahap ini).

Tungku tersebut terbuat dari campuran batu, pasir dan semen, sehingga kuat untuk menahan beban dan tahan terhadap api, karena tungku tersebut berkontruksi beton cor tanpa tulangan besi. Ada terdapat empat buah lubang pembakaran pada tungku tersebut dengan ukuran diameter 1, 05 m, selain itu juga ada terdapat dua pipa saluran udara untuk mengalirkan uap panas (tiap dua tungku, ada terdapat satu buah pipa saluran uap panas). Selain itu juga ada terdapat empat buah pintu atau lubang pembakaran setinggi 50 cm yang terdapat di bagian bawah tungku tersebut (sebagai tempat menaruh kayu), yang posisinya tepat berada di bawah wadah berbentuk lingkaran tersebut. Ketebalan dari tungku tersebut adalah 23 cm, sehingga kuat untuk menahan suhu panas agar tidak mudah mengalami kerusakan. Kemudian jarak antara tungku adalah 45 cm.

Tungku Tungku pemanasan Onsen

Ada terdapat 7 buah sekatan dalam bak tersebut, ukuran panjang keseluruhan dari bak mandi tersebut adalah 18,68 m dan memiliki lebar 1,24 m ukuran sekat bak yang paling besar adalah 6,20 m dan yang paling kecil adalah berukuran 0,67 m. Selain itu juga ada terdapat sumur dengan ukuran diameter 1,40 m jarak dari sumur ke bak mandi adalah 35 m. Kini lokasi tersebut, telah menjadi lokasi perkebunan kelapa oleh warga sekitar, selain itu juga dipergunakan sebagai tempat penggembalaan binatang. -Andrew Huwae

© 2019 Balai Arkeologi Maluku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.