SISI LAIN RUMAH PERADABAN BANDA 2016 - Balai Arkeologi Provinsi Maluku

SISI LAIN RUMAH PERADABAN BANDA 2016

Rumah Peradaban Banda 2016 memperoleh momentumnya. Dihelat tanggal 9-13 November, adalah waktu yang sangat tepat. Bertepatan dengan momen itu, Pemkab Maluku Tengah menggelar Festival Pesona Budaya Banda. Jadilah Rumah Peradaban Banda 2016 digandeng dan menggandeng Festival Pesona Budaya Banda dalam satu momentum program kerjasama Festival Pesona Budaya dan Rumah Peradaban Banda tahun 2016. Di gelar di musim panas, adalah waktu yang sangat tepat, karena pada waktu itu adalah ‘musim’ tamu dan turis di Banda. Cuaca cerah, dan laut tenang seperti ‘minyak’ membuat orang berbondonh-bondong ke Banda. Daerah wisata di Maluku yang masih sangat terbatas moda trasnportasinya. Pendek kata, Banda saat digelarnya Rumah Peradaban dan Festival Pesona Budaya, merupakan rumah yang sangat ramai pengunjung. Dan, ¬†Rumah Peradaban Banda 2016 memberi warna tersendiri, karena setiap tahun Festival Budaya Banda dihelat dengan warna yang sama dari tahun ke tahun, setidaknya itu yang kami dengar dari pengakuan masyarakat. Namun, warna yang beda itu, adalah bagian dari warna Festival Pesona Budaya Banda, kami berkolaborasi, kami bekerjasama meski beberapa kendala tetap tak terhindarkan, terutama soal mensinkronkan jadwal. Kami bersepakat berbagai kegiatan Rumah Peradaban dan Festival pesona Budaya Banda, digelar bergantian, namun dalam kegiatan pembukaan yang serangkai. Hari Jumat, usai shalat Jumar, pembukaan di gelar, panitia kabupaten pada pagi hari sibuk menyiapkan penyambutan Gubernur yang berkesempatan membuka acara Festival Pesona Budaya dan Rumah peradaban Banda. Di bawah rintik hujan, masyarakat berkumpul di pelabuhan menyambut Gubernur Bpk. Ir Said Assegaf dan rombongan serta PJS Bupati Maluku Tengah, Bpk. Shaleh Tio, juga beserta rombongan. Pasukan Drum Band mengiringi hingga ke rumah Jabatan Camat Pulau Banda. Sementara itu di Pelataran Istana Mini, sudah riuh rendah, kegiatan berlangsung. pagi itu diawali dengan lomba klompen sampai siang hari. Usai jumat, rombongan gubernur dan PJS Bupati Maluku Tengah, tiba di tempat pembukaan, iringan drum band masih menyertai. Di luar pagar Istana Mini Banda, masyarakat berjubel, bahkan pra pedagang makanan kecil juga turut serta ambil bagian, menjajakan dagangannya dan siap melayani pembeli. Bakso, gado-gado, es cendol, dan kopi panas siap dihidangkan. Ada pula penjual pernak pernik Banda, seperti kaos dengan berbagai gambar tentang Banda, gantungan kunci, dll. ¬†Acara pembukaan berlangsung sederhana, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dengan menyanyikan langsung oleh seluruh peserta pembukaan, tanpa diiringi musik, sederhana namun khidmat. Dalam sambutannya Gubernur mengatakan sebagai Rumah Peradaban, Banda memiliki potensi baik kawasan laut maupun sumberdaya budaya yang sangat menunjang sebagai destinasi wisata dan warisan dunia, semua itu harus dilestarikan. Dalam acara pembukaan itu Balai Arkeologi Maluku mengambil bagian, salah satu acaranya yaitu launching dan penyerahan buku Pengayaan Arkeologi yang diserahterimakan oleh kepala Balai Arkoelogi Maluku Bpk. Drs. Muhammad Husni, M.M kepada Pemkab Maluku Tengah melalui PJS Bupati Malteng. Selain itu juga penyerahan bantuan Balai Arkeologi Maluku berupa mesin pemotonh rumput sebanyak 3 buah, diserahterimakan melalui Gubernur Maluku kepada LSM Parneg yang diwakili oleh ketuanya Bpk. Anwar Sabar (Pak Ancha). Acara pembukaan ditutup dan dirangkaian dengan Lomba Baris Empang Gaya Banda, yang menampilkan para penari dari berbagai negeri di Pulau Banda. (WH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.