Sinopsis Penelitian Balai Arkeologi Maluku Tahun 2019 - Balai Arkeologi Provinsi Maluku

Sinopsis Penelitian Balai Arkeologi Maluku Tahun 2019

Sinopsis Penelitian Arkeologi 2019 BALAR MALUKU

DCIM100MEDIADJI_0015.JPG

PENELITIAN ARKEOLOGI Balai Arkeologi Tahun 2019 sebanyak 11 (sebelas) judul penelitian yang tersebar pada lokasi-lokasi di wilayah kerja Balai Arkeologi Maluku, yaitu Provinsi Maluku dan Maluku Utara. Tema penelitian arkeologi mengacu pada beberapa aspek, antara lain : Rencana Induk Penelitian Arkeologi Nasional (RIPAN), Program Nawacita (Kemaritiman, Kebhinekaan dan Pulau Terdepan), Rencana Penelitian Jangka Menengah (RPJM) Balai Arkeologi Maluku 2015-2019.

Penelitian tahun ini sangat berbeda jauh dari penelitian-penelitian sebelumnya, karena output penelitian lebih diutamakan. Oleh sebab itu Output penelitian Arkeologi Balai Arkeologi Maluku terdiri dari : Karya Tulis Ilmiah (KTI) pada jurnal-jurnal terakreditasi nasional dan internasional, Buku Pengayaan, Laporan Penelitian Arkeologi, dan policy brief paper.

Berikut abstrak judul-judul penelitian arkeologi tahun 2019

1. PENELITIAN TINGGALAN PERANG DUNIA KEDUA DI PULAU AMBON DAN SERAM.  

Abstrak : Pada masanya, Ambon adalah neraka perang dunia kedua yang berkecamuk di wilayah Maluku. Karena Ambon merupakan daerah perebutan kekuasaan bagi pihak tentara sekutu maupun jepang pada tahun 1942. Begitu juga dengan wilayah Pulau Seram yang menjadi bagian dari perang dunia kedua di wilayah tersebut. Hal ini dibuktikan dengan dijumpainya berbagai tinggalan perang dunia kedua pada wilayah tersebut, seperti pillbox, bekas lapangan udara dan sebagainya. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengungkapkan temuan tinggalan apa sajakah yang menjadi bukti dari peristiwa tersebut dan memetakannya sehingga hasil penelitian yang diperoleh akan menjadi sumber informasi sejarah budaya yang berguna bagi generasi Maluku.

Kata kunci : Ambon, Seram, Tinggalan Perang dunia kedua, dan memetakan

2. MENELUSURI JEJAK PERMUKIMAN DAN HUNIAN KUNO DI KAWASAN TAMAN NASIONAL MANUSELA, PULAU SERAM

Abstrak : Masyarakat asli Maluku membangun permukiman di atas perbukitan dan pegunungan. Permukiman kuno masyarakat asli Maluku dikenal dengan istilah ‘Negeri Lama.’ Tradisi lisan masyarakat lokal di Maluku hampir seluruhnya menyebutkan tentang istilah Negeri Lama. Berdasarkan sejumlah literatur, masyarakat asli Maluku berpindah dari permukiman di atas perbukitan setelah masa kolonial. Masyarakat lokal di sejumlah tempat di Pulau Seram juga sangat mengenal istilah Negeri Lama. Masyarakat tradisional di pedalaman Pulau Seram bahkan masih banyak yang menganut sistem ekonomi arboreal yang hidup dengan memanfaatkan hasil hutan, namun memahami cara menjaga kelestarian lingkungan. Sejumlah hasil penelitian menjelaskan bahwa kemungkinan sifat arboreal tersebut merupakan bentuk keberlanjutan dari tradisi yang berlangsung dalam periode waktu yang panjang. Sejumlah informasi mengenai temuan arkeologis yang mengandung indikasi permukiman kuno cukup banyak dilaporkan, namun medan pegunungan yang berat cukup menjadi tantangan bagi peneliti arkeologi. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri jejak-jejak permukiman kuno di Pulau Seram, berfokus di Kawasan Taman Nasional Manusela, di Seram Tengah. Pemilihan lokasi di Kawasan Taman Nasional Manusela dikarenakan permukiman-permukiman tradisional di wilayah ini masih mempertahankan subsistensi arboreal yang sangat terjaga adat dan keaslian budayanya. Selain itu, kawasan Taman Nasional Manusela tercatat sebagai lokasi sejumlah gua karst yang salah satunya adalah gua Hatusaka yang merupakan gua vertikal terdalam di Indonesia. Target capaian dari penelitian ini adalah menemukan jejak-jejak permukiman kuno dan mengeksplorasi potensi arkeologi sejumlah lokasi gua karst di Kawasan Taman Nasional Manusela yang mengindikasikan sebagai bekas hunian manusia. Penelitian ini juga berupaya mengkaji pola permukiman dan aktivitas masyarakat lokal di permukiman tradisional di pegunungan Manusela. Penelitian ini akan menerapkan metode survei permukaan dengan menelusuri kawasan Pegunungan Manusela dan eksplorasi di sejumlah lokasi gua-gua karst untuk menemukan lokasi hunian dan permukiman kuno. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan perekaman data spasial baik permukaan tanah maupun data spasial dari foto udara. Analisis data akan dibantu oleh perangkat Sistem Informasi geografis untuk memetakan sebaran lokasi ditambah data hasil kajian etnoarkeologi di lapangan. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan informasi dan pengetahuan baru tentang pola permukiman kuno dan aktivitas manusia awal di Pegunungan Manusela, Pulau Seram.

Kata kunci : Negeri Lama; Manusela; gua karst; permukiman; Seram

3. REKONSTRUKSI PERMUKIMAN KUNO DAN PENELUSURAN DATA TERKINI DI JAZIRAH HUAMOAL, SERAM BARAT

Abstrak : Tradisi lisan masyarakat lokal mendukung riwayat keberadaan lutur batu sebagai bentuk dinding benteng yang dahulu dibangun oleh leluhur sebagai strategi pertahanan melawan VOC. Berdasarkan analisis pustaka, diketahui bahwa negeri lama yang juga disebut benteng tradisional di Maluku memiliki beragam fungsi dan menjadi wilayah untuk bermukim, tempat ritual, pemakaman, pusat pemerintahan, maupun strategi pertahanan. Sejumlah sumber VOC cukup banyak menuliskan dan meriwayatkan penaklukkan dan peristiwa sejarah yang pernah terjadi di sejumlah benteng tradisional di berbagai wilayah di Maluku. Peristiwa yang berhubungan dengan keberadaan benteng tradisional sekaligus menjadi peristiwa legendaris yang secara umum dikenal oleh masyarakat dan termuat dalam sejumlah literatur sejarah antara lain peristiwa upaya VOC menguasai Jazirah Hoamual yang terangkum dalam Perang Lokki dan Perang Assaude. Peristiwa-peristiwa perang tersebut merupakan bagian dari riwayat sejarah yang penting di Maluku. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data spasial tahun 2018, permukiman Benteng Lokki dan Asaude sebagai lokasi yang tercatat dalam riwayat sejarah Maluku dari segi luasan area merupakan permukiman yang cukup besar. Tujuan dari penelitian ini adalah merekonstruksi permukiman Benteng Lokki dan Benteng Asaude serta penelusuran data arkeologi terbaru terkait riwayat kesejarahan Huamoal di Pulau Manipa dan Pulau Buano. Target capaian dari penelitian ini adalah merekonstruksi aspek-aspek kehidupan permukiman di Benteng Lokki dan Benteng Asaude, yaitu aktivitas, sistem ekonomi, pola dan bentuk hunian, serta aspek penyangga kebutuhan dasar permukiman, yaitu sumber pangan dan air. Metode yang diterapkan dalam pengumpulan data penelitian ini adalah penelusuran permukaan di lapangan untuk mencari indikasi bekas-bekas permukiman dan ekskavasi arkeologi untuk mengetahui kronologi dan kepadatan permukiman. Selain data artefaktual, dalam penelitian ini juga dilakukan pengumpulan data spasial untuk merekonstruksi denah permukiman benteng tradisional menggunakan analisis berbasis aplikasi pengindraan jauh, yaitu Sistem Informasi Geografis (GIS).

Kata kunci: Negeri Lama; Benteng Tradisional; Maluku; Seram; Lokki; Asaude; VOC

4. ASSESMEN NILAI PENTING DAN UPAYA PELESTARIAN TINGGALAN PERANG DUNIA II DI PULAU MOROTAI, MALUKU UTARA.

Abstrak Fakta historis Perang Dunia II, Pulau Morotai dijadikan wilayah basis militer pasukan sekutu. Pulau ini menyimpan rekam jejak berbagai tinggalan arkeologis dari peristiwa sejarah masa lalu, dimana pulau ini pernah dijadikan Amerika Serikat sebagai home base untuk merebut pangkalan militer mereka di Filipina yang saat itu dikuasai militer Jepang. Berbagai tinggalan senjata, amunisi peluru, kendaraan perang masih banyak teronggok insitu, dimana keseluruhannya kebanyakan berbahan logam sangat bernilai ekonomis terlebih dengan kenyataan yang terjadi di lapangan saat ini, kesemua tinggalan tersebut diburu serampangan untuk dijadikan bahan mentah kerajinan besi putih yang memang sudah marak digeluti oleh sebagian penduduk lokal setempat di Morotai. Seiring aktivitas vandalisme semacam itu, namun adapula didapati keadaan dimana telah berdiri museum mini Perang Dunia II yang koleksinya kebanyakan berasal dari peduduk lokal. Keadaan yang berseberangan (antithesis) seperti ini sungguh sangat menarik untuk dicermati sebagai khasanah memperkaya pengetahuan. Proposal ini memuat data tinggalan Perang Dunia II yang ada di Morotai dengan pendekatan  culture  resource  management,  yaitu  penelitian  berbasis  nilai  penting  dan dilakukan untuk mengenali apa saja perilaku manusia yang berkaitan dengan tinggalan arkeologis dan bagaimana tindakan pelestarian yang dapat diupayakan terhadapnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana signifikansi Pulau Morotai sebagai pulau terdepan  yang  berkontribusi  bagi  kepingan  historiografi  dunia  yang  tentu  juga  berkaitan dengan peristiwa-peristiwa sejarah yang melibatkan Maluku di sekitar tahun 1941-1945. Menaksir  (assessment)  pelbagai  tinggalan  arkeologis  dan  menjaga  tetap  lestari  tinggalan Perang Dunia II yang masih bisa disaksikan hingga saat ini di Pulau Morotai,  tentu bisa melestarikan memori kolektif bangsa tentang bagaimana strategisnya pulau ini dan berperan penting di masa lalu dan tercatat dalam sejarah dunia tentu saja.

Kata kunci; Nilai penting, pelestarian, Perang Dunia II, warisan budaya, culture resource management

5. PUSAKA BUDAYA DAN MASYARAKAT DI KEPULAUAN TANIMBAR PROVINSI MALUKU

Abstrak Pulau-pulau Terdepan adalah salah satu isu utama dalam pengelolaan wilayah negara selama dekade terakhir. Keletakan pulau-pulau ini yang berada pada ranah terdepan menjadikan perannya strategis dalam pengelolaan kawasan perbatasan negara. Ragam insiden dan sengketa batas wilayah dengan beberapa negara tetangga merupakan cermin bahwa pengelolaan wilayah perbatasan masih memerlukan perhatian mendalam.  Pengelolaan pulau-pulau terdepan kiranya merupakan salah satu faktor kunci dalam menciptakan profil batas wilayah yang kuat. Termasuk di dalam upaya ini adalah pengelolaan aspek-aspek budaya. Maluku dengan karakter geografisnya yang khas sebagai wilayah kepulauan, merupakan rumah bagi 19 dari 111 pulau terdepan di Indonesia. Himpunan pulau terdepan di Maluku ini berbatasan langsung dengan wilayah Australia dan Timor Leste. Penelitian ini merupakan aktitifas ilmiah untuk menemukenali sumber daya arkeologi dan pusaka budaya yang ada di pulau-pulau terdepan di Maluku. Riset ini juga merupakan bentuk kontribusi studi arkeologi dalam pengembangan budaya dan pendidikan masyarakat di pulau-pulau terdepan dan kawasan perbatasan di Maluku dan Indonesia

Kata kunci; Arkeologi, Pulau Terdepan, Maluku, Tanimbar

6. KESULTANAN TERNATE; TOPONIM PERMUKIMAN DAN PERKEMBANGAN PUSAT KESULTANAN ISLAM DAN PENGARUHNYA DI PULAU-PULAU SEKITAR.

Rumusan Masalah Fokus penelitian yang didasarkan pada data arkeologi di wilayah spesifik Tidore Kepulauan, berupaya menjelaskan secara lebih detail tentang perkembangan Islam di wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore sebagai salah satu pusat kekuasaan Islam di wilayah Maluku. Selain itu berdasasrkan riwayat penelitian sebelumnya, juga penting ditelusuri jejak pusat kedatong Tidore, kronologi dan proses perpindahan pusat kedaton Tidore sebelum di wilayah Soa Sio hingga saat ini. Dalam konteks penelitian ini sebagaimana yang sudah diuraikan sebelumnya adalah melihat perkembangan Islam dan sekaligus peran Kesultanan Tidore dalam proses penyebaran dan perkembangan Islam di wilayah kekuasaannya. Dalam pengertian yang lebih luas, penelitian ini berupaya menjelaskan perkembangan Islam di wilayah Tidore Kepulauan, berdasarkan data arkeologi sejarah yang ditemukan di lapangan. Deskripsi Islam yang lebih jelas, tampaknya dapat ditelusuri melalui karakteristik budaya yang terbentuk, serta tergambar berdasarkan rekam data arkeologi yang ada. Selain itu karakteristik Islam dapat ditemukan berdasarkan tata ruang kota, perkembangan pemukiman, pemerintahan dan aktivitas perdagangan yang melibatkan Kesultanan Tidore. Berdasarkan hal itu, maka rumusan masalah penelitian ini dapat dijabarkan dalam pertanyaan penelitian berikut ini : 1. Bagaimana perkembangan pemukiman pada masa pengaruh Islam dan bagaimana kronologi perpindahan dan proses yang melatarbelakangi perpindahan pusat Kesultanan Tidore? 2. Bagaimana pengaruh pusat kekuasaan islam Tidore terhadap kawasan pulau-pulau sekitarnya Berdasarkan permasalahan tersebut, sesungguhnya penelitian arkeologi ini selain hendak menelusuri gambaran pengaruh Islam berdasarkan data arkeologi juga menemukan relasi-relasi yang terbentuk diantara berbagai intrumen kekuasaan Islam yang terbangun, baik menyangkut struktur pemerintahan, perdagangan dan elemen-elemen kota yang membentuk Tidore sebagai pusat kekuasaan Islam sekaligus pusat perniagaan atau perdagangan.

7. ISLAMISASI DI KAWASAN KEPULAUAN KEI; KONTAK BUDAYA DAN JARINGAN PERDAGANGAN ABAD 16-19M

Abstrak : Penelitian arkeologi di wilayah Kepulauan Kei adalah sebuah penelitian yang hendak menjelaskan tentang jalur dan proses Islamisasi di wilayah Kepulauan Kei Maluku Tenggara. Pentingnya penelitian ini dilakukan, mengingat minimnya atau bahkan masih kosongnya kajian data arkeologi sejarah Islamisasi di wilayah tersebut. Kepulauan Kei, sejarah geografis berada pada titik persilangan jalur lintasan perairan antara wilayah Pulau Seram dan Banda dengan wilayah Kepulauan Aru dan Papua. Selain itu secara tidak langsung maupun langsung juga berhubungan dengan pusat-pusat Islamisasi yang selama ini dikenal berasal dari Ternate dan Tidore. Melihat keletakan geografisnya, Kepulauan Kei strategis sebagai lintasan jalur Islamisasi, sekaligus juga jalur perdagangan diantara berbagai wilayah di Kepulauan Maluku, baik wilayah yang sekarang meliputi Provinsi Maluku maupun Maluku Utara. Selain itu mengingat Kepulauan Kei merupakan daerah kepulauan yang terdiri dari banyak pulau baik pulau besar maupun pulau kecil, menarik dikaji hubungan antar pulau baik dalam kerangka gerak penyebaran Islam maupun perdagangan. Mengingat daerah kepulauan, maka mengkaji proses Islamisasi, perdagangan, kontak budaya, maka secara otomatis juga memperbincangkan dinamika budaya maritim yang melekat di dalamnya. Dengan demikian penelitian ini adalah studi untuk menjawab tentang topik hubungan antar pulau di wilayah Kepulauan Kei, baik dalam kerangka proses Islamisasi, perdagangan maupun kontak-kontak budaya antar pula dan sekaligus dinamika kemaritiman. Penelitian ini dilakukan melalui survei dan ekskavasi arkeologi, sekaligus melalui pendekatan studi lintas budaya dan agama. Oleh karena itu penelitian ini selain menitik beratkan pada survei arkeologi dan ekskavasi serta observasi lapangan, juga melakukan banyak wawancara mendalam diantara berbagai penduduk di pulau- pulau yang diteliti. Wawancara etnografi secara mendalam dan observasi berbagai kegiatan ritual dan kehidupan sehari-hari penduduk, merupakan bahan analogi yang penting dalam proses interpretasi arkeologis. Berdasarkan metode-metode yang diterapkan secara sistematis, diharapkan penelitian ini menemukan berbagai penjelasan dan pemahaman-pemahaman baru berbagai penduduk maritim dalam kehidupan religi, ekonomi maupun kebudayaannya, sehingga menjadi masukan berharga dalam konteks pengembangan kawasan maritimsekaligus pembangunan aspek sosial diantara penduduk di pulau-pulau terpencil di kawasan Kepulauan Kei, Maluku Tenggara.

Kata Kunci : Islamisasi, kontak budaya, perdagangan , Kepulauan Kei

8. ARKEOLOGI DIASPORA PUSAKA; MENELUSURI PERSEBARAN BENDA BUDAYA KEPULAUAN MALUKU TENGGARA DI INDONESIA

Abstrak; Kepulauan Maluku Tenggara dipandang sebagai salah satu wilayah kunci dalam kajian arkelogi di Kepulauan Asia Tenggara-Australia/Oseania. Posisi strategis kepulauan ini sebagai salah satu kemungkinan kawasan jembatan dalam proses awal hunian paparan sahul, kedudukannya dalam proses kolonisasi penutur bahasa Austronesia dan peran sebagai salah satu wilayah sumber komoditi eksotik dalam 2000 tahun terakhir adalah beberapa aspek yang membentuk nilai penting kawasan ini. Salah satu penanda khas dalam profil arkeologi dan sejarah budaya Kepulauan Maluku Tenggara adalah keberadaan himpunan budaya bendawi masa lalu sebagai manifestasi materi sejarah budaya  wilayah ini di berbagai instiitusi dan individu. Mulai dari museum, lembaga yang terkait dengan sejarah, kebudayaan dan pusaka, masyarakat dan komunitas spesifik hingga individu dengan minat pada benda budaya wilayah ini. Baik di Maluku, Indonesia hingga manca negara. Diaspora beragam benda budaya asal Kepulauan Maluku ini tentu merupakan hasil sebuah proses panjang kontak interaksi dan mobilitas di masa lalu. Pemahaman tentang bagaimana proses ini terjadi kiranya dapat memberikan pengetahuan tentang dinamika sosial masa lalu di Kepulauan Maluku dan interaksinya dengan wilayah-wilayah lain. Penelitian ini mencoba melakukan studi awal untuk mendata sebaran benda budaya dan pusaka asal Kepulauan Maluku Tenggara yang ada di Museum di Indonesia. Perluasan cakupan pengamatan dapat meliputi lembaga dan individu terkait. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan, survey, wawancara dan telaah biografi budaya bendawi. Diharapkan hasil studi ini dapat memberikan pengetahuan awal sebagai dasar untuk menemukenali spektrum geografi dan historis  terkait diaspora benda budaya asal Kepulauan Maluku di Indonesia dan dunia; serta memberikan kontribusi bagi studi

Kata Kunci; Pusaka, Diaspora, Kepulauan Maluku Tenggara, Museum

9. MANUSIA, BUDAYA DAN LINGKUNGAN PURBA DI KEPULAUAN NUSANTARA. MANUSIA DAN TRADISI BUDAYA PRASEJARAH DI KEPULAUAN KEI, PROVINSI MALUKU

Abstrak : Bentuk Kepulauan Kei, Maluku yang memanjang secara vertikal dari utara ke selatan menghubungkan Kepulauan Aru pada sebelah timur, Kepulauan Banda pada bagian barat, Tanimbar pada bagian selatan, kawasan Seram Timur dan Papua Barat pada bagian Utara mendominasi dalam jalur perlintasan utara-selatan dan barat-timur dalam kawasan regional. Letak geografis Kepulauan Kei, Maluku mendominasi perlintasan regional sangat menarik untuk diteliti, dengan fokus permasalahan bagaimana manusia dan tradisi budaya masa prasejarah di Kepulauan Kei, Maluku. Bagaimana cara, prilaku, tradisi, tindakan dan pengetahuan yang melatar belakangi hal bertahan hidup terhadap lingkungan Kepulauan Kei, Maluku yang terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil. Tujuan penelitian adalah pertama untuk mengetahui dam memahami bagaimana manusia dan tradisi budaya masa prasejarah di Kepulauan Kei, Maluku. Kedua Untuk mengidentifikasi potensi arkeologi manusia dan tradisi budaya masa prasejarah di Kepulauan Kei, Maluku. Ketiga Untuk mengetahui dan memahami karakteristik manusia dan tradisi budaya masa prasejarah di Kepulauan Kei, Maluku. Manfaat penelitian diharapakan Pertama memberikan kontribusi kongkrit terkait pembangunan manusia kepulauan di nusantara. Kedua sumbangan pemikiran untuk penelitian lanjutan. Ketiga Sumbangan pemikiran kepada pengambil kebijakan Pemerintah Pusat, Daerah, Kota/Kabupaten terkait pembangunan manusia dan kebudayaan. Keempat Kontribusi kepada dunia pendidikan dalam bentuk buku pengayaan. Metode penelitian yang digunakan adalah eksploratif etnografi dengan teknik pengumpulan data survey, wawancara dan studi pustaka.

Kata kunci : Arkeologi Kepulauan Kei Maluku Tenggara, manusia, tradisi dan budaya prasejarah.

10. PENELITIAN ARKEOLOGI KEMARITIMAN BUDAYA AKHIR MASA PLEISTOSEN AWAL HOLOSEN DI KEPULAUAN MALUKU. TRADISI GAMBAR CADAS DI KEPULAUAN MALUKU.

Abstrak : Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana kosmologi Orang Kisar berdasarkan motif-motif gambar cadas. Fokus dalam penelitian ini adalah untuk merekonstruksi motif-motif gambar cadas hubungannya dengan tradisi Orang Kisar, Maluku Barat Daya. Tujuan penelitian adalah pertama untuk mengetahui bentuk-bentuk motif gambar cadas Orang Kisar, Maluku Barat Daya. Kedua untuk mengetahui dan memahami kosmologi Orang Kisar berdasarkan motif-motif gambar cadas. Ketiga memberikan informasi penting kepada arkeologi dalam merekonstruksi kebudayaan Orang Kisar. Kenapa (Orang) Kisar menjadi penting dalam konstalasi isu dimaksud, karena pertama Pulau Kisar, Maluku Barat Daya merupakan gugusan kepulauan terdepan di wilayah administrasi Provinsi Maluku. Secara geografis Pulau Kisar berbatasan langsung dengan Timor Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada bagian barat dan Australia pada bagian selatan. Kedua terdapat beberapa kelompok masyarakat dalam struktur masyarakat Orang Kisar, yaitu Orang Meher dan Oirata. Ketiga temuan situs gambar cadas pada tahun 2015. Metode penelitian menggunakan pendekatan etnoarkeologi, dengan teknik pengumpulan data studi pustaka, survei dan observasi serta wawancara. Hasil yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah data klasifikasi tentang sebaran situs gambar cadas, klasifikasi bentuk motif gambar cadas serta knowledge value Orang Kisar berdasarkan gambar cadas terhadap living tradition.

Kata kunci : Kosmologi, gambar cadas, Orang Kisar Maluku Barat Daya, Kepulauan Maluku.

11. PENELITIAN MEGALITIK DI GARIS KHATULISTIWA PROVINSI MALUKU UTARA (TAHAP II)

Abstrak : Penelitian Megalitik Garis Khatulistiwa Provinsi Maluku Utara merupakan penelitian lanjutan tahap kedua, yang melanjutkan penelitian sebelumnya. Penelitian ini akan menitik beratkan perhatian atau focus  pada hasil penelitian sebelumnya yaitu Situs Mamuya yang terletak di Desa Mamuya Kecamatan Galela Kabupaten Halmahera Utara. Menindak lanjuti hasil penelitian sebelumnya, pada penelitian ini akan dilakukan eksplorasi terhadap karakter situs yang mencakup temuan dan lapisan budaya, serta jejak etnoarkeologi melalui tradisi megalitik yang masih berlanjut. Metode yang diterapkan adalah metode survey, ekskavasi, dan wawancara. Hasil penelitian diharapkan akan dapat menggambarkan karakter Situs Mamuya, kronologi situs, dan keberlanjutan tradisi megalitik.

Kata Kunci : Megalitik, Tradisi Berlanjut, Halmahera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.