web analytics

SEKOLAH MULTIBUDAYA dalam RUMAH PERADABAN BANDA 2016

           Menurut Wuri Handoko, koordinator kegiatan Rumah Peradaban Banda, kegiatan sekolah Multibudaya adalah, kegiatan kelas siswa pelajar untuk memberikan pemahaman tentang multikulturalisme atau multibudaya yang tumbuh sebagai cikal bakal maupun dalam perkembangan kekinian pada masyarakat Banda. Pemberian materi sekolah budaya, selain memperkenalkan berbagai data monumental cagar budaya yang dapat menjelakan tentang kehidupan multibudaya di Banda sejak masa lampau, maupun perkembangan budaya kekinian. Pendidikan multibudaya, merupakan ajang pembelajaran kalangan pelajar untuk memahami multikulturalisme di Maluku, sebagai realitas yang memiliki kearifan lokal (local wisdom) sebagai modal sosial yang dapat mempersatukan orang Maluku, ketika menghadapi persoalan dan tantangan bersama. Kearifan lokal dimaksud baik dalam bentuk  “institusi” seperti Pela -Gandong, Siwalima, maupun dalam bentuk ungkapan-ungkapan seperti “Ale rasa beta rasa ” (anda rasa saya rasa, artinya ketika anda merasakan dan  mengalami sesuatu, baik senang maupun susah, saya juga merasakan hal tersebut), “Sagu salempeng dipatah dua ” (sagu satu buah dibagi dua), “Potong di kuku rasa di daging ” (potong di kuku rasa di daging, artinya seseorang mengalami susah atau sakit, orang lain  merasakannya juga),  “Manggurebe maju” (berlomba untuk maju), dan sebagainya. Berbagai kearifan lokal ini melekat dalam kehidupan orang Maluku dan merupakan suatu keniscayaan sosial, bersifat kodrati dan tak dapat disangkal karena lahir dari sebuah proses  sejarah bersama yang panjang sebagai penemuan jati diri orang Maluku yang mendasar.

Kegiatan ini meliputi dua aspek, pertama pembekalan atau pemberian materi secara singkat mengenai isu-isu multibudaya baik dalam lingkup khususnya Kepulauan Banda, Maluku ataupun lingkup Nusantara. Kedua : dinamika kelompok, untuk menggali pengalaman dan pemahaman siswa tentang isu multibudaya yang mereka pahami.

  • Penjelasan Materi Belajar. Narasumber memberikan materi secara singkat, lugas, sederhana dan mudah dicerna oleh siswa (SLTP dan SLTA) tentang pemahaman multibudaya berdasarkan pengetahuan dan pengalaman risetnya. Jika diperlukan panitia menyiapkan modul singkat tentang pendidikan multikulturalisme/multibudaya (optional). Hal-hal yang penting dapat dicatat pada kertas plano untuk membantu siswa lebih mudah menangkap isi materi. Materi diperluas dengan memberikan contoh-contoh berdasarkan tinggalan budaya benda (arkeologi). Dalam hal ini alat peraga berupa banner-banner pameran dapat digunakan.
  • Dinamika kelompok. Di sesi ini peran fasilitator sangat dibutuhkan. Siswa diarahkan untuk menggali pengalaman dan pengetahuannya tentang multibudaya yang mereka pahami. Siswa bertutur tentang pengalaman masa kecil hingga saat sekarang. Fasilitator diharapkan dapat menggali pengalaman masa kecil hingga masa sekolah, untuk mengetahui pengalaman siswa misalnya tentang persahabatan dengan sahabat dari suku dan agama yang berbeda. Sesi dinamika kelompok juga dapat dilakukan dengan meminta siswa untuk saling mengenal satu dengan lainnya. Yel-yel, semangat membangun kerjasama, soliditas persahabatan dan keakraban, dimulai dari sikap mental membangun kebersamaan. Yel-yel, adalah salah satu cara yang umum digunakan untuk membangun semangat kebersamaan dan soliditas. Fasilitator dapat mengarahkan siswa untuk membuat yel-yel, baik secara berkelompok ataupun secara keseluruhan. Untuk memberi semangat bersama, yel-yel menggunakan kata kunci “katong basudara” ataupun “ kita beda tapi bersaudara”.

 TUJUAN Sekolah Multibudaya diharapkan dapat menanamkan sikap mental siswa, tentang persahabatan, keakraban, dan persaudaraan diantara berbagai perbedaan dalam kehidupan bersosial masyarakat. Fasilitator dialog, berperan mengarahkan jalannya diskusi, agar dapat berjalan multi arah. Dalam hal ini, lancarnya diskusi sangat ditentukan oleh kepiawaian fasilitator dalam mengarahkan jalannya diskusi. Fasilitator diskusi, juga dapat menggali berbagai pengetahuan siswa dan pengalaman multibudaya yang selama ini dipahami dan dialami oleh siswa melalui dinamika kelompok. Fasilitator didmpingi co fasilitator yang bertugas membantu pencatatan dalam kertas metaplan atau kertas plano yang ditempelkan di papan tulis, sehingga bisa terbaca oleh seluruh peserta. Dari kertas-kertas meta plan atau catatan di kertas plano, akan terlihat klasifikasi masalah atau isu yang akan dipecahkan secara bersama antara peserta dan narasumber. Selain itu juga ada notulensi untuk mencatat sedetail mungkin proses jalannya diskusi. Bertindak sebagai fasilitator adalah tokoh pemuda Anwar Saban (Pak Ancha) yang juga aktivis lingkungan dari LSM PARNEG (Parduli Negeri) sebuah LSM yang aktif melakukan advokasi lingkungan di wilayah Pulau Banda, serta co fasilitator adalah aktivis wanita Juana Assidiq.

Narasumber memberikan materi tentang multibudaya nusantara, Maluku dan Banda khususnya serta mengajak diskusi dan dialog, berperan sebagai pengamat dan penanggap proses jalannya diskusi dan dialog serta memberikan penjelasan singkat berdasarkan ruang lingkup pengetahuan dan pengalaman riset tentang multibudaya kepada para siswa untuk lebih memahami tentang isu-isu keberagaman masyarakat nusantara sebagai sebuah keniscayaan.

Kegiatan berlangsung secara terbuka di tempat yang terbuka dengan suasana yang santai dan cair, membaur antara para peserta, panitia, penanggap (narasumber) maupun masyarakat lain di sekitar lokasi kegiatan. Kegiatan berlangsung secara terbuka di tempat yang terbuka dengan suasana yang santai dan cair, membaur antara para peserta, panitia, penanggap (narasumber) maupun masyarakat lain di sekitar lokasi kegiatan. Narasumber Sekolah Multibudaya adalah Prof Naniek Harkantiningsih (Puslit Arkeologi Nasional  Dr. Usman Thalib (Tokoh Masyarakat Banda, sejarawan Universitas Pattimura)  dan Dr. Yance Rumahuru (Staf Pengajar STAKPN Ambon). (WH)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.