web analytics

Rumah Peradaban Banda 2016 : “Bincang-Bincang Basudara”

Dalam Program Rumah Peradaban Banda 2016, Balai Arkeologi Maluku menggelar kegiatan dengan masyarakat Banda, yang meliputi dua aspek perbincangan yakni Diskusi Komunitas dan Dialog Peradaban Orang basudara, yang masing-masing mengangkat topik yang berbeda namun bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat Banda secara umum tentang perkembangan Banda di masa yang
akan datang. Diskusi komunitas, kegiatan diskusi ini adalah sarana mempertemukan berbagai komunitas yang ada di Pulau Banda, baik komunitas adat, pencinta seni dap_20161109_160747n budaya, komunitas pelestari lingkungan dan sebagainya. Kegiatan diskusi, adalah mempertemukan berbagai pendapat, ide dan gagasan menyangkut problem-problem yang berhubungan dengan sumberdaya arkeologi, sumberdaya budaya, peran-peran masyarakat di dalamnya, berbagai dampak pelestarian dan pembangunan bagi tumbuhnya kesadaran kolektif komunitas dan sebagainya. Kegiatan ini juga sebagai ajang mempertemukan para stakeholder kebudayaan, untuk duduk bersama dalam level kesetaraan guna mendiskusikan tentang aspek-aspek kebudayaan setempat. Diskusi komunitas dimaksudkan untuk saling curah pendapat, saling berbagai pengetahuan dan wawasan diantara para stakeholder dalam rangka mengelola sumberdaya budaya bagi modal budaya dan modal sosial pembangunan. Kegiatan ini dilakukan secara inklusif (terbuka) dengan melibatkan komunitas adat atau masyarakat lokal lainnya. Kegiatan ini selain sebagai sarana menyambungkan saling komunikasi antara pemerintah dengan komunitas atau masyarakat di wilayah setempat. Kegiatan ini menjadi ajang pemebelajaran dan pendidikan bersama, pendidikan orang dewasa terhadap pentingnya kekayaan sumberdaya budaya sebagai modal pembangunan karakter dan jati diri bangsa. Metode Diskusi Komunitas dapat dilakukan melalui metode brainstorming, Focus Grups Discussion (FGD), Sarasehan dan sebagainya. Dialog Peradaban Orang Basudara, Kegiatan ini dirancang untuk mempertemukan berbagai kalangan masyarakat setempat dari berbagai negeri di wilayah Kecamatan Pulau Banda. Kegiatan dirancang dalam bentuk dialog interaktif yang memperbincangkan tentang pentingnya menanamkan nilai-nilai persaudaraan bagi semua kalangan masyarakat lintas agama dan budaya. Fasilitator kegiatan bertindak untuk menginisiasi dialog tentang pentingnya membangun tradisi dialog Orang Banda yang multikultur sebagai tradisi orang basudara mengingat sejarah lokal di Pulau Banda sebagai ajang bertemunya banyak suku bangsa yang hadir dan turun temurun menjadi masyarakat Banda yang berkembang sampai saat kini. Kegiatan ini adalah ajang mempertemukan kalangan masyarakat dari berbagai negeri di Kecamatan Pulau Banda, lintas agama dan lintas budaya, melalui dialog yang santai, terbuka dan dilandasi semangat persaudaraan dan cita-cita bersama membangun Banda sebagai daerah percontohan bagi tumbuh suburnya kehidupan dan tradisi orang basudara di Maluku, dalam upaya mendukung Banda sebagai Kawasan Strategis Nasional dan World Heritage.

p_20161109_143417

 Adapun tujuan dan sasaran program ini antara lain; a. Meningkatkan wawasan pengetahuan kalangan pelajar dan masyarakat umum (komunitas) tentang pentingnya warisan budaya sebagai sumberdaya pembangunan,  b. Meningkatkan apresiasi publik terutama generasi muda, pelajar dan komunitas terhadap tinggalan budaya, khususnya di wilayah Kepulauan Banda dalam rangka memperkuat karakter masyarakat dan jatidiri bangsa, c.  Memperkenalkan dan mendekatkan obyek peninggalan budaya masa lampau kepada masyarakat, agar lebih memaknai secara positif keberadaan tinggalan budaya dan mencintai untuk melestarikannya, d. Mensosialisasikan hasil-hasil penelitian arkeologi di wilayah Kepulauan Banda sebagai sarana atau media pendidikan dan peningkatan wawasan dan pengetahuan terhadap warisan budaya dan kearifan lokal, e. Meningkatkan rasa mencintai dan kepedulian masyarakat terhadap obyek peninggalan arkeologi sebagai salah satu sumberdaya yang penting untuk peningkatan pembangunan dan f. Menemukan kesepahaman para pihak (stakeholder) dalam upaya pemanfaatan, pengembangan dan pelestarian sumberdaya budaya (arkeologi) untuk mendukung pembangunan daerah dan nasional. Kegiatan ini meliputi dua topik utama, yang meliputi pertama, topik tentang aspek-aspek yang berhubungan dengan pengelolaan cagar budaya dan asset kekayaan Banda untuk sebesar-sebesarnya kepentingan masyarakat. Diskusi topik dimasukkan dalam ranah diskusi komunitas. Topik kedua menyangkut aspek sosial budaya masyarakat pendukungan kawasancagar budaya sekaligus wacana banda sebagai warisan dunia.

Perbincangan pada dasarnya membahas soal isu-isu kekinian tentang keberadaan Cagar Budaya di wilayah Pulau Banda, meliputi  Materi tentang manfaat keberadaan cagar Budaya, sejak dulu hingga perkembangannya kini. Dampak ekonomi kekayaan sumberdaya budaya dan alam bagi peningkatan kesejahteraan penduduk Peran serta komunitas dan masyarakat lokal dalam pengelolaan cagar budaya. selain itudalam level kesetaraan memperbincangkan dinamika perkembangan multibudaya masyarakat Banda. Perbincangan lebih menekankan  aspek sosial budaya dalam rangka mempersiapkan banda sebagai Warisan Dunia, antara lain; Problem sosial ekonomi masyarakat Banda sebagai kawasan wisata budaya; Peran serta masyarakat dan pemberdayaan sosial ekonomi;Dinamika hubungan sosial masyarakat Banda sejak dulu dan perkembangan kekinian.

Peserta berasal dari komunitas dan masyarakat Banda, yang diharapkan dapat mewakili pihak-pihak berkepentingan (stakeholder) masyarakat. Unsur-unsur yang terwakili diantaranya tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, pemerintah lokal, komunitas pemuda, komunitas pemandu wisata (guide), komunitas pelaku atau praktisi pariwisata lainnya (pengelola agen perjalanan, pengelola hotel, dan sebagainya). Dalam pendekatan Pendidikan Orang Dewasa, Peserta pada prinsipnya adalah juga narasumber, oleh karena itu, diskusi berlangsung secara terbuka dan dalam level yang setara. Metode kegiatan melalui pendekatan pendidikan orang dewasa (POD) melalui metode diskusi dan dialog. Diskusi bersifat cair baik melalui metode focus grup dip_20161024_111520skusi maupun brainstorming (curah pendapat). Fasilitator mengorganisasi jalannya diskusi dan dibantu co fasilitator untuk mencatat isu-isu penting dan membuat klasifikasi isu dengan menuliskan di kertas metaplan yang ditempelkan di papan tulis sehingga dapat dilihat dan ditang
gapi lebih lanjut baik oleh peserta maupun penanggap (nar
asumber). Selain itu juga notulensi untuk mencatat secara lengkap proses jalan
nya diskusi dan dialog. Fasilitator dialog, berperanmengarahkan jalannya diskusi, agar dapat berjalan multi arah. Dalam hal ini, lancarnya diskusi sangat ditentukan oleh kepiawaian fasilitator dalam mengarahkan jalannya diskusi. Fasilitator diskusi berasal dari komunitas yang sebelumnya sudah dipersiapkan melalui pertimbangan penyelenggara dan diberi pembekalan secukupnya. Fasilitator didmpingi co fasilitator yang bertugas membantu pencatatan dalam kertas metaplan atau kertas plano yang ditempelkan di papan tulis, sehingga bisa terbaca oleh seluruh peserta. Dari kertas-kertas meta plan atau catatan di kertas plano, akan terlihat klasifikasi masalah atau isu yang akan dipecahkan secara bersama antara peserta dan narasumber. Selain itu juga ada notulensi untuk mencatat sedetail mungkin proses jalannya diskusi. Narasumber diskusi dan dialog, berperan sebagai pengamat dan penanggap proses jalannya diskusi dan dialog serta emberikan penjelasan singkat berdasarkan ruang lingkup kewenangan tugas fungsinya, pengetahuan dan kepakarannya dalam menanggapi isu-isu yang berkembanng dalam diskusi. Kegiatan berlangsung secara terbuka di tep_20161109_161249mpat yang terbuka dengan suasana yang santai dan cair, membaur antara para peserta, panitia, penanggap (narasumber) maupun masyarakat lain di sekitar lokasi kegiatan. Narasumber diskusi antara lain Dr, Usman Thalib, tokoh masyarakat Banda, sekaligus seorang akademisi yang populer dalam berbagai penulisan sejarah di Maluku dan juga Banda khususnya. Narasumber lainnya adalah Prof Bambang Sulistyanto, mantan Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional sekaligus ahli dalam bidang resolusi konflik pengelolaan Cagar Budaya. Prof Naniek Harkantiningsih seorang arkeolog wanita satu-satunya yang menyandang Prof. Riset di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, seorang yang berpengalaman dan pakar dalam penelitian arkeologi sejarah, terutama yang berhubungan dengan jaringan perdagangan dan jalur rempah. Dr. Yance Rumahuru, staf pengajar STAKPN Ambon, yang giat melakukan penelitian tentang multibudaya, turut berbagi pengalaman dengan masyarakat Banda, serta Drs. Nur Alam Parjono, Kepala BPCB Ternate, yang saat ini sedang konsen dan memberi perhatian penuh tentang perkembangan pengelolaan Cagar Budaya di Pulau Banda. Dalam dialog yang sangat cair dan santai serta dalam level kesetaraan dan semangat basudara seluruh narasumber dan wakil para tokoh masyarakat Banda, saling berbincang, bertukar pikiran, mengemukakan masalah, menemukan solusi dan merencanakan bersama komunitas tentang Banda ke depan sebagai warisan dunia. (WH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.