web analytics

Rekonstruksi Spasial Permukiman Benteng Amaiha, Pulau Saparua Abad 17

Atas: Ilustrasi Benteng Amaiha pada tahun 1632 (sisi kiri adalah arah Utara) Bawah: lanskap Bukit Benteng Amaiha saat ini (Sumber: Landwehr, 1991, Balai Arkeologi Maluku 2018)

Pattiasina (2014: 32) menyebutkan bahwa Iha adalah permukiman Islam yang terletak di bagian Utara Pulau Saparua. Negeri Iha dipimpin oleh seorang raja bernama Latu Sopacualatu yang berada di puncak gunung Ulupaluw. Lestaluhu (1988: 203) mendeskripsikan letak geografis wilayah ini, yaitu Negeri Iha terletak di sisi Utara Pulau Saparua di daerah yang membujur panjang terdiri dari daratan hutan yang subur sepanjang pesisir pantai. Lebih jauh dideskripsikan bahwa dari udara tampak bentang alam menyerupai bentuk sebuah perahu yang terdiri dari tanah datar di pesisir pantai dan bergunung bila telah masuk ke dalam hutan rimba. Pada bagian Tenggara Pulau Saparua adalah lokasi Negeri Sirisori (Honimoa) yang membujur ke arah Timur dengan tanah yang sangat subur yang juga tampak bentang alam menyerupai bentuk perahu. Bentukan bentang alam tersebut menyebabkan Pulau Saparua dikenal dengan istilah „Sapanolua‟ yang artinya sampan dua atau dua buah sampan.

Negeri Amaiha, Ihamahu, atau Iha dalam sejumlah riwayat tertulis merupakan salah satu wilayah permukiman yang cukup ramai di abad 17. Berdasarkan data yang bersumber pada catatan VOC, Pusat Negeri Amaiha dideskripsikan berada di atas dataran bukit yang dibatasi oleh dinding benteng batu yang mengelilingi area Pusat Negeri Berdasarkan penelusuran data yang pernah dilakukan di lokasi Situs Benteng Amaiha, area benteng ini berada di ketinggian sekitar 130 mdpl, di koordinat sisi paling Selatan 3°30’26.53″ LS dan 128°41’51.70″ BT, memanjang ke Utara sekitar 800 meter, yaitu sisi paling Utara di 3°30’3.88″ LS dan 128°41’57.24″ BT, dengan luasan area benteng sekitar 260.155 m2. Benteng Amaiha tergambar cukup jelas dalam beberapa ilustrasi yang dibuat oleh VOC pada abad 17. Data berupa dokumen ilustrasi dan catatan VOC yang menggambarkan keberadaan Benteng Amaiha menunjukkan Negeri Amaiha menempati posisi yang relatif diperhitungkan dalam riwayat sejarah VOC di wilayah Maluku. Hal tersebut cukup dapat dimengerti mengingat Negeri Amaiha turut tercatat sebagai salah satu lokasi yang terlibat dalam peristiwa yang dapat dinilai cukup kolosal, yaitu peristiwa „The Great Ambon War‟ atau „Perang Ambon Raya.‟ Dalam riwayat yang tercatat dalam dokumen VOC, peristiwa Perang Ambon Raya berlangsung dari tahun 1629 sampai dengan 1656 yang terjadi hampir di setiap permukiman masyarakat lokal terutama pusat-pusat niaga cengkih di sepanjang Pulau Seram, yaitu Jazirah Huamual hingga ke Kepulauan Gorom, dan Kepulauan Ambon Lease, termasuk Pulau Saparua. Penamaan peristiwa „Perang Ambon Raya‟ merujuk pada catatan VOC yang juga disebut sebagai salah satu peristiwa penting yang menjadi dasar pijakan kuat VOC dalam penguasaan mutlak atas monopoli perdagangan rempah-rempah di tanah Maluku hingga waktu bertahun-tahun ke depan.

Pulau Saparua yang terletak di dalam gugusan Kepulauan Ambon Lease memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Maluku, terutama pada periode perkembangan Islam dan Kolonial. Pulau Saparua pada masa lampau tumbuh peradaban Islam yang cukup maju, yang melahirkan kerajaan-kerajaan Islam Pulau Saparua yang cukup dikenal, yaitu Kerajaan Iha dan Kerajaan Sirisori. Selain kedua kerajaan itu, masih terdapat pula satu negeri adat berkarakter negeri Islam, yakni Kulur. Namun Kerajaan Iha dan Sirisori dianggap mewakili peradaban Islam yang lebih berkembang pada masa lampau. Hal ini dapat dilihat dari berbagai penuturan tradisi lisan masyarakat lokal, maupun referensi kolonial yang relatif sejaman. Pulau Saparua juga merupakan lokasi primer dalam perolehan data sejarah Kolonial di Maluku. Pada masa kolonial, Pulau Saparua merupakan lokasi yang paling penting di Kepulauan Lease setelah Pulau Ambon, tampak jelas berdiri sejumlah bangunan dan tinggalan struktur benteng yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kolonial sekaligus pusat pertahanan pertahanan, dengan fitur utama yaitu Benteng Duurstede. Posisi Pulau Saparua yang sibuk menjadi bagian dari Pusat perdagangan VOC memicu pertumbuhan permukiman yang ramai dengan berdirinya bangunan-bangunan tua berciri kolonial yang sebagian masih dapat dijumpai hingga kini.

Mujabuddawat (2018) melakukan perekaman data geospasial di area Benteng Amaiha melalui pengumpulan data atribut geografis setiap objek data arkeologi dan perekaman data spasial melalui citra udara. Perekaman data geospasial ini merupakan bagian dari metode untuk membantu analisis dalam upaya merekonstruksi denah permukiman Benteng Amaiha dalam perspektif keruangan. Dalam sejumlah arsip ilustrasi VOC yang relatif menjadi salah satu rujukan paling otentik, Benteng Amaiha digambarkan sebagai benteng pertahanan sekaligus permukiman pusat Kerajaan Amaiha. Gambaran tersebut juga didukung dengan keterangan ilustrasi VOC yang menyertainya, juga penuturan masyarakat lokal yang kurang-lebih serupa. Dalam berbagai catatan arsip VOC yang diperoleh, beserta referensi sejarah yang terpublikasi, Benteng Amaiha dideskripsikan sebagai area pusat Kerajaan Amaiha yang terlindungi dengan kombinasi dinding batu karang alami dan struktur susunan batu karang yang dibangun mengelilingi area permukiman.

Peta Pulau Saparua
(Sumber: Basemap Badan Informasi Geospasial, dimodifikasi oleh Mujabuddawat)

Secara umum, sasaran observasi yang menjadi target capaian dalam desk study ini antara lain:

  1. Menghimpun kembali data inventaris hasil penelitian arkeologi di Pulau Saparua
  2. Penelusuran data referensi kepustakaan, terutama data referensi faktual abad 17 s.d. 19sebagai upaya persiapan kegiatan riset setelah desk study

Sebaran lokasi fitur arkeologi di area Situs Permukiman Benteng Amaiha dalam bentang Citra Udara
(Sumber: Balai Arkeologi Maluku, 2020)

Rekonstruksi denah spasial area Benteng Amaiha dalam bentang citra udara
(Sumber: Balai Arkeologi Maluku, 2020)

Deskripsi dan Analisis:
Rekonstruksi spasial / denah permukiman Benteng Amaiha abad 17 berdasarkan data hasil penelitian arkeologi yang sudah dilakukan hingga 2019.

Rekonstruksi denah spasial area Benteng Amaiha dalam bentang peta topografi yang dimodifikasi
(Sumber: Balai Arkeologi Maluku, 2020)

Penelitian desk study ini menitikberatkan pada dua tujuan, yaitu menelusuri riwayat sejarah dan merekonstruksi denah spasial area Benteng Amaiha. Dalam upaya analisis riwayat sejarah Benteng Amaiha, dilakukan dengan cara analisis studi pustaka terhadap sejumlah referensi terkait, baik yang sudah terpublikasi, referensi otentik yang relatif sejaman, informasi dari ahli sejarah Maluku, data wawancara masyarakat dan pemerhati budaya setempat pada penelitian tahun 2018, serta referensi terkait tradisi lisan yang masih dapat ditelusuri. Data spasial yang digunakan dalam upaya rekonstruksi denah Benteng Amaihmerupakan data permukaan yang diperoleh pada penelusuran lapangan di tahun 2018 Perolehan data yang tersedia antara lain, data citra udara, data spasial sebaran fitur, danartefaktual, serta data dokumentasi foto.

Kondisi area Benteng Amaiha sejak ditinggalkan pada abad 17 hingga sekarang, secara kasat mata hampir sepenuhnya rata dengan tanah. Sejumlah objek tinggalan arkeologi baik berupa data artefaktual dan fitur masih dapat dijumpai. Sejumlah objek fitur masih dikeramatkan hingga saat ini sehingga kondisinya relatif terjaga, namun berdasarkan dokumentasi penelusuran data arkeologi yang berhasil dihimpun sejak awal tahun 2000-an hingga terakhir di tahun 2018 menunjukkan perubahan kondisi lanskap di area ini semakin memburuk. Pada penelusuran di tahun 2018, hampir seluruh objek fitur arkeologis tampak terabaikan, rimbunnya vegetasi hampir seluruhnya menutupi permukaan tanah, sehingga sejumlah struktur fitur arkeologi yang pada tahun-tahun sebelumnya masih tampak dan dapat ditelusuri, namun di tahun 2018 sebagian besar sulit dilacak.

Secara garis besar, dari desk study ini menghasilkan sejumlah kesimpulan antara lain:

  1. Area Benteng Amaiha beada di dataran landai Puncak Bukit (Lokal: Nusa Iha Ulupalu)
  2. Dikelilingi oleh dinding tebing karst (batuan gamping terumbu) dan pada beberapa sisi dikombinasikan dengan lutur atau struktur batu membentuk pagar atau dinding batas benteng.
  3. Objek fitur jirat makam yang ditemukan seluruhnya mengindikasikan orientasi UtaraSelatan.
  4. Dua lokasi fondasi yang mengindikasikan fondasi masjid kedua-duanya berorientasi ke arah sudut 285° dan 283°, secara umum cenderung mengarah ke arah Kiblat yaitu pada arah azimuth 291°.
  5. Lutur dan geomorfologi dinding batu karst menjadi kombinasi yang membagi, menyekat area keruangan di dalam benteng.
  6. Secara umum area Benteng Amaiha terbagi menjadi 2 (dua) area permukiman utama, yaitu area sisi Barat (95 s.d. 135 mdpl, Luas 41.500 m²) dan area Timur (135 s.d. 140 mdpl, Luas 7.440 m²). Kedua area tersebut dipisahkan oleh jalur yang terbentuk oleh kombinasi struktur lutur dan dinding batu alami, memanjang lurus berupa jalan utama
    dari Sisi Selatan ke Sisi Utara.
  7. Sebaran data artefaktual di atas permukaan di permukiman area sisi Barat relatif lebih masif kuantitasnya dibanding sisi Timur.
  8. Objek struktur fondasi yang mengindikasikan bekas Istana Kerajaan seperti yang pernah diklaim oleh sejumlah referensi, dalam penelitian ini belum dapat dibuktikan. -Muhammad Al Mujabuddawat

· © 2020 Balai Arkeologi Maluku

Satu tanggapan untuk “Rekonstruksi Spasial Permukiman Benteng Amaiha, Pulau Saparua Abad 17

  1. Kak apa ada studi tentang Aslrsitktur Benteng Beverwijk negeri sila atau Arsitektur Benteng Amstersam di Jasira Hila Lehitu ? Izin minta link publikaso nya.. terima kasoh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.