web analytics

Rekonstruksi Permukiman Kuno dan Penelusuran Data Terkini di Jazirah Huamoal, Seram Bagian Barat

Penggalian Arkeologis di Desa Lokki

Penelitian di tahun 2019 ini difokuskan di 4 (empat) lokasi, yaitu Situs Lokki, Situs Asaude, Pulau Buano, dan Pulau Manipa. Pemilihan lokasi penelusuran data di Situs Lokki dan Situs Asaude sebagai kelanjutan dari penelusuran data permukaan di tahun 2018. Penelusuran data di Pulau Buano dan Pulau Manipa berdasarkan riwayat kesejarahan yang tersurat dalam sejumlah referensi terkait hubungan dua lokasi tersebut dalam peristiwa ‘Perang Huamual.’ Riwayat Pulau Buano sepanjang abad 17 tidak banyak referensi yang dapat digali, lain halnya dengan riwayat Pulau Manipa yang relatif cukup banyak muncul dalam catatan VOC sepanjang abad 17 hingga beberapa abad setelahnya sebagai bagian dari Pusat perniagaan cengkih VOC. Terkait data arkeologis, Pulau Buano dan Pulau Manipa belum pernah ditelusuri dan belum ada data arkeologi yang khusus diperoleh melalui hasil penelusuran yang metodis.

Data artefaktual di permukaan Situs Asaude

Sumber-sumber tertulis yang sezaman atau otentik dari periode waktu peristiwa sejarah yang berlangsung di Maluku hanya dapat diperoleh dari catatan masa kolonial. Sumber-sumber otentik itu pun patut dikaji secara mendalam, karena sebagian besar catatan kolonial hanya seputar catatan yang memang dari sudut pandang yang menguntungkan dan dianggap perlu untuk dicatat, sehingga sejarah yang ditelusuri melalui sumber-sumber tersebut merupakan sejarah dari kaca mata pihak kolonial. Berdasarkan sejumlah kesulitan tersebut, maka tidak dapat dipungkiri masih cukup banyak bias yang ditemukan dan diperdebatkan, bahkan ditolak mentah-mentah oleh sejumlah pihak tertentu, terutama pihak yang berkepentingan terhadap pengaruh peristiwa sejarah tersebut. Berangkat dari sejumlah permasalahan ini, kiranya dirasa perlu kehadiran referensi yang datang dari sudut pandang data arkeologi untuk memperkuat referensi sejarah. Arkeologi sebagai ilmu yang mempelajari kehidupan masa lalu punya visi yang diterapkan dalam kajian sejarah Maluku. Arkeologi dalam metodenya lebih spesifik terhadap pencarian dan analisis data berdasarkan temuan bukti-bukti fisik di lapangan, yaitu data artefaktual, fitur, dan bangunan masa lampau. Referensi data verbal dapat didukung oleh hasil analisis temuan arkeologi sebagai bukti fisik berupa objek menjadi sebuah hasil analisis yang saling memperkuat.

Berdasarkan hasil penelusuran data arkeologi yang diperoleh dalam penelitian ini, berdasarkan perolehan data hasil metode tespit di 2 (dua) sektor di area Situs Lokki, cukup merepresentasikan bukti faktual yang mendukung hasil rekonstruksi spasial di tahun 2018. Dua sektor tersebut adalah Sektor Pusat Hena Loi dan Sektor Puncak Benteng Gimelaha Madjira yang tergambar dalam ilustrasi lukisan VOC tahun 1652. Pada penelusuran data melalui metode tespit di Sektor Bekas Masjid di Pesisir Barat area Situs Benteng Asaude, cukup membuktikan bahwa lokasi ini merupakan bagian dari area permukiman yang cukup padat dan berlangsung dari masa sebelum kedatangan VOC sampai masa setelah
penaklukkan VOC. Bukti-bukti tersebut diperoleh dari hasil analisis kronologi fragmen keramik Cina yang ditemukan. Pada penelusuran data di Pulau Buano dan Pulau Manipa, keterkaitan antara riwayat kesejarahan di masa ‘Perang Huamual’ di abad 17 dengan pengetahuan masyarakat saat ini adalah nihil, atau terputus sama sekali. Penyampaian tradisi lisan dan informasi yang diketahui oleh masyarakat cenderung lebih mengarah kepada ragam peristiwa di masa penguasaan mutlak VOC, yang artinya pasca periode ‘Perang Huamual.’ Penelusuran data arkeologi di Pulau Buano dan Pulau Manipa seluruhnya tidak ada bukti kuat yang dapat menjelaskan keterkaitannya terhadap sejarah Perang Huamual, selain keberadaan Situs Benteng Wantrouw yang secara eksplisit merupakan salah satu objek saksi sejarah paling awal sejak kedatangan VOC.

Kondisi Terkini Benteng Wantrow di Pulau Manipa

Fitur kubur kuno di Situs Permukiman Negeri Lama Pulau Buano

Walaupun tidak ditemukan bukti data arkeologis yang dapat menambah referensdalam historiografi Perang Huamual, namun data arkeologis baik berupa fitur, artefakual,dan toponim di beberapa lokasi permukiman kuno di Pulau Buano dan Pulau Manipa cukupmemberikan referensi analisis mengenai riwayat sejarah masyarakat yang bermukim saat iniPenelusuran di sepanjang kawasan karst pesisir Pulau Buano memberikan sebuahpenemuan yang penting terkait lokasi gambar cadas yang baru ditemukan. Lokaspenemuan objek gambar cadas ini berada di dalam ceruk tebing batu gamping tepi lauyang dinamakan Tanjung Bintang. Objek gambar cadas yang berhasil direkam seluruhnyaberupa bentuk geometris dengan pigmen warna merah. -Muhammad Al Mujabuddawat

© 2019 Balai Arkeologi Maluku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.