PULAU UJIR: Misteri Pesona Budaya di Kepulauan Aru - Balai Arkeologi Provinsi Maluku

PULAU UJIR: Misteri Pesona Budaya di Kepulauan Aru

PULAU UJIR

Misteri Pesona Budaya di Kepulauan Aru

Peta Situs Ujir
Peta Situs Ujir

Berada tidak begitu jauh dari Dobo Ibukota Kabupaten Kepulauan Aru. Pulau Ujir di sebelah barat daya Kota Dobo, mungkin pulau yang tidak sulit dijangkau. Hanya sekitar 1-2 jam perjalanan speedboat, kita akan sampai di sana. Meski begitu, tidak banyak orang mau kesana, entah karena alasan apa. Tapi ketika sudah sampai kesana, mungkin akan rela berkali-kali kesana. Meski tanpa alasan dan tujuan. Dikelilingi pantai berpasir putih, pulau Ujir yang kecil tampak menjadi lebih menawan. Itu pemandangan pertama yang kita dapat, jika mengelilingi pulau Ujir dari atas speedboat. Dari sini, Pulau Ujir menjadi daya tarik orang untuk berkunjung kesana. Rupanya tidak hanya itu, bagi para peneliti, bukan semata-mata untuk melihat pasir putihnya atau indahnya mutiara.

Puing-puing bangunan yang dipercaya sebagai bekas Masjid kuna
Puing-puing bangunan yang dipercaya sebagai bekas Masjid kuna
Tinggalan bangunan bekas Masjid kuna
Tinggalan bangunan bekas Masjid kuna

Menemukan selubung misteri Pulau Ujir di masa lalu, jauh lebih menarik. Dinding-dinding tembok yang sebagian telah runtuh, susunan batu-batu yang tertata rapi adalah sebagian peninggalan masa lalu yang misterius. Siapa gerangan yang membuat tembok ini, dan mengapa membangun tembok di pulau ini. Setidaknya pertanyaan sederhana itu yang muncul, meski jawabannya tidak sesederhana itu. Penduduk menyebut kampung lama dengan tembok-tembok misterius itu dengan sebutan Uifana, artinya kampung yang sudah tua. Namun tidak ada yang tahu setua apa kampung lama itu.

Keberadaan sumur tua di lokasi situs kampung kuna Ujir
Keberadaan sumur tua di lokasi situs kampung kuna Ujir

Penelitian oleh tim peneliti Balai Arkeologi Maluku baru-baru ini mencoba menyingkap misteri itu. Berbekal pustaka dan informasi penduduk, Tim Balai Arkeologi Maluku melakukan survei, mengumpulkan berbagai fragmen keramik China dan gerabah (sempe) kuno di seluruh areal kampung lama itu. Hasilnya, kesimpulan sementara, kampung kuno itu berkembang sejak abad 15 M. Kesimpulan yang masih sangat terbatas tentu saja, karena hanya berdasarkan barang-barang di atas tanah, berupa kumpulan dari kepingan pecahan keramik China, sempe dan botol-botol kaca peninggalan kolonial. Namun jauh sebelum itu, sebelum ada perdagangan keramik, tentu sudah ada pemukiman, karena tidak mungkin ada aktifitas perdagangan, kalau tidak ada aktifitas bermukim sebelumnya. Demikian, kata Wuri Handoko, ketua tim penelitian menjelaskan. Tembok-tembok misterius itu kemungkinan sudah ada sejak sebelum kolonial eropa, tapi mungkin umurnya tidak lebih tua dari keramik-keramik china yang ditemukan, atau mungkin seumur dengan kedatangan kolonial, mengingat tembok-tembok itu berdinding batu yang dilapisi perekat berupa kapur yang dibuat dari kerang yang dibakar. Ciri khas teknologi awal Eropa di Nusantara.  Namun dinding-dinding batu yang sebagian besar sudah runtuh,  mengelilingi kampung dan bahkan sumur-sumur kuno, masih perlu dikaji lagi. Pulau Ujir, masih menyimpan misteri terpendam, maka itu perlu diteliti lagi ke depan, begitu kata Muhammad Husni, Kepala Balai Arkeologi Maluku, yang terlibat pula dalam penelitian.

Meriam kolonial di sisi barat puing bangunan bekas masjid
Meriam kolonial di sisi barat puing bangunan bekas masjid
Panorama muara pantai Sungai Ujir, di Daerah aliran sungai ujir, situs kampung kuna Ujir berada
Panorama muara pantai Sungai Ujir, di Daerah aliran sungai ujir, situs kampung kuna Ujir berada

Daya tarik Pulau Ujir, tidak hanya dari misteri purba, namun panorama di sekitar kampung kuna juga mempesona. Sungai yang lebar dan menjorok ke dalam pulau yang jauh. Dipagari oleh barisan pohon mangrove yang rapat di pinggirnya, adalah salah satu pesona tersendiri. Pada saat air surut, sungai dapat disusuri dengan berjalan kaki, bahkan di bagian agak ketengah dari lebar sungai. Namun pada saat air pasang, kita bisa menyusuri sungai dengan perahu ataupun longboat. Barisan mangrove yang rapat, menyegarkan mata. Wisata sungai dan wisata mangrove, adalah dua diantara beberapa daya pesona Pulau Ujir lainnya. Wisata pantai dengan pasir putihnya, yang berkelok-kelok mengelilingi pulau. Ditambah budidaya kerang dan mutiara, serta wisata Desa Ujir yang kaya akan budidaya sayuran dan penduduk yang ramah. Aneh rasanya kalau potensi itu semua terus tersembunyi. Pulau Ujir yang kecil ini menyimpan sejuta pesona yang jika dikelola dengan baik akan menjadi asset daerah yang sangat bermanfaat bagi pembangunan. Di sini budidaya ikan dan budidaya mutiara, diharapkan tidak hanya menguntungkan pengusaha, namun juga bagi masyarakat sekitar. Dengan jalan pengembangan destinasi wisata, kami berharap masyarakat dapat memperoleh manfaat secara langsung. (WH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.