web analytics

Pengelolaan Sumber Daya Arkeologi Jejak Perang Dunia II

Screenshot wawacara kualitatif secara daring pengumpulan data menggunakan aplikasi Zoom Meeting

Penelitian yang bertajuk “Pengelolaan Sumber Daya Arkeologi Jejak Perang Dunia II Berbasis Masyarakat di Kabupaten Morotai, Maluku Utara” ini, berusaha menampilkan pembahasan bagaimana seyogainya pengelolaan warisan budaya (heritage) yang mengindahkan kaidah pelestarian dan preservasi demi keberlangsungan lestari tinggalan arkeologis di daerah tersebut. Terdapat beberapa cara yang bisa ditempuh berkaitan dengan pemanfaatan warisan budaya [heritage] yakni; Pertama, mengembalikan kepada kondisi awal agar dapat diketahui nilai-nilai asli [intrinsic] yang dikandung. Kedua, memperbaiki kondisi yang ada agar dapat diapresiasi oleh pengamat pada masa kini. Ketiga, menyiapkan setting baru agar dapat mengapresiasikan dirinya sesuai dengan zamannya. Keempat, mengintegrasikan ke dalam sumberdaya lain. Cara pertama dapat dikatakan sudah biasa dilakukan oleh arkeolog terutama terhadap objek arkeologi melalui usaha proyek pemugaran. Berbeda jauh dengan cara pertama, ketiga cara lainnya boleh dikatakan lebih sukar, dikarenakan selain harus mempertahankan keaslian juga harus dapat mengakomodir kepentingan publik sekarang.

Dari hasil penelitian ini, seharusnya yang perlu dikembangkan ialah suatu bentuk pengelolaan yang mensinkronkan antara tinggalan arkeologis yang masih dapat disaksikan di lapangan dengan narasi historis yang dilekatkan. Wisatawan yang mendatangi daerah Kecamatan Morotai Selatan seyogianya mendapatkan pengetahuan bahwa, pulau seperti Morotai menjadi penting di masa lalu dalam hubungan kontestasi persaingan dua aliansi besar yang saling berhadapan ketika Perang Dunia II terjadi. Antara aliansi Sekutu (antara lain Amerika Serikat, Inggris, China, Uni Soviet, Prancis, Polandia, Australia dan Belanda) melawan aliansi Poros yakni Jerman, Italia, Jepang, Bulgaria, Hongaria, dan Rumania. Wisatawan yang berkunjung ke Morotai harus diberitahu pengetahuan elementer mengenai peristiwa Perang Dunia II atau Perang Pasifik yang terjadi karena imbas adanya konflik ideologi yang melanda negara -negara di Eropa, Timur Tengah, Amerika dan Asia yang berdampak pada tidak stabilnya kondisi politik, ekonomi dan aspek-aspek lainnya di berbagai belahan dunia.

Meskipun miris, pada dasarnya Perang Dunia II dipandang hanya sebagai peristiwa unjuk kekuatan serta ekspansi militer terhadap wilayah tertentu seperti Indonesia (yang dahulu bernama Hindia Belanda) dan negara-negara yang berada di wilayah Asia Tenggara hingga ke wilayah Pasifik dengan biaya tinggi dan dengan konsekuensi akhir yang terjadi yaitu banyak nyawa manusia tidak bersalah berjatuhan (pemboman Hiroshima). Balutan praktik pariwisata juga harus dapat dipilih dan diimplementasikan sebagai komoditas di Morotai. Hal ini mengingat cultural value sebagai gagasan pokok pengembangannya menuju penggubahan economic value. Juga mengingat diberlakukannya desentralisasi melalui UU No. 24 Tahun 1999 yang telah diamandemen melalui UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, maka setiap daerah (provinsi, kabupaten/ kota) berhak dan sekaligus bertanggungjawab mengelola potensi kekayaan di daerahnya untuk sebesar-besar kemakmuran rakyatnya. Morotai dalam fokus KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) oleh Pemerintah Pusat, harus dikemakan dan dikemas sejalan dengan kebijakan daerah. Untuk hal ini, maka Morotai seyogianya memilih jalan pariwisata dengan minat khusus destinasi tinggalan arkeologis jejak Perang Dunia II/ Perang Pasifik. Padanan lainnya ialah wilayah Morotai sebagai salah satu daerah terluar di Indonesia, bisa dikemas ke dalam bentuk pengelolaan heritage dengan menonjolkan tinggalan arkeologis dan narasi historis di dalamnya. -Karyamantha Surbakti

· © 2020 Balai Arkeologi Maluku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.