Penelitian Megalitik di Garis Khatulistiwa Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara Tahun 2018 - Balai Arkeologi Provinsi Maluku

Penelitian Megalitik di Garis Khatulistiwa Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara Tahun 2018

PENELITIAN MEGALITIK DI GARIS KHATULISTIWA PULAU HALMAHERA  PROVINSI MALUKU UTARA TAHUN 2018

 TIM PENELITIAN

  1. Marlyn Salhuteru (Ketua Tim)
  2. Lucas Wattimena (Anggota)
  3. Irfan Ahmad (Anggota)
  4. Maman Sumaman (Anggota)
  5. Glaudia de Fretes (Anggota)
  6. Dominggus Tittarsole (Anggota)

Penelitian arkeologi khususnya tradisi megalitik yang terdapat di Provinsi Maluku utara merupakan salah satu penelitian rutin Balai Arkeologi Maluku tahun 2018. Penelitian ini merupakan penelitian awal yang bersifat eksploratif untuk mendokumentasikan segala bentuk tinggalan arkeologi berciri megalitik yang ada di Provinsi Maluku Utara khususnya di Pulau Halmahera dan sekitarnya yang dilalui oleh garis khatulistiwa (equator). Sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian garis khatulistiwa atau dalam Bahasa Inggris disebut equator adalah garis khayal keliling bumi, terletak melintang pada nol derajat (yang membagi bumi menjadi dua belahan yang sama, yaitu belahan bumi utara dan belahan bumi selatan); garis lintang  nol  derajat;  ekuator  (https://kbbi.web.id/khatulistiwa,  diakses  tanggal  21  Agustus  2018).  Di Indonesia, salah satu lokasi yang dilalui oLEH garis khatulistiwa adalah Pulau Halmahera Provinsi Maluku Utara.

Penelitian megalitik di Halmahera Maluku Utara ini merupakan penelitian pertama yang khusus memusatkan perhatian pada tinggalan megalitik. Penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan oleh Balai Arkeologi Maluku di Provinsi Maluku Utara antara lain adalah Penelitian Arkeologi di Kepulauan Bacan (2006), Kajian Awal Fungsi Gua dan Wilayah Sebaran Situs Gua di Maluku dan Maluku Utara (2007), Penelitian mengenai Tinggalan Perang Dunia II (2012), Penelitian Benteng Kolonial Eropa di Pulau Moti dan Pulau Makian (2014), dan Penelitian Tata Kota Ternate (2015).

Demikian bisa dilihat bahwa penelitian arkeologi di wilayah Provinsi Maluku Utara yang telah dilaksanakan oleh Balai Arkeologi Maluku hanya berkisar pada penelitian prasejarah, colonial dan Islam dan belum sama sekali menyentuh tradisi megalitik yang berkembang di sana. Ini kemudian menjadi alasan mengapa penelitian ini dilaksanakan dengan mengambil lokus utama di Pulau Halmahera Provinsi Maluku Utara.

Megalitik berarti batu besar (mega:besar ; litik : batu). Demikian maka tradisi megalitik mengena l pendirian monumen-monumen batu yang besar. Akan tetapi selanjutnya timbul pengertian bahwa tradisi megalitik dikaitkan dengan pengertian pengagungan atau pemujaan terhadap arwah nenek moyang (ancetor – worship). Kemudian dalam masa perkembangannya muncul pengertian baru, yaitu meskipun batu-batu yang dipakai sebagai bahan berbentuk kecil, jika latar belakang benda ini berorientasi pada arwah nenek moyang, tinggalan itu dapat diartikan sebagai tinggalan tradisi megalitik (Sukendar, 1993). Karena dilatarbelakangi oleh konsep pemujaan leluhur maka tradisimegalitik mengenal cara- cara penguburan orang yang sudah meninggal. Seringkali ditemui proses penguburan yang dilakukan menyertakan benda-benda seperti senjata yang terbuat dari logam dan manik-manik atau benda lainnya sebagai bekal kubur.

Tinggalan-tinggalan yang dikatagorikan sebagai tinggalan tradisi megalitik di antaranya adalah dolmen, menhir, meja batu, peti batu, sorkofagus, punden berundak dan lain sebagainya. Selain dolmen, tinggalan megalitik lainnya yang berhubungan dengan pemujaan adalah Menhir. Haris Sukendar mengatakan, melalui data arkeologis dikenal adanya perubahan fungsi menhir yang semula berkaitan dengan tanda peringatan (memorial) menjadi tanda penguburan (Sukendar,1989: 69–70) Berdasarkan masanya, hasil materi tradisi megalitik dapat dibagi menjadi dua. Pertama:megalitik prasejarah yang biasanya merupakan monumen yang tidak difungsikan lagi. Kedua:tradisi megalitik yang masih berlanjut (Parsetyo, 2004).

Lokasi penelitian adalah Pulau Halmahera Provinsi Maluku Utara. Secara administrative Pulau Halmahera terdiri atas lima kabupaten yaitu Kabupaten Halmahera Barat (Kota Kabupaten berada di kota Jailolo), Halmahera Timur (Kota Kabupaten di Kota Maba), Kabupaten Halmahera Utara (Kota Kabupaten di Kota Tobelo), Kabupaten Halmahera Selatan (Kota Kabupaten di Kota Bacan) dan Kabupaten Halmahera Tengah ( Kota Kabupaten di Kota Weda).

Penelitian yang kami laksanakan di Pulau Halmahera selama 20 hari terhitung tanggal 20 Oktober 2018 dan akan berakhir pada tanggal 9 Nopember 2018 telah mendokumentasikan beberapa tinggalan arkeologi yang berciri megalitik, yang dapat kami rinci sebagai berikut :

  1. Desa Mamuya Kabupaten Halmahera Utara

Α. Lumpang batu

Temuan lumpang batu di Desa Mamuya Halmahera Utara terlebih dahulu diinformasikan oleh beberapa penduduk. Dari keterangan itulah kami melakukan penelususran dan mendokumentasikan peninggalan arkeologi berciri megalitik ini.

 lumpang batu lesungalu lumpang

 

 Lumpang batu I

Lumpang batu berada pada lokasi perkebunan milik penduduk berjarak sekitar 1 kilometer dari permukiman. Terdiri dari dua buah lumpang dan sebuah  penggalan alu. Lumpang batu I berdiameter 54 cm dan 44 cm, tebal bibir 5 cm, dan dalam 2,5 cm.

lumpang batu1

  • Lumpang batu II

Lesung batu II diletakan di berdampingan dengan lumpang batu I. kondisi lumpang batu II telah patah menjadi beberapa bagian dan yang dapat didokumentasikan hanya sebagian saja. Lesung batu II berukuran diameter 60 cm, dan tebal 5 cm.

lumpang batu 2

  • Patahan alu

Selain kedua batu lesung ini, ditemukan juga sebuah penggalan batu yang diduga merupakan patahan alu yaitu alat penumbuk pada lesung batu. Patahan alu yang didokumentasikan ini berukuran panjang 9 cm dan diameter 5 cm – 6,5 cm.

patahan alu

  • Lumpang batu III

Lumpang batu III ditemukan dalam posisi terbalik, berjarak sekitar 50 meter dati batu lumpang pertama dan kedua. Diameter lubang lumpang batu adalah  20 cm dan 30 cm. tinggi lumpang 45 cm.

Lumpang batu 3

 

Β. Batu dakon

Pada lokasi yang sama dengan temuan sebelumnya terdapat juga beberapa buah batu berlubang yang kami simpulkan sebagai batu dakon. Adapun jumlah dan ukuran lubang pada masing-masing batu dakon bervariasi.

  • Batu dakon I

Temuan batu dakon pada lokasi yang berdekatan dengan lokasi temuan lumpang batu. Sebuah batu dakon dengan jumlah lubang sebanyak 13 buah lubang, berdiameter 2 cm sampai dengan 9 cm.

batu dakon 1 Batu Dakon 2

  • Batu dakon II

Batu dakon II terdapat 9 buah lubang dengan diameter 2 cm – 4,5 cm.

batu dakonii

  • Batu dakon III

Batu dakon III ini ditemukan di atas sebuah bukit tidak jauh dari temuan sebelumnya. Terdapat sekitar 25 buah lubang yang dipahatkan pada sebuah batu berukuran besar. Diameter lubang bervariasi antara 3 cm – 6 cm. di antara lubang-lubang tersebut terdapat garis-garis melintang.

batu dakon III

 

2. Desa Gamtala Kabupaten Halmahera Barat

 a. Bekas lokasi permukiman kuno

Lokasi bekas permukiman kuno yang ada di Desa Gamtala oleh penduduk setempat disebut Tonga Sorong adalah sebuah areal dalam lokasi perkebunan penduduk. Terdapat bekas struktur batu diduga sebagai bekas benteng atau pagar pembatas permukiman.

gamtala 1 gamtala 2


 b. Batu Bersusun di Desa Taboso

Susunan batu ditemukan di belakang lokasi permukiman penduduk Desa Taboso Halmahera Barat. Menurut keterangan pemilik lahan, susunan batu tersebut merupakan tempat keramat yang dijaga turun temurun oleh keluarganya. Dugaan sementara susunan batu ini memiliki fungsi yang sama dengan dolmen yakni sebagai media dalam pelaksanaan ritus dalam tradisi megalitik.

batu susun taboso

 

3. Desa Nusliko Kabupaten Halmahera Tengah

a. Makam kuno di Desa Nusliko

Makam kuno yang oleh penduduk setempat disebut Jere berbentuk oval, nampak terdapat pecahan batu karang yang diletakan di sekelilingnya. Pada arah utara terdapat mangkuk diduga berfungsi sebagai tempat meletakan sesaji berupa makanan dalam pelaksanaan ritus. Makam kuno ini telah dipagari dengan beton setinggi kira-kira 50 cm.

makam nusliko

Tidak jauh dari makam kuno tersebut terdapat empat buah piring gerabah yang diletakan di bawah pohon, dan dialas dengan papan. Diduga piring-piring ini mempunyai fungsi yang sama dengan mangkuk yang ada di lokasi makam yaitu sebagai tempat meletakan sesuatu dalam pelaksanaan ritus di lokasi ini.

makam nusliko piring

 

SOSIALISASI ARKEOLOGI

Sosialisasi merupakan sarana pemasyarakatan hasil penelitian arkeologi yang telah dilaksanakan di Halmahera Maluku Utara. Sosialisasi arkeologi ini merupakan bagian dari proses penelitian yang sedang kami laksanakan di wilayah Pulau Halmahera. Kegiatan sosialisasi kami laksanakan bertempat di Desa Gamtala Kabupaten Halmahera Barat pada tanggal 27 Oktober 2018. Peserta sosialisasi sebanyak 50 orang yang berasal dari Desa Gamtala dan sekitarnya. Narasumber sosialisasi adalah dari Dinas Pendidikan Kabupaten Halmahera Barat dan  Dinas Pariwisata Kabupaten Halmahera Barat.

 sosialisasisosialisasi1

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.