web analytics

Penelitian Islamisasi di Kawasan Kepulauan Kei: Kontak Budaya dan Jaringan Perdagangan Abad 16-19 Masehi

Sosialisasi Hasil Penelitian Arkeologi

Dalam sejarah penelitian arkeologi di wilayah Kepulauan Maluku Tenggara dan Kepulauan Kei, potensi data arkeologi Islam, selama ini belum tersentuh. Oleh sebab itu, maka terjadi kekosongan (blank spot) kajian tentang Islamisasi dan jaringan niaga sertaperkembangan kemaritiman, setidaknya pada masa perkembangan pusat-pusat peradabanIslam di Kepulauan Maluku. Kawasan Kepulau Kei, meliputi Pulau Kei Kecil, Kei Besar danwilayah pulau-pulau satelitnya (pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Kei Besar dan Kei Kecil),dalam berbagai catatan sejarah, terutama menyangkut sejarah maritim dan perdaganganmerupakan jalur pelayaran yang penting yang menghubungkan pusat-pusat niaga danpelabuhan di wilayah Kepulauan Maluku ke daerah-daerah lainnya.

Kontak budaya antara penduduk Kepulauan Kei dengan daerah luar juga menghubungkan jalur pertukaran dan perniagaan antar pulau. Para penulis sejarah awal menggambarkan bagaimana hasil hutan, seperti kayu bahan pembuatan kapal, pohon aromatik gaharu dan cendana, burung dan bulu, dan sagu, dibeli dari Aru, Kei dan New Guinea ke timur dalam perdagangan kain, beras, logam, dan keramik dari barat. Data penelitian yang dikumpulkan mencakup data arkeologi, sejarah dan etnografi sejauh yang dapat dijangkau dan dapat menjawab permasalahan penelitian. Pada prinsipnya keseluruhan data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah untuk menjawab isu tentang proses islamisasisi yang menyangkut didalamnya proses pengaruh kontak budaya Islam dan jaringan perdagangan yang terbentuk. Data penelitian meliputi data hasil wawancara sejarah dan data arkeologi baik melalui hasil survei arkeologi maupun data ekskavasi.

Detil Nisan Makam Kuno di Desa Danar, Kei Kecil

Kombinasi data sejarah dan arkeologi ini pada nantinya akan dianalisis untuk menghasilkan interpretasi hasil penelitian untuk dapat menjelaskan perkembangan Islamisasi, kontak budaya dan jaringan perdagangan di wilayah Kepulauan Kei.
Beberapa kesimpulan dari penelitian yang dilakukan:

  1. Di kawasan Kepulauan Kei, menunjukkan perkembangan budaya yang signifikan sejak kedatangan pendatang Islam di wilayah-wilayah situs yang sebelumnya telah dihuni oleh masyarakat lokal
  2. Perkembangan permukiman dengan terbentuknya kantong-kantong permukiman Islam di wilayah-wilayah pesisir. Secara geografis, hal ini memudahkan hubungan dan kontak dengan daerah luar.
  3. Situs kampung kuno Tahayad di Pulau Tayando, tampaknya bisa diposisikan sebagai pintu masuk jalur Islamisasi baik jalur dari barat yang berhubungan dengan wilayah Banda, Seram yang lebih jauh menjadi wilayah hubung dengan Ternate-Tidore.
  4. Wilayah Tayando, bisa juga menjadi pintu jalur Islamisasi dari jalur selatan, melaui wilayah Sunda Kecil (Nusa Tenggara) hingga mencapai kawasan Kepulauan Kei.
  5. Kedudukan Pulau Kur, menjadi pintu masuk Islamisasi,yang berasal dari wilayah bagian barat Kepulauan Kei.
  6. Para pendatang Islam, pada awal memasuki wilayah-wilayah yang dituju, selain membawa pengaruh agama, beberapa diantaranya juga membawa benda-benda (materi) yang diperdagangkan
  7. Kedatangan pembawa syiar Islam baik ulama, tokoh penguasa maupun pemimpin agama, selain membawa pengetahuan dan pengenalan tentang Islam, sesungguhnya juga melakukan kontak dagang, pertukaran komoditi, penggunaan perkakas dan transfer knowledge, transmisi teknologi, kontak budaya dan asimilasi budaya lokal dan budaya pendatang.
  8. Setidaknya abad 16/17 M, produk keramik sudah dipergunakan penduduk lokal Kei, dan terus mengalami perkembangan dan puncaknya pada abad 18-19, saat pendatang kolonial semakin ramai memasuki kawasan Kepualaan Kei.
  9. Dalam konteks ini berbagai variabilitas artefak seperti keramik, gerabah, kaca, logam di situs-situs kampung kuno di pulau-pulau dalam Kawasan Kepulauan Kei, membuktikan bahwa perdagangan pada masa itu sangat ramai, dan penduduk lokal saling berhubungan dengan pedagang asing maupun dengan penduduk-penduduk lokal di pulau-pulau yang berbeda. Pada konteks ini jaringan penyebaran agama Islam, tentu saja sangat dimungkinkan mengikuti pola jaringan perdagangan. Dengan demikian, kontak antar penduduk lokal pada pulau yang berbeda, penduduk lokal dengan pendatang pada kawasan yang berbeda maupun dengan para pendatang asing telah melahirkan dinamika peradaban.

Keberadaan pulau-pulau kecil yang cukup terpencil saat ini, tampaknya pada masa lampau memiliki peran penting dalam jaringan kerjasama (networking), perdagangan dan Islamisasi pada masa lampau. Kondisi ini perlu mendapat perhatian pada saat ini, mengingat peran pentingnya pada masa lampau sebagai salah satu jembatan dalam mata rantai perdagangan di kawasan timur Nusantara. Dalam konteks jaringan perdagangan dalam lintasan jalur rempah (Spice Road) antara pusat-pusat penghasil rempah (Ternate dan Tidore) di wilayah timur Nusantara maupun wilayah barat (Jawa, Sumatra), tampaknya wilayah Kepulauan Kei juga memiliki peran dalam konteks jaringan perdagangan rempah di Nusantara. Relasi peran ini tentu juga berhubungan dengan gerak Islamisasi dalam zona ekonomi dan perdagangan di wilayah Nusantara. Wilayah-wilayah yang terpencil saat ini, tentu perlu mendapat perhatian dalam konteks pembangunan berkelanjutan (SDG’S), tidak saja dalam sebagai modal sosial pembangunan, tetapi juga dalam pengembangan kawasan ekonomi yang potensial di masa yang akan datang.

Kendala yang dihadapi selama penelitian adalah adanya faktor cuaca dan kondisi lapangan yang satu sama lain berjarak jauh dengan kondisi cuaca laut yang tidak menentu. Akibat cuaca buruk, sehingga wilayah yang paling jauh jaraknya dengan lokasi basecamp awal di kota Tual, yakni Pulau Kur tidak dapat dijangkau untuk tindaklanjut pengumpulan data melalui jangkauan survei yang diperluas dan ekskavasi. Meski demikian, mengingat pada penelitian sebelumnya sudah dilakukan penelitian awal melalui survei terbatas dan tespit ekskavasi di lokasi tersebut, sehingga data yang diperoleh sebelumnya tetap menjadi bagian data yang dianalisis lebih lanjut dan dapat diintegrasikan dengan temuan-temuan terbaru di wilayah situs yang diteliti pada tahun ini. Wuri Handoko

© 2019 Balai Arkeologi Maluku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.