Penelitian Arkeologi Pulau Terdepan: Manusia, Lingkungan dan Budaya Prasejarah di Kepulauan Tanimbar Provinsi Maluku - Balai Arkeologi Provinsi Maluku

Penelitian Arkeologi Pulau Terdepan: Manusia, Lingkungan dan Budaya Prasejarah di Kepulauan Tanimbar Provinsi Maluku

Kepulauan Tanimbar merupakan salah satu gugus kepulauan utama di tenggara kawasan Wallasea. Tidak hanya memiliki profil lingkungan yang khas, Tanimbar juga merupakan rumah bagi proses panjang sejarah budaya kawasan. Termasuk bagi studi arkeologis. Berbagai kajian awal telah dilakukan untuk memahami dinamika budaya masa lalu di wilayah ini. Meski demikian kuantitas dan kedalamannya kiranya belum berbanding lurus dengan potensi raya sejarah budaya Tanimbar sebagai sebuah kawasan. Kajian ini merupakan bagian dari upaya dalam berkontribusi melengkapi pengetahuan terkait dinamika sejarah budaya di wilayah Tanimbar. Survei atas 20 situs di Pulau Fordata dengan 2 lokus yang diekskavasi dengan beragam temuan berkarater prasejarah. Lokus pengamatan pertama dilakukan di desa Romean, Pulau Fordata.

Setidaknya terdapat sepuluh titik yang direkam dalam lingkup wilayah Desa RomeanPerhatian utama diberikan pada situs kawasan perkampuingan kuno Desa Romean yangdikenal sebagai Elivavan atau Watu Eli. Karakteristik khas dari open site Elivavan adalasebaran luas artefak di permukaan yang ditemukan dalam jumlah besar di sepanjang situs Umumnya temuan permukaan diwakili oleh fragmen gerabah polos dan fragmen keramik asing dari berbagai masa.

Titik pengamatan kedua adalah kawasan perbukitan karst yang ada tepat di sisi selatan situs pertama. Titik tertinggi pada perbukitan karst ini adalah puncak Watu Eli. Sebagai kawasan dengan lingkungan batu gamping, situs Watu Eli memiliki banyak ceruk dan gua bertipe gua payung. Hasil pengamatan di sekitar kawasan perbukitan karst ini menemukan sebaran temuan permukaan berupa fragmen gerabah polos dan fragmen keramik asing meski tidak dalam jumlah dominan sebgaaimana yang ditemukan pada situs open site di sisi utaranya.

Dalam kawasan kompleks Watu Eli juga ditemukan jejak penguburan tradisional yang ditandai dengan keberadaan cranium (tengkorak) homo sapiens yang diletakan pada relung-relung dinding batu gamping. Situs ini disebut Batu Tengkorak. Himpunan tengkorak ini dtemukan dalam asosiasi dengan fragmen gerabah dan keramik asing. Model penguburan tradisional seperti ini memang umum ditemukan di situs-situs pemukiman kuna di Tanimbar dan pulau-pulau di bagian tenggara Kepulauan Maluku. Dalam pengamatan yang dilakukan di kawasan Watu Eli terekam setidaknya hampir selusin tengkorak manusia. Beberapa tengkorak masih dalam kondisi utuh, sementara sebagian lain sudah pecah dan rusak.

Survei yang dilakukan di dalam lingkup Desa Romean juga merekam keberadaan situs pemukiman kuna lainnya yang dikenal sebagai Lingat Kabal. Situs ini terletak di dalam sejarah tutur masyarakat Romean situs Lingat dikaitkan dengan migrasi masa lalu komunitas asal pulau Bersaidi di Lingat di Pulau Selaru. Dikisahkan bahwa komunitas ini bermigrasi setelah terjadi bencana yang disebut sebagai tenggelamnya Pulau Bersaidi. Penanda khas di situs adalah keberadaan beberapa pilar kayu yang menjadi tiang-tiang rumah masa lalu serta keberadaan sebuah meriam khas nusantara.

© 2018 Balai Arkeologi Maluku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.