Penelitian Arkeologi Kesultanan Tidore: Toponim, Pemukimaan dan Perkembangan Pusat Kesultanan Islam dan Pengaruhnya di Pulau-Pulau Sekitar - Balai Arkeologi Provinsi Maluku

Penelitian Arkeologi Kesultanan Tidore: Toponim, Pemukimaan dan Perkembangan Pusat Kesultanan Islam dan Pengaruhnya di Pulau-Pulau Sekitar

Makam di Kompleks Makam Kesultanan Tidore di Soa-Siu

Fokus penelitian yang didasarkan pada data arkeologi di wilayah spesifik Tidore Kepulauan, berupaya menjelaskan secara lebih detail tentang perkembangan Islam di wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore sebagai salah satu pusat kekuasaan Islam di wilayah Maluku. Selain itu berdasasrkan riwayat penelitian sebelumnya, juga penting ditelusuri jejak pusat Kedaton Tidore, kronologi dan proses perpindahan pusat kedaton Tidore sebelum di wilayah Soa Sio hingga saat ini. Dalam konteks penelitian ini sebagaimana yang sudah diuraikan sebelumnya adalah melihat perkembangan Islam dan sekaligus peran Kesultanan Tidore dalam proses penyebaran dan perkembangan Islam di wilayah kekuasaannya. Adapun tujuan yang hendak dicapai pada penelitian ini, yaitu: a. Memperoleh gambaran tentang bentuk dan perkembangan pemukiman di wilayah Kesultanan Tidore dengan latar belakang pengaruh Islam serta morphologi tata kota pada periode Islam. b. Memperoleh gambaran tentang struktur pemerintahan, serta relasi-relasi yang terbentuk diantara struktur fungsi dari organisasi pemerintahan pada masa lampau.

Makam Keramat di Situs Jiko

Metode penelitian diawali dengan tahapan-tahapan penelitian arkeologi, yaitu pengumpulan data, kemudian dilanjutkan pada tahap pengolahan data, analisis dan interpretasi data. Tahap pengumpulan data meliputi pengumpulan data atau penelitian lapangan dan penelitian kepustakaan. Penelitian lapangan melalui penjajagan atau orientasi situs dan survei permukaan untuk menemukan dan mengumpulkan data di permukaan tanah. Sementara penelitian kepustakaan atau studi literatur untuk menemukan dan mengumpulkan studi-studi yang ada sebelumnya untuk menambah bobot argumentasi dari penelitian arkeologi, baik itu studi sejarah maupun etnografis. Pengumpulan data juga dilakukan melaui ekskavasi arkeologi pada situs-situs yang dianggap potensial dan dapat menjelaskan perkembangan Kesultanan Tidore, termasuk meliputi perkembangan pusat kesultanan Tidore. Sementara itu, pengolahan data meliputi penanganan awal temuan dan membuat klasifikasi-klasifikasi temuan untuk mempermudah analisis. Pengolahan temuan juga meliputi proses deskripsi dan penggambaran.

Metode analisis dengan bantuan ilmu pasti juga digunakan diantaranya uji pertanggalan dengan menggunakan metode C-14, serta analisis XRF (X-ray Fluorescence) dan XRD (X-ray Diffraction). Tahap akhir adalah melakukan interpretasi yang dikembangkan berdasarkan kajian teoritis serta perbandingan dengan studi-studi yang berbeda dari hasil analogi historis dan etnografis.

Rumah dengan Arsitektur Tradisional di Kampung Adat Gurabunga

Sumber-sumber ini menjadi rujukan penting dan dielaborasi guna memperoleh informasi sebagai bahan interpretasi, dan penafsiran data arkeologi untuk membuat penjelasan (eksplanasi) dan kesimpulan. Data arkeologi yang diperoleh dalam penelitian ini adalah situs-situs arkeologi yang dapat menjelaskan perkembangan pemukiman di Pulau Tidore sebagai wilayah pusat kekuasaan Kesultanan Tidore di masa lalu. Situs-situs pemukiman, baik karakter pemukiman di daerah ketinggian maupun karakter pemukiman pesisir di Pulau Tidore, diantaranya; situs pemukiman lama Topo, Bekas Kedaton Biji Negara, Benteng Toloa, Kompleks Makam Kesultanan Soa Sio, struktur tata ruang kota Soa Sio sebagai kota Islam, dan sebaran fragmen keramik dan gerabah. Sementara itu, pengumpulan data melalui metode ekskavasi diperoleh data berupa fragmen keramik, fragmen gerabah, slag besi, sampel arang, dan perekat struktur pondasi Kedaton Biji Negara. Data sejarah tentang perpindahan pusat Kesultanan Tidore, struktur adat dan struktur pemerintahan Kesultanan Tidore, serta sejarah tentang dinamika perubahan perkampungan di Pulau Tidore. Data etnografis, di antaranya pola perkampungan Kampung Adat Gurabunga, tradisi, dan bentuk-bentuk ritual masyarakat Topo.

Kesultanan Tidore merupakan pusat kekuasaan yang telah membentuk jaringan kekuasaan di wilayah timur nusantara. Proses perpindahan pusat kesultanan memberi pemahaman tentang bagaimana Kesultanan Tidore tetap mampu bertahan dalam menghadapi berbagai gangguan bagi eksistensi kekuasaannya. Aspek lain, terkait bagaimana Kesultanan Tidore menjalin kerjasama dengan berbagai bangsa termasuk Eropa (Spanyol) tidak hanya perdagangan, tetapi juga menyerap pengetahuan khususnya tentang teknologi konstruksi bangunan. Gambaran struktur tata ruang kota Islam Soa Sio sebagai pusat pemerintahan terakhir Kesultanan Tidore dibentuk oleh sembilan Soa yaitu Soa kolano, Soa sibumabelo, Soa mafu, Soa Jawa, Soa Yaba, Soa Kalaodi, Soa Failuku, Soa Rora, dan Soa Cina. Komponen utama lainnya yang membentuk tata kota Tidore di kawasan Soa Sio adalah Kedaton sebagai pusat yang didukung oleh komponen pendukung di antaranya, Kompleks Makam Kesultanan, Fola Ijo, Sigi Kolano (Masjid Kesultanan), dan dermaga. Penataan struktur Kota Soa Sio tampak jelas memiliki konsep pemahaman budaya lokal sebagai basis filosofi dan kosmologi.

Penataan Kota Soa Sio yang memiliki konsep pemahaman budaya lokal tampak jelas pada penempatan soa sebagai representasi sembilan soa di kota Soa Sio. Penempatan soa tersebar di bagian depan atau sebelah timur Kedaton dan ditempatkan berjajar arah utara-selatan. Sementara sumbu utama adalah konsep kosmologi gunung Kie Matubu sebagai pusat magis-religius, dimana puncak Kie Matubu sejajar (barat-timur) dengan kedaton dan dermaga Sultan. Sementara itu, dalam konteks menjaga relasi antara pusat kekuasaan dan wilayah-wilayah sekitarnya termasuk wilayah kekuasaanya adalah melalui diplomasi kekeluargaan, jalur perdagangan, dan kemampuan Tidore menyediakan barang dagangan yang mewah bagi penguasa-penguasa di wilayah kekuasaannya.

Kesultanan Tidore dalam membentuk pusat kekuasaan, termasuk proses perpindahan pusat kesultanannya dan bagaimana membentuk jaringan kekuasaan di wilayah sekitarnya telah memberi pengalaman berharga sebagai proses perjalanan peradaban. Syahruddin Mansyur

© 2019 Balai Arkeologi Maluku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.