Penelitian Arkeologi Islam di Kepulauan Kei Tahun 2018 - Balai Arkeologi Provinsi Maluku

Penelitian Arkeologi Islam di Kepulauan Kei Tahun 2018

Penelitian Arkeologi Islam di Kepulauan Kei Tahun 2018

1. Survei dan Ekskavasi di Kepulauan Tayando Tam

Penentuan lokasi survei dan ekskavasi, didahului melalui proses komunikasi dan pendekatan dengan penduduk setempat untuk memperoleh ijin memasuki wilayah survei, demikian pula dalam proses penggalian (ekskavasi) juga didahului melaui proses pendekatan dan perijinan dari masyarakat setempat. Mengingat tradisi dan kultur setempat, maka dalam penelitian ini, pendekatan penelitian partisipatif coba untuk diterapkan. Dalam konteks ini keterlibatan tokoh-tokoh masyarakat untuk terlibat langsung dalam penelitian ini menjadi praktek yang dilakukan. Penelitian tidak hanya melibatkan beberapa persoanal dari masyarakat sebagai tenaga lokal dan informan, namun lebih dari itu praktek penelitian partisipatif mulai coba diterapkan, yakni melibatkan lebih banyak personal baik tokoh masyarakat, maupun anggota masyarakat lainnya, terlibat langsung dan mengikuti seluruh kegiatan penelitian di lapangan. Dalam praktek ini, misalnya praktek wawancara, tidak hanya komunikasi personal antara peneliti dengan narasumber atau informan, namun dalam bentuk diskusi, sehingga, berbagai perspektif dan pandangan atau pendapat masyarakat menjadi informasi yang dapat langsung dipertemukan, termasuk berbagai pandangan yang berbeda. Dengan demikian keterlibatan tokoh-tokoh masyarakat yang dianggap representasi dari keseluruhan masyarakat menjadi faktor penting berhasilnya proses penelitian.    Proses penelitian juga meliputi pembersihan lahan di lokasi yang akan dilakukan survei, ekskavasi dan pengambilan foto, yang melibatkan sejumlah tenaga lokal yang Membantu pekerjaan tersebut. Tim penelitian juga melakukan sosialisasi kecil untuk mengenalkan studi arkeologi bagi siswa SD setempat.

1 2 3

 

2. Survei Kecamatan PP Kur

Wilayah  Kepulauan  Kur adalah, wilayah yang terjauh dalam jangkauan penelitian ini. Oleh sebab itu, terdapat keterbatasan dalam soal manajemen waktu, sehingga dalam prakteknya penelitian di wilayah ini hanya bisa dilakukan  survei  terbatas dan wawancara. Oleh karena itu di wilayah ini masih banyak data yang belum terjangkau, terutama melalui ekskavasi arkeologi. Mengingat sifat penelitian  ini  adalah eksploratif di wilayah yang belum pernah diteliti sebelumnya, oleh karena itu kegiatan penelitian di wilayah Kepulauan Kur, masih sebatas penjajakan untuk mengetahui data awal arkeologi yang dapat ditindaklanjuti   pada proses penelitian selanjutnya. Penelitian di wilayah Kepulauan Kur, masih sebatas di Pulau Kur yang terbatas hanya melakukan survei di wilayah desa pesisir dan juga menghimpun segenap data koleksi artefak di penduduk.

Tim penelitian, dalam kesempatan ini juga menindaklanjuti adanya informasi menyangkut keberadaan situs gambar cadas di Pulau Kaimaer. Setelah melakan perzinan dan pendekatan dengan masyarakat, tim penelitian bersama beberapa tokoh masyarakat melakukan survei dan identifikasi terbatas di situs gambar cadas, pada lokasi yang terdekat dari lokasi pemukiman penduduk. Setelah melakukan survei, kemudian dilanjutkan dengan diskusi dengan penduduk tentang pentingnya gambar cadas dalam rekonstruksi sejarah peradaban dan kemungkinan usulan di waktu mendatang penelitian lanjutan, sosialisasi cagar budaya dan program-progam pelestarian dengan pelibatan instansi terkait lainnya dalam hal ini BPCB dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tual.

2 1

 

3. Survei di Kecamatan Kei Besar Utara Timur

Survei di Kecamatan Kei Besar Utara Timur, difokuskan di Situs Desa Banda Eli. Seperti di lokus lainnya, penelitian ini diawali dengan koordinasi dengan pemerintah setempat baik di Pemerintah Kecamatan maupun pemerintah desa. Sebelumnya, mengingat Desa Banda Eli, termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Maluku Tenggara, Tim penelitian melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan dan kebudayaan Kabupaten Maluku Tenggara. Untuk membantu kelancaran koordinasi dan perizinan, tim penelitian didampingi oleh staf Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku Tenggara, yang mendampingi tim selama melakukan penelitian.

Mengingat lokasi yang cukup jauh dan juga ancangan waktu yang tersedia, untuk melanjutkan penelitian di lokasi lainnya, maka tim penelitian memfokuskan penelitian di Desa Banda Eli, dengan pendekatan penelitian penjajagan. Hal ini juga mengingat lokasi ini belum diperoleh informasi sebelumnya tentang tinggalan arkeologi. Untuk menguatkan berbagai informasi sejarah yang tertulis, tim penelitian melakukan wawancara-wawancara dengan penduduk lokal menyangkut sejarah Islamisasi termasuk sejarah asal usul terbentuknya negeri atau kampung. Selain itu penelitian ini juga diarahkan untuk mengeksplorasi potensi data arkeologi Islam yang ada di Desa Banda Eli, baik data artaefaktual koleksi penduduk maupun data-data arkeologi lainnya. Dalam penelitian tersebut, juga dilakukan diskusi dengan penduduk, untuk memperoleh informasi-informasi yang dapat dikembagkan. Diantaranya adalah pendataan dan identifikasi makam- makam kuno yang ada di wilayah permukiman penduduk saat ini.

1 2

 

4. Survei dan Ekskavasi di Kecamatan Kei Besar Selatan Barat

Wilayah Kei Besar Selatan Barat, adalah wilayah tanjung bagian selatan Pulau Kei Besar yang berhadapan dengan Pulau kei Kecil. Diantara lokasi lainnya, lokus penelitian ini relatif lokasi yang lebih dekat dengan Kota Langgur, ibukota Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual. Survei dan ekskavasi dipusatkan di Desa Fer Langgiar, penyebutan dua dea yakni Fer dan Desa Langgiar, yang sering disatukan mengingat hubungan kesejarahan dua desa pada masa lampau yang konon menempati satu lokasi pemukiman yakni di Situs Kampung Tua Tensn Savav. Proses penelitian diawali dengan koordinasi dengan pemerintah setempat yakni pemerintah Kecamatan Kei Besar Selatan Barat dan Pemerintah Desa Fer.

Penelitian diawali dengan diskusi dan wawancara dengan tokoh masyarakat setempat, sekaligus melakukan komunikasi dan perizinan untuk memasuki wilayah-wilayah situs termasuk area kompleks situs

kuno. Pada penelitian ini juga melibatkan sejumlah tenaga lokal untuk membantu proses pembersihan lahan situs, agar memudahkan dalam proses pendiskripsian dan pengambilan gambar/foto. Hal yang paling penting dalam prose penelitian ini adalah komunikasi dan perizinan untuk melakukan ekskavasi arkeologi, mengingat beberapa lokasi yang disakralkan atau aspek lain sehingga membutuhkan komunikasi yang lebih baik untuk mendapatkan izin melakukan ekskavasi, seperti halnya di lokasi situs lainnya.

Selain itu mengingat lokasi situs dekat dengan pemukiman penduduk, termasuk dengan aktivitas sekolah, kami juga melakukan sosialisasi kecil, sebagai bentuk pengenalan kepada siswa SD di lokasi untuk mengenal tentang studi arkeologi dan budaya, serta memberikan gambaran singkat tentang sejarah lokal di wilayah situs.

21

 

5. Survei dan Ekskavasi di Pullau Dullah-Dullah Laut

Proses penelitian di Pulau Dullah dan Pulau Dullah laut, tidak berbeda dengan lokasi lain.Pertama-tama dilakukan komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah setempat. Dalam hal ini dimulai koordinasi Dinas terkait, dan selanjutnya dengan pemerintah desa. Dalam proses komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah desa, sekaligus juga dilakukan wawancara awal untuk memperoleh informasi tentang potensi situs arkeologi. Pada lokasi situs yang diteliti, tim melakukan komunikasi dan perizinan berlanjut terhadap personal masyarakat yang mengetahui tentang kepemilikan lahan situs, mengingat hak-hak kepemilikan diantaranya dalam perlindungan adat ataupun milik individu. Setelah proses kominikasi awal, perizinan dan orientasi situs, selanjutnya ke tahap melakukan  penelitian baik survei maupun ekskavasi dengan melibatkan sejumlah tenaga lokal. Pada lokasi penelitian yang kepemilikan lahan milik individu, maka melibatan pemilik lahan sebagai tenaga lokal.

21

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.