Penelitian Arkeologi Budaya Austronesia Di Kepulauan Maluku Tradisi Pembuatan Perahu Di Kepulauan Aru, Provinsi Maluku - Balai Arkeologi Provinsi Maluku

Penelitian Arkeologi Budaya Austronesia Di Kepulauan Maluku Tradisi Pembuatan Perahu Di Kepulauan Aru, Provinsi Maluku

Penelitian Arkeologi Budaya Austronesia Di Kepulauan Maluku Tradisi Pembuatan Perahu Di Kepulauan Aru, Provinsi Maluku

Tim penelitian

  1. Lucas wattimena (Ketua tim)
  2. Marlyn J. Salhuteru (anggota)
  3. Karolina Johannes (anggota)
  4. Frits Beni Meturan (anggota)
  5. Rizald Apalem (anggota)

Kabupaten Kepulauan Aru terletak pada posisi 50 sampai 80   Lintang Selatan dan 13305” sampai 13605” Bujur Timur. Secara geografis Kepulauan Aru memiliki batas dengan Laut Arafura di sebelah selatan, Provinsi Papua di sebelah timur dan utara, sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Kei

Besar.  Luas wilayah  Kabupaten Kepulauan Aru  6.424,7  kilometerpersegi. Topografi Wilayah Kepulauan Aru terdiri pada umumnya berupa dataran rendah  dan  berawa.  Gugusan  pulau-pulau  kecil  pada  Kepulauan  Aru tercatat pada data Badan Pusat Statistik sebanyak 59 pulau berpenghuni dan 778 pulau tidak berpenghuni (BPS, 2017).

Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa lokasi penelitian tradisi budaya Asutronesia di Kepulauan Aru berada di pesisir selatan barat Pulau Aru dan di bagian tengah Pulau Kobror. Secara administrasi loasi penelitian terdiri dari Kecamatan Aru Selatan, Aru Tengah, dan Pulau-pulau Aru. Karakteristik kepulauan Aru yang terdiri dari susunan pulau-pulau kecil tersebar di beberapa pulau besar, seperti Wokam, Trangan, Kobror, Ujir, Wamar menjadikan laut dan selat sebagai transportasi utama. Pemekaran kepulauan Aru pada tahun 2008, sehingga tingkat pembangunan infrastruktur pun masih berjalan sampai sekarang. Menurut data statistik Pulau/Kepulauan Aru terbentuk/tersusun dari tanah dan batuan yang tercatat sebanyak 7 jenis tanah, yaitu : Kambisol, renzina, regosol, gleysol, pedsolik, alluvial, dan litosol.

1. Pulau Trangan Kepulauan Aru

 Lokasi penelitian Pulau Trangan dijangkau dengan menggunakan speedboat dengan perjalanan kurang lebih 4-6 jam perjalanan. Perjalanan dilakukan dari Kota Dobo di Pulau Wamar pada jam subuh, saat lautan masih tenang dan sejuk. Pulau Wamar berdekatan dengan Pulau Babi, sehingga arus ombak paling kencang di selat tersebut, oleh sebab itu saat subuh sudah harus melakukan perjalanan menuju lokasi.Geomorfoloigi  Pulau  Trangan  terdiri  dari  formasi  tanah  merah. Pulau Trangan berdasarkan undang-undang nomor 22 tahun 2017 adalah salah  satu  pulau  di  kepulauan  aru  yang  tidak  termasuk  dalam  gugusan pulau-pulau kecil dengan luas 2300 kilometerpersegi.

Survei di Desa Kalar-Kalar

Desa Kalar-kalar Kecamatan Aru Selatan Kabupaten Kepulauan Aru adalah desa pertama yang kami datangi sekaligus merupakan basecamp tim. Desa Kalar-kalar sama halnya dengan desa-desa lain yang menjadi sasaran penelitian kami adalah desa pesisir, dimana sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai nelayan, dan sebagian kecil sebagai pembuat perahu dan profesi lainnya.

1 2

Penduduk  desa   Kalar-kalar  berjumlah   kurang   lebih   1000   jiwa, masing-masing ada yang menganut agama Kristen Protestan, Katholik, dan Islam. Sebagai desa pesisir, perahu sebagai sarana transportasi maupun sarana mata pencarian  merupakan sesuatu yang penting dalam keseharian mereka.  Ada  beberapa  jenis  perahu  yang  dikenal  oleh  penduduk  Kalar-kalar, yaitu belang, sampan, dan kedo-kedo.

Belang adalah perahu berukuran cukup besar, kedo-kedo berukuran lebih kecil dari belang, dan sampan adalah perahu berukuran kecil. Fungsiketiga jenis perahu inipun berbeda. Belang lebih sering digunakan sebagai alat transportasi jarak jauh selain untuk mencari hasil laut. Kedo-kedo dan sampan fungsinya hampir sama, hanya saja sebagai alat tarnsportasi kedua jenis perahu ini hanya digunakan untuk menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh, misalnya antar desa dalam Pulau Trangan.

Berdasarkan kepemilikan, belang terdiri atas belang pribadi dan belang marga. Belang pribadi adalah milik orang per orang, dimana biaya, proses   pengerjaan   hingga   selesai   ditanggung   oleh   pribadi   pemilik. Sedangkan belang marga adalah belang yang dimiliki secara kolektif oleh masing-masing marga. Demikian juga dengan biaya dan proses pengerjaan hingga selesai merupakan tanggung jawab keseluruhan anggota marga tersebut. Hasil pencarian belang pribadi merupakan hak pribadi pemilik, sedangkan hasil pencarian belang marga adalah milik keseluruhan anggota marga yang kemudian akan dibagi sama rata ke masing-masing anggota marga yang bersangkutan.

Ada beberapa marga besar di Kalar-kalar  yaitu Lailem, Deraukin dan Benamen. Marga Lailem terdiri dari mata rumah Apara dan Simar. Marga Deraukin terdiri dari mata rumah Tanebir dan Butnilil, sedangkan marga Benamen terdiri dari mata rumah Laker, Nenpop, dan Teltip. Selain itu, belang juga diberi simbol sesuai dengan marga sang pemilik belang.

Simbol atau lambang belang antara lain adalah  laikaran  (tengiri), Lailem Simar (ayam), Lailem Mapara (hiu panggayu), cakalang, Benamen Nenpop (burung), dan Deraukin (anjing).

Jenis kayu yang digunakan untuk membuat belang antara lain adalah kayu  katunde  yang  digunakan  sebagai  bahan  papan  untuk  dinding  dan bahan untuk membuat pamaru. Alasan memilih jenis kayu katunde adalah karena jenis kayu ini ringan dan kuat. Cara memilih pohon yang akan dijadikan sebagai bahan pembuat belang biasanya melalui pengamatan, pohon yang dipiilih untuk selanjutnya ditebang adalah pohon yang lurus. Adapun  sebelum  melakukan  penebangan,  biasanya  mereka  meletakan rokok atau uang logam, dengan maksud sebagai permohonan ijin untuk menebang  pohon  tersebut.  Dalam  belang  ada  beberapa  ruangan  sesuai dengan fungsinya. Belang kalar-kalar mempunyai ciri khas bertiang tiga, satu tiang  tinggi di depan, dan dua tiang yang lebih rendah terletak di belakang  tiang  pertama,  yakni pada  sisi kiri  dan kanan,  sehingga  posisi ketiga tiang berbentuk segitiga. Tiang pertama disebut tiang laki-laki, dan kedua tiang di belakangnya disebut tiang perempuan.

Setelah belang selesai dikerjakan, sebelum belang tersebut mulai melaut biasanya dilakukan upacara yang disebut  upacara turun belang. Upacara dimulai dengan menyepakati tanggal sebagai awal mula  belang tersebut melaut. Biasanya mereka memilih waktu teduh atau musim angin timur   yakni   sekitar   Bulan   September   dan   Oktober.   Setelah   tanggal disepakati  kemudian  mereka  menyebarkan  undangan  kepada  anggota marga baik di kalar-kalar maupun di desa-desa tetangga. Upacara akan dimulai pada saat semua undangan telah hadir, diawali dengan makan minum dan berdendang menyanyikan lagu dalam bahasa tanah dan diiringi tifa.  Tradisi  ini  disebut  tambaroro  dan  berlangsung  selama  semalam suntuk. Dalam upacara ini anggota marga perempuan yang telah kawin di luar kampung diwajibkan untuk membawa gong, piring, kain, serta uang yang diserahkan kepada kepala marga untuk kemudian diletakan di dalam belang. Ini disebut kasi makan belang.  Setelah selesai upacara, pemberian ini kemudian dibagi-bagi untuk semua anggota marga. Demikianlah sebuah belang siap untuk melaut.

Survei di Desa Feruni

Desa Feruni adalah desa tetangga Kalar-kalar. Kami menggunakan perahu  kedo-kedo  milik  warga  untuk  pergi  ke  desa  ini  dengan  lama perjalanan kurang lebih 1 jam. Desa Feruni disebut ferin botan yang berarti Feruni adalah Desa Ibu atau pusat kampung-kampung di Pulau Trangan. Sebelum  menebang  pohon  yang  telah  ditentukan,  area  sekitar  pohon tersebut dibersihkan terlebih dahulu. Pohon pertama yang ditebang adalah pohon yang akan dijadikan bahan pembuat lunas dan pamaru belang. Kemudian adalah pohon yang akan dijadikan bahan papan sebagai badan perahu belang.

Proses penebangan pohon yang akan dijadikan bahan membuat belang dan sampan tidak jauh berbeda. Yang berbeda adalah proses pembuatannya. Perahu belang dibuat dengan cara membelah batang pohon sesuai dengan bentuk kayu atau papan yang diinginkan, kemudian disusun sedemikian rupa menjadi perahu belang. Sedangkan sampan dibuat dari batang pohon utuh, kemudian dikeruk bagian dalamnya sehingga membentuk cekungan, dan selanjutnya dibentuk menjadi sampan. Sampan di Feruni terdapat pahatan berbentuk garis-garis sejajar berjumlah 3 buah garis atau lebih. Ini disebut jerkon.

3 4

Proses   pengerjaan   belang   hingga   selesai   dan   juga   upacara   yang dilaksanakan  semuanya  sama  dengan  yang  dilaksanakan  di  desa  Kalar-Kalar. Hanya saja nyanyian dalam tambaroro orang Feruni menceritakan tentang asal masing-masing marga dan sejarah kedatangan marga tersebut. Orang Feruni bukan merupakan orang asli kepulauan Aru, tetapi mereka datang  dari  Pulau  Banda  (marga  Garpinassy),  Pulau  Ternate  (  marga Lailem),  Pulau  Seram,  Eno  Karang,  Kepulauan  Tanimbar,  dan  Pulau Lonthor (marga Benamen). Warga Feruni sampai sekarang pun masih menyimpan beberapa benda keramat yaitu : Gong (jarkulkul) milik bapak Johan Garpinassy dan Gading gajah milik Bpk Bernardus Deraukin.

Survei di Desa Popjetur

Satu-satunya desa pedalaman yang didatangi tim dalam penelitian ini adalah Popjetur. Desa ini terletak di bagian timur Desa Kalar-kalar dan Feruni,  jaraknya  adalah  sekitar 18  Km  dan ditempuh  dengan kendaraan bermotor roda dua selama kurang lebih 2 jam perjalanan. Ada beberapa pusaka keluarga berupa gading gajah yang sempat kami dokumentasikan. Benda pusaka adalah benda milik marga yang bersangkutan dan dimiliki secara turun temurun. Benda ini dirawat dan disimpan dengan baik.

5 6

Di Popjetur ada sebuah tradisi yang menurut kami unik karena baru pernah kami jumpai tradisi ini di Maluku. Tradisi bakar alang-alang atau Tordauk yang    dilaksanakan  setahun  sekali  yaitu  pada  Bulan  Oktober.  Turdauk dalam bahasa Trangan dapat diartikan sebagai ayam berkokok. Rangkaian upacara ini dimulai dengan kesepakatan antara dua marga besar yang ada di  Popjetur  yang  dianggap  sebagai  tuan  tanah  yakni  marga  Butmil  di Popjetur dan marga Gaelagui di Desa Matvenven, desa tetangga Popjetur. Setelah menetapkan tanggal pelaksanaan upacara, maka disampaikan undangan kepada seluruh desa yang ada di Pulau Trangan bagian barat. Upacara akan dimulai setelah para undangan telah datang dan menempati posko masing-masing yang telah ditentukan dalam wilayah petuanan desa Popjetur  dan  Matvenven.  Popjetur  ditandai  dengan  pembakaran  alang- alang  oleh  kedua  marga  Butmir  dan  Gaelagui,  kemudian  pembakaran dilakukan oleh semua peserta. Asap dan uap panas yang diakibatkan terbakarnya  alang-alang  tersebut  kemudian  mengusik  binatang-binatang liar yang ada di dalam hutan. Semua peserta upacara berhak untuk membunuh binatang yang ditemuinya. Hasil perburuan dalam upacara ini kemudian dikumpulkan pada para-para adat dan dibagikan kepada seluruh peserta upacara sesuai dengan aturan yang disepakati.

7

2. Survei di Pulau Kobror

Geomorfologi Pulau Kobror terdiri dari formasi Manumbai dan formasi Koba. Tim melakukan penelitian survei tentang tradisi pembuatan perahu di desa-desa pesisir kedua formasi tersebut. desa-desa yang dikunjungi tim penelitian antara lain :

Survei di Desa Seli Bata Bata

Desa Seli Bata atau Seli Bata-bata terletak di Pulau Kobror tepanya di tepi aliran Sungai Manumbai. Ada beberapa jejak arkeologis yang dapat kami amati di desa ini. Yang pertama, penduduk menyebutnya Karamat terletak tepat di depan labuhan perahu, pintu masuk desa. Berupa sebuah bangunan beton setinggi kurang lebih 1 m beratap senk. Di dalamnya sesuai dengan pengamatan kami terdapat piring keramik (bukan keramik kuno) berjumlah sekitar 10 buah yang disusun tidak beraturan, didalam piring-piring tersebut diletakan uang logam. Disekitarnya terlihat bungkusan rokok dan sebuah bendera putih yang diikatkan pada tiang kayu berukuran pendek.

Kedua, sebuah kotak beton kurang lebih 0,5×0,5×0,5meter, diberi atap senk dan digembok. Didalamnya terlihat sebuah piring yang didalmnya diletakan beberapa keeping uang logam. Ketiga, sebuah bangunan beton beratap senk dengan ukuran kurang lebih 2x1x1,5 meter. Didalam bangunan ini terdapat tulang binatang yang menurut penduduk setempat adalah tulang ikan paus (bahasa Manumbai :bijarum) yang terdampar dan mati di sekitar desa. Kerangka hiu diletakan begitu saja, disampingnya terdapat beberapa piring keramik (keramik baru) dan uang logam di dalamnya. Menurut informasi yang  kami  dapat,  ketiga  keramat  ini  merupakan  perlambang  leluhur (bahasa Manumbai :gasirajataver). Keramat pertama disebut vanua jurinfafai dalam bahasa Manumbai berarti hidung kampung, kurang lebih artinya sama dengan pusat desa. Sedangkan keramat kedua adalah keramat milik marga Mangar dan marga Malawar. Keterangan yang kami dapatkan di lokasi ini adalah bahwa setiap tahun tepatnya pada bulan Juli diadakan upacara untuk ketiga keramat, sekaligus merayakan ulang tahun gereja. Penduduk  Selibata  sebagian  besar  memeluk  Kristen  Protestan.  Piring makan, uang loga dan rokok adalah benda-benda yang dibawa oleh masing- masing warga dalam upacara, atau saat mengunjungi ketiga keramat ini.

9 10

Di dekat Selibata terdapat sebuah ceruk di tepi sungai, terdapat sejumlah tulang  belulang  kerangka  manusia,  yang  berasosiasi  dengan  fragmen keramik asing dan gerabah. Menurut informasi yang kami peroleh adalah lokasi tersebut merupakan lokasi penguburan penduduk desa yang puluhan tahun lalu diserang wabah kolera. Mayat orang yang sudah meninggal kemudian diletakan dalam perahu dan dibawa ke lokasi tersebut.

Survei di Desa Papakula

Desa Papakula merupakan desa tetangga Seli bata-bata, terletak di tepi sungai Manumbai. Penduduk desa ini sebagian memeluk agama Kristen Protestan dan sebagian lagi memeluk agama Islam.  Desa Papakula pada masa lalu tradisi penguburan mayat ialah dengan cara meletakan mayat tersebut di dalam peti yang terbuat dari batang pohon kapuk, kemudian dibawa 12dan dikuburkan di pegunungan dalam wilayah desa ini. Ada juga keterangan penduduk yang menyebut bahwa di gunung terdapat sebuah gua, di dalamnya terdapat kursi dan meja batu juga alat-alat lain. Namun tim belum sempat mendatangi kedua lokasi yang disebutkan tadi karena jarak yang cukup jauh dari kampung. Di Desa Papakula juga terdapat tradisi pembuatan pakaian kulit kayu. Setidaknya ada tiga orang yang memiliki keahlian ini, namun sayangnya kami tidak berhasil menemui orang dimaksud.

11  13

Survei di Desa Jirlay

Desa Jirlay Pulau Kobror Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku berada pada jalur sungai manumbai. Akses menuju ke sana harus menggunakan  transportasi  laut,  speedboat.  Perjalanan  ke  sana  melewati jalur sungai manumbai yang memisahkan antara pulau besar (tanah besar) Pulau wokam dengan Pulau Kobror. Desa jirlay menarik untu didatangi terkait penelitian, karena semua Orang Aru masih melekat tradisi kemaritiman perahu. karena cerita setempat semua Orang Aru memiliki perahu belang.

Survei di Desa Kobrour

Desa Kobrour Kecamatan Pulau-pulau Aru masuk dalam lokus penelitian, karena ada informasi di masyarakat tentang peninggalan kerangka tulang manusia dan pendukungnya sosok Panglima perang Maluku Kapitan Jongker. Menurut cerita masyarakat setempat bahwa ada bekas kerangka manusia dengan pendukungnya berupa parang, manic-manik, serta kerngka manusia itu berada dalam kotak peti.

Tim mendatangi desa tersebut untuk mengkonfirmasi dn survei, namun cerita tersebut hanya sebatas pernah didengar oleh sebagian penduduk. Penduduk lain malahan baru pernah mendengar cerita tersebut. Menurut beberapa informan yang tim temui, memang ada cerita tersebut, namun yang  pastinya  orang  yang  pernah  bertemu  dan  melihat  peninggalan tersebut kurang pasti. Tetapi memang orang Desa Kobraur, dan umurnya sudah tua, beliau petani hari-hari selalu ke kebun. Pada saat tim datang beliau sementara di kebun menginap.(LW)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.