PENELITIAN ARKEOLOGI PRASEJARAH: Kampung-Kampung Tua di Pulau Ambon dan Lease, Provinsi Maluku - Balai Arkeologi Provinsi Maluku

PENELITIAN ARKEOLOGI PRASEJARAH: Kampung-Kampung Tua di Pulau Ambon dan Lease, Provinsi Maluku

Pesisir Selatan Pulau Ambon Tampak dari Situs Negeri Rutong
Pesisir Selatan Pulau Ambon Tampak dari Situs Negeri Rutong
Peta Pulau Ambon
Peta Pulau Ambon

Kepulauan Ambon Lease adalah sebutan untuk gugusan Pulau Saparua, Haruku, Nusalaut dan Ambon. Berdasarkan letak geografis posisi gugusan Kepulauan Ambon Lease berdekatan antara satu dengan yang lain dan dapat ditempuh dengan perjalanan laut. Keunikan Kepulauan Ambon Lease terlebih telah memberikan perhatian kepada Balai Arkeologi Ambon dalam melakukan penelitian terhadap tinggalan-tinggalan arkeologi  pada gugusan kepualauan dimaksud. Pulau Ambon Lease terdiri dari beberapa gugusan pulau, yaitu Pulau Ambon, Saparua, Haruku, dan Nusalaut. Geografis gugusan Pulau Ambon Lease berdekatan antara satu dengan yang lain yang dipisahkan oleh lautan. Secara administrasi Pulau Ambon Lease terdiri dari dua pemerintahan, yaitu Kota Ambon yang berada di Pulau Ambon dan Kabupaten Maluku Tengah meliputi sebagian wilayah Pulau Ambon dengan Ibukota Kabupaten Masohi di Pulau Seram.

Pulau Ambon sebagai salah satu situs penelitian arkeologi berskala kawasan memberikan perhatian dan dampak lebih, baik dari sisi temuan arkeologi, pelaku arkeologi (pemerintah maupun masyarakat). Kemunculan gagasan penelitian di Pulau Ambon, khususnya di Kota Ambon adalah sumbang pemikiran  banyak pihak, antara lain Pemerintah Daerah/Kota/Kabupaten, pemerhati sosial budaya, siswa sekolah serta pihak-pihak lainnya yang berkecimpun di bidang sejarah, sosial budaya. Gagasan ini kemudian dibawa dalam rapat teknis penyusunan program penelitian tahun 2016 Balai Arkeologi Maluku, dibahas oleh para peneliti dan Kepala Balai Arkeologi. Rapat tersebut mengahasilkan kesimpulan tentang tema penelitian prasejarah arkeologi di Pulau Ambon yaitu Kampung-Kampung Tua di Pulau Ambon dan Lease. Alasan pemilihan judul tersebut, karena begitu banyak tinggalan-tinggalan arkeologi yang ada di Pulau Ambon, khususnya di wilayah pegunungan dan belum tersentuh maksimal oleh Balai Arkeologi Ambon.

Lokasi penelitian arkeologi prasejarah Kampung-Kampung Tua di Pulau Ambon meliputi beberapa situs yang telah dikelompokkan guna mempermudah dan memperlancar penelitian di lapangan, yaitu Situs I meliputi; 2 Kecamatan, yaitu Kecamatan Leitimur Selatan dan Sirimau. Situs II meliputi ; 2 Kecamatan, yaitu Kecamatan Teluk Ambon dan Baguala. Situs III meliputi ; 1 Kecamatan, yaitu Nusaniwe. Situs IV meliputi : Kabupaten Maluku Tengah, Kecamatan Salahutu, Haruku, Saparua dan Nusalaut. Berikut adalah peta pengelompokkan situs untuk kemudahan pembaca:

Pembagian Wilayah Situs
Pembagian Wilayah Situs

Situs I adalah wilayah di Jasirah Leitimur Pulau Ambon, tepatnya di pegunungan Kota Ambon, meliputi Kecamatan Sirimau, yaitu Desa Soya. Kecamatan Leitimur Selatan, yaitu Desa Hatalai, Naku, Kilang, Ema, Leahari, dan Rutong. Secara administratif wilayah-wilayah tersebut masuk dalam Pemerintahan Kota Ambon. Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1979 luas wilayah Kota Ambon seluruhnya 377 Km2  dan berdasarkan hasil Survei Tata Guna Tanah tahun 1980 luas daratan Kota Ambon tercatat 359,45 km. Wilayah Kota Ambon sebagian besar terdiri  dari  daerah  berbukit  yang berlereng terjal seluas ± 186,90 km atau 73 persen dan daerah dataran dengan kemiringan sekitar 10 persen seluas ± 55 km2 atau  17 persen dari total luas wilayah daratan (BPS, 2015). Secara geografis, Kecamatan Sirimau berbatasan dengan Teluk Ambon di sebelah Utara, sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Hatalai dan Desa Ema (Kecamatan Leitimur Selatan), sebelah Timur berbatasan dengan Desa Halong (Kecamatan Teluk Ambon Baguala) dan sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Urimessing dan Kelurahan Silale (Kecamatan Nusaniwe). Sesuai Perda Kota Ambon No 2 Tahun 2006 luas Kecamatan Sirimau adalah 86,81 Kilometer persegi, luas Kecamatan Leitimur Selatan dan Kecamatan Teluk Ambon adalah 50,50 kilometer persegi.

Pintu Masuk Situs Negeri Lama Kilang
Pintu Masuk Situs Negeri Lama Kilang
Batu Papua Negeri Kilang sebagai Penanda Pintu Masuk Negeri
Batu Papua Negeri Kilang sebagai Penanda Pintu Masuk Negeri
Gamelan dari Kerajaan Majapahit di Negeri Ema
Gamelan dari Kerajaan Majapahit di Negeri Ema

Survei arkeologi prasejarah kampung-kampung tua di Pulau Ambon dan Lease menemukan beberapa karakter arkeologi dan pendukungannya antara lain hunian awal atau kampung lama, batu teong (dolmen, menhir), steling Jepang, pecahan gerabah polos, pecahan keramik, keramik motif Eropa dan Cina, tempayang tua, peralatan musik gong, tombak majapahit berserta tempat sirih pinang, air majapahit, tombak para kapitan dan malessi.  informasi penting lainnya, bahwa terdapat beberapa lokasi tidak dapat dijangkau oleh tim, karena alasan cuaca dan medan yang bertebing dan licin.

Tim Berada di Situs Negeri Kilang
Tim Berada di Situs Negeri Kilang
Salah Satu Batu Teung di Negeri Soya
Salah Satu Batu Teung di Negeri Soya
Batu Teung Peimahu di Negeri Hukurila
Batu Teung Peimahu di Negeri Hukurila

Salah satu temuan menarik adalah jenis keramik tempayang naga masih utuh yang sangat tua, oleh pemiliknya sudah berada di keluarganya kurang lebih sudah 200 tahun lebih, dari leluhur moyang mereka. Tempayang ini berada di Desa Ema, Kecamatan Leitimur Selatan Kota Ambon, Pulau Ambon. Pada badan tempayang terdapat ukiran naga utuh dengan cakar, kuku, kumis, badan hingga kepala dan kakinya. Tempayang berwarna hijau tua, mempunyai telinga dua buah pada bagian atas dekat lubang.

Tempayang Naga di Negeri Ema
Tempayang Naga di Negeri Ema

Kampung lama atau hunian awal Orang Hukurila berada pada posisi ketinggian 145 meter dari permukaan laut. Berada di bagian atas perkampungan Hukurila sekarang. Perjalanan dari kampung ditempuh dengan jarak perjalanan kurang lebih 1 jam dengan melewati punggungan

Lutur Anak Tangga Menuju Bekas Baileo Negeri Hukurila
Lutur Anak Tangga Menuju Bekas Baileo Negeri Hukurila

 gunung dan tanjakan menukik. Kampung lama berupa alam terbuka dengan susunan lutur batu. Akan tetapi kampung lama (bagian lutur) telah ditutupi oleh sendimen tanah, sehingga kelihatan bagian atas lutur saja. Sebagian anak tangga lutur Nampak jelas. Kampung lama oleh Orang Hukurila adalah baileo (alam terbuka). Menuju puncak baileo melewati 4 anak tangga, setelah sampai bagian paling atas ditemukan sebuah batu meja berukuran sedang, bulat digunakan untuk meneruh sirih pinang ketika acara adat berlangsung. Kampung lama masih digunakan dalam kegiatan upacara adat, seperti cuci negeri dan pelantikan raja.

Tim Penelitian Melihat Koleksi Keramikyang Ditemukan oleh Warga
Tim Penelitian Melihat Koleksi Keramikyang Ditemukan oleh Warga
Peninggalan Bungker Jepang di Negeri Rutong
Peninggalan Bunker Jepang di Negeri Rutong

Desa Rotung Kecamatan Leitimur Selatan, Pulau Ambon memiliki beberapa tinggalan Jepang, karena dulu salah satu pusat Jepang di Pulau Ambon di Desa Rutong bagian Utara dari Pulau Ambon. Menurut tokoh adat dan pemerintah Desa Rotung, bahwa dulu disini peninggalan Jepang sangat banyak, namun seiring perkembangan zaman barang-barang tersebut sudah dijal oleh masyarakat. Tetapi peninggalan lain, masih ada. Hasil survei tim arkeologi ambon menemukan 3 buah bunker Jepang masih dalam keadaan utuh beserta parit (lubang) antara satu bunker ke bunker yang lain. Beberapa situs bunker lokasinya di jadikan sebagai kebun penduduk, menanam nanas, kasbi pisang. Keberadaan situs bunker pada kepemilikan marga atau matarumah di Desa Rutong. Posisi bunker berada pada wilayah dataran tinggi. Posisi bunker dekat dengan jalan raya yang dibuat oleh Pemerintah Provinsi/Kota menghubungkan Desa Rutong serta desa-desa tetangga lainnya menuju Pusat Kota Ambon.

Infromasi penting lainnya, bahwa masih banyak sebaran bunker Jepang  di wilayah petuanan Rutong hingga ke daerah Passo. Namun tim hanya melakukan survei di Rutong, itu pun tidak semua situs bunker. Dulu di Rutong dibangun stasiun radio oleh jepang, dengan cara menggunakan tanaman pohon durian yang tinggi-tinggi menaruh/mengkaitkan kabel dari satu pohon ke pohon lainnya. Tanaman durian tersebut sampai sekarang masih ada. Lokasinya berada di belakang kampung.

Batu 'Minum Air' di Negeri Rutong
Batu ‘Minum Air’ di Negeri Rutong
Salah Satu Batu di Kompleks Batu Musyawarah, Negeri Rutong
Salah Satu Batu di Kompleks Batu Musyawarah, Negeri Rutong

Orang-orang  pegunungan Kota Ambon, Pulau Ambon menyebut kampung lama dengan sebutan hunian awal, kampung tua dan kampung lama atau baileo. Makna kampung lama atau hunian awal atau kampung tua atau baileo identik dengan proses migrasi kelompok-kelompok masyarakat dari Pulau Seram,Banda, Jawa-Tuban, dan Papua. Setiap kelompok memiliki wilayah persinggahan (migrasi) di Pulau Ambon yang ditandai dengan simbol alam (pantai, gunung, batu, pohon dan air). Kampung-kampung tua di Pulau Ambon, Kota Ambon pegunungan memiliki beberapa ciri, antara lain:

  1. a) Batu teong (megalitik) sebagai penanda situs; dolmen atau menhir adalah bukti penanda situs lokasi pernah dilakukan aktifitas manusia masyarakat kelompok tertentu. Pada situs batu teong diberi nama sesuai dengan kelompok-kelompok migrasi tersebut.
  2. b) Berada pada posisi dataran tinggi (pegunungan); gunung adalah lokasi yang paling bagus dalam sistim pertahanan, keamanan, serta kekuasaan. Karena posisi yang tinggi, sangat strategis dalam pandangan serta mudah mengontrol kelompok-kelompok lain yang datang.

c.) Orientasi kampung lama, gunung dan pantai; kosmologi orang pegunungan Kota Ambon, Pulau Ambon mengetahui dan memahami pandangan kampung lama atau hunian awal atau kampung tua, bagian depan kampung menghadap gunung sedangkan belakang kampung menghadap  pante atau pantai.

d.) Tradisi berlanjut, masih dipergunakan dalam kegiatan-kegiatan adat seperti pelantikan Raja, dan Cuci Negeri; kampung tua Orang pegunungan Kota Ambon, Pulau Ambon mempunyai hubungan dalam tradisi pelaksanaan pelantikan Raja, serta cuci negeri. Tradisi cuci negeri biasanya dilakukan pada bulan terakhir tahun berjalan. Seluruh kampung dari kampung lama hingga kampung baru dibersihkan dengan proses-proses adat sesuai aturan adat tiap desa yang berlaku.

Kampung-kampung tua di Pulau Ambon, Kota Ambon pegunungan memiliki bentuk-bentuk, antara lain:

a.) Situs Kawasan berupa alam terbuka dengan susunan batu (lutur) membentuk perkampungan.

b.) Memiliki susunan anak tangga (trap-trap) dari batu.

c.) Muka kampung menghadap Utara dan Belakang kampung menghadap Selatan.

d.) Terdapat sebaran batu teong (megalitik dolmen dan menhir) berukuran besar hingga kecil.

e.) Pada lokasi batu-batu teong telah berevolusi menjadi perkampungan penduduk, dengan pembagian genealogis kelompok-kelompok migrasi tersebut. Misalnya Desa Kilang di batu teong  Lisapoli terdiri dari marga-marga Latuheru dan Pattimahu. Rumah-rumah penduduk yang berada di sekitar batu adalah turunan anak cucu moyang dari teong lisapali.  Kampung-kampung tua di Pulau Ambon, Kota Ambon pegunungan memiliki fungsi, yaitu sebagai media dalam pelaksanaan ritual-ritual adat, misalnya pelantikan Raja dan Cuci Negeri. Pada upacara dimaksud, terjadi interaksi simbolik antar situs dalam melengkapi suatu sistim budaya masyarakat tertentu.

Setelah melakukan penelitian dan pengamatan dilapangan terdapat beberapa hal mendasar yang perlu segera untuk ditindak lanjuti oleh Pemerintah, Swasta, maupun masyarakat, yaitu:

  1. Perlu dengan segera mencatat, mengiventaris sebagai cagar budaya, sesuai amanah Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010.
  2. Perlu untuk melakukan penelitian lanjutan guna menyelesaikan situs-situs yang belum dapat diselesaikan dengan baik, karena keterbatasan waktu dan pengaruh cuaca hujan. Sangat berpotensi untuk melakukan ekskavasi pada situs kampung-kampung tua pegunungan Kota Ambon, Pulau Ambon.
  3. Guna menunjang program Rumah Peradaban, situs kampung tua pegunungan Kota Ambon, Pulau Ambon sangat berpotensi.
  4. Situs-situs di pegunungan Kota Ambon, Pulau Ambon sangat menarik dan dapat dijadikan sebagai situs binaan arkeologi. Program sekolah lapangan guna sosialisasi arkeologi dan berkontribusi dalam pendidikan dan kebudayaan.
  5. Sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah, sosial budaya, serta edukasi. (LW)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.