Outbound Archaeology Rumah Peradaban Banda 2016 - Balai Arkeologi Provinsi Maluku

Outbound Archaeology Rumah Peradaban Banda 2016

logo-rp-banda

Outbound Arcaheology, salah satu kegiatan utama dalam rangkaian rumah Peradaban Banda 2016, diikuti oleh sekitar 200an siswa dan sekitar 20an orang guru pendamping.  Outbound archaeology digelar untuk memberikan pengenalan kepada para siswa se Pulau banda untuk lebih mengenal dunia arkeologi dan tinggalan budaya di Pulau Banda, agar lebih mengenal dan mencintai berbagai tinggalan arkeologi di wilayah Pulau Banda sehingga mendorong siswa untuk berperan serta dalam menjaga dan melestarikansumberdaya arkeologi di Pulau Banda. Outbound Archaeology sebagai salah satu rangkaian dari program rumah peradaban Banda, merupakan bagian dari aspek mengungkap, memaknai dan mencintai tinggalan budaya kepada para siswa, sehingga para siswa sebagai generasi penerus memahami makna-makna yang tersampaikan dari tinggalan budaya tersebut. Rumah Peradaban Banda tahun 2016 mengambil tema “Multibudaya Banda Menuju Warisan Dunia” sesungguhnya hendak mengabarkan kepada masyarakat dunia, bahwa kawasan Banda dengan sejarah multibudayanya dan berbagai kesiapan dari berbagai potensi sungguh layak dikembangkan sebagai warisan dunia. Pemahaman siswa tentang tinggalan budaya dan Banda sebagai warisan dunia, merupakan langkah penting, agar para siswa semakin memahami, proyeksi di masa akan datang tentang perkembangan ke depan Banda di mata dunia. Selain itu hal yang paling penting adalah, pemahaman para siswa tentang sejarah multikultur atau multibudaya orang Banda, sehingga Banda hadir sebagai sebuah salah satu wilayah di Maluku yang merepresentasikan kemajemukan, dan hingga kini masyarakat dapat hidup berdampingan. Cara mengkomunikasikan pengetahuan dan pelajaran berharga dari masa lalu tentang kemajemukan adalah dengan  mengenalkan siswa tentang bukti-bukti arkeologi yang menggambarkan sejarah kemajemukan atau multibudaya Bandp_20161109_102204a. Melalui Outbound, siswa diperkenalkan tinggalan budaya seperti gereja tua, kelenteng tua, masjid tua dan tinggalan-tinggalan lain, bahkan artefak kuno keramik dari berbagai manca negara adalah bukti adanya kemajemukan budaya. Hal ini karena dari tinggalan arkeologi baik monumental maupun artefaktual para siswa dapat memahami daerah asal budaya tersebut dan para pembawanya juga membawa budaya tak benda atau tradisi yang masih terus hidup hingga kini. Kegiatan outbound arkeologi dirancang sebagai program khusus ditujukan untuk kelangan pelajar tingkat SMP hingga SMA di wilayah Kepulauan Banda. Kegiatan ini adalah paduan atau kombinasi antara sekolah lapangan (Fieldschool) arkeologi dengan dinamika kelompok yang dilakukan di situs-situs arkeologi yang dikunjungi. Kegiatan ini selain berupa kunjungan situs dan sosialiasi atau penyuluhan arkeologi bagi siswa, juga berbagai simulasi dan lomba dalam rangka pengenalan hasil penelitian arkeologi secara langsung di lapangan. Kegiatan ini dirancang sedemikian rupa, agar lebih dinamis dan lebih mudah merangsang minat dan ketertarikan kalangan pelajar untuk memahami sumberdaya arkeologi di lingkungannya. Outbound arkeologi adalah kegiatan untuk peserta siswa tingkat SLTP dan SLTA di banda Naira, untuk memperkenalkan beberapa tinggalan arkeologi di wilayah Banda Naira. Kegiatan meliputi Kunjungan Situs (fieldtrip) dan Permainan (Dinamika Kelompok) . Outbound training adalah bentuk pembelajaran perilaku kepemimpinan dan manajemen di alam terbuka dengan pendekatan yang unik dan sederhana tetapi efektif karena pelatihan ini tidak sarat dengan teori-teori melainkan langsung diterapkan pada elemen-elemen yang mendasar yang bersifat sehari-hari, seperti saling percaya, saling memperhatikan serta sikap proaktif dan komunikatif. Dimensi alam (beserta obyek cagar budaya) sebagai obyek pendidikan bisa menjadi laboratorium sesungguhnya dan tempat bermain yang mengasyikan dengan berbagai metodenya. Rute Fieldtrip : Star dari Istana Mini – Gereja Tua Banda- Kelenteng kuno- Rumah Budaya Banda- Benteng Beligica- Benteng Nassau dan finish di Istana Mini. Dalam outbound arkeologi, siswa juga diajak melakukan berbagai permainan dinamika kelompok. Di awali start dari istana Mini, siswa diajak bermain meniup bola kapas yang umum ditemui dalam permainan dinamika kelompok.  Peserta  dibagi menjadi 10 kelompok (sekitar lima anggota dalam setiap kelompok). Peserta diberi waktu untuk membuat 10 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 6 orang (5 orang ikut bermain, 1 orang mencatat hasil pengamatannya).  Penitia dan guru pendamping membantu membentuk kelompok. Fasilitator menyediakan waktu 5 menit untuk pembentukan kelompok. Kelompok bukan berasal dari sekolah yang sama, namun diacak. Dalam waktu yang singkat kelompok dari berbagai sekolah sudah harus terbentuk.  Setiap tim diberi sebuah bola kecil terbuat dari kapas. Bola kapas tersebut ukuran dan beratnya lebih kurang sama. Setiap tim harus menunjuk seorang pengamat yang akan mengawasi dan mencatat tentang bagaimana kelompok ini bermain. Si pengamat ini tidak ikut bermain dalam permainan. Dia harus mencatat hal – hal yang menyebabkan keberhasilan atau kegagalan mereka dalam permainan ini. Contohnya, peran yang jelas dari setiap anggota. Tugas kelompok : (1) Menjaga bola kapas tetap melayang.; (2) setiap tim diberi waktu 5 menit untuk berdiskusi di antara mereka tentang bagaimana agar bola kapas tetap terapung di udara.; (3) Semua akan memulai permainan pada waktu yang sama. Waktu permainan 5 menit; (4) Siapa saja yang berhasil paling lama menjaga bola kapas tetap melayang di udara dialah pemenangnya; (5) Permainan ini bisa dimainkan sampai beberapa putaran.5) Setelah permainan selesai tiap pengamat dari masing-masing kelompok tadi menyampaikan hasil pengamatan mereka. 6) Peserta  kemudian harus menjawab pertanyaan, Bagaimanakah perasaan peserta melakukan permainan ini ? Bagaimanakah Kelompok dapat membuat bola kapas melayang di udara ?Apakah ada anggapan yang mengira kalau tidak mampu membuat bola kapas terus melayang di udara ? Mengapa ?Permainan ini adalah untuk memancing siswa dalam berpikir analitis dan problem solving, serta memancing kerjasama siswa dalam tim.  Selanjutnya siswa melakukan permainan dinamika kelompok di Benteng Belgica dalam permainan “Menggambar Berantai”,p_20161109_102527

  • Tiba di lokasi, orientasi situs, peserta dan guru pendamping, melakukan pengamatan situs
  • Peserta mendengarkan paparan atau penjelasan singkat mengenai situs oleh narasumber berkaitan dengan sejarah situs dan fungsi serta hal terkait dengan keberadaan benteng.
  • Tanya jawab singkat (10 menit)
  • Peserta dibagi menjadi 10 kelompok (sekitar lima anggota dalam setiap kelompok). Peserta diberi waktu untuk membuat 10 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 6 orang (5 orang ikut bermain, 1 orang mencatat hasil pengamatannya). Penitia dan guru pendamping membantu membentuk kelompok. Fasilitator menyediakan waktu 5 menit untuk pembentukan kelompok. Kelompok bukan berasal dari sekolah yang sama, namun diacak. Dalam waktu yang singkat kelompok dari berbagai sekolah sudah harus terbentuk.
  • Setiap kelompok (5 orang) secara berantai atau bergantian menggmbar sketsa denah benteng Belgica dari kertas-kertas plano yang di siapkan oleh panitia.
  • Panitia meletakkan kertas-kertas plano di tempat-tempat yang cukup terbuka dan secara acak, serta masing-masing dituliskan kelompok-kelompok siswa (Basudara 1 sampai dengan Basudara 10)
  • Lokasi keletakan kertas plano meskipun di tempat terbuka, tapi tidak diberitahukan ke peserta, pesertp_20161109_113954p_20161109_102236a diminta mencari kertas plano sesuai dengan kelompoknya.
  • Setiap kelompok, harus menggambarkan sketsa denah benteng belgica secara berantai atau bergantian di atas kertas plano sesuai kelompoknya (kertas plano tidak boleh tertukar satu kelompok basudara dengan kelompok basudara lain). Makna yang diambil dari hal ini, adalah mendoktrin siswa meskipun bersaudara, tidak boleh mengambil hak satu dengan yang lain, saling menghargai hak masing-masing basudara.
  • Setelah waktu dinyatakan selesai, pengamat masing-masing tim, diminta menceritakan atau menyampaikan hasil pengamatannya.Peserta  kemudian harus menjawab pertanyaan tersebut di bawah ini, Bagaimanakah perasaan peserta melakukan permainan ini ?Bagaimanakah Kelompok dapat menggambar secara berantai obyek situs Benteng Belgica. Apakah kesulitan dalam menggambar berantai, dan bagaimana kesulitan itu bisa diatasi ? Apakah kerjasama sudah berjalan baik dan bagaimana membangun pemikiran yang sama dalam menggambarkan satu obyek bangunan cagar budaya. tidak hanya siswa, para guru dan panitia juga terlibat permainan dinamika kelompok ini. (WH)

p_20161109_102236 p_20161109_102533

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.