Megalitik di Garis Khatulistiwa (Tahap III) - Balai Arkeologi Provinsi Maluku

Megalitik di Garis Khatulistiwa (Tahap III)

Kondisi Makan Tua atau Jere di Halmahera

Penelitian ini merupakan lanjutan dari rangkaian penelitian multi years dengan judul yang sama, yang telah kami laksanakan sejak tahun 2018, dan pada tahun ini memasuki tahap yang ketiga. Sesuai dengan judulnya maka penelitian tahun ini dilaksanakan dengan menerapkan metode desk studi atau penelususran pustaka. Yang menjadi sasaran penelitian ini adalah seluruh data mengenai tinggalan megalitik di wilayah Halmahera dan sekitarnya, yang terekam dalam hasil penelitian arkeologi yang telah dilaksanakan sebelumnya. Hasil penelusuran pustaka terhadap hasil penelitian arkeologi melalui laporan penelitian dihimpun dan diklasifikasi berdasarkan jenis data, dan data yang ditampilkan dalam laporan penelitian desk studi ini adalah hanya data megalitik, baik budaya maupun tradisi. Selain itu, data sejarah dan etnografi juga turut mendapat perhatian, karena diyakini bahwa sejarah dan etnografi merupakan ilmu bantu yang dapat mendukung analisis dan eksplanasi hasil penelitian arkeologi.

Lokus penelitian berada di Pulau Tidore, Pulau Moti, dan Pulau Halmahera. Adapun data arkeologi berciri megalitik yang terangkum dalam penelitian ini antara lain adalah batu datar, makam atau jere, batu berlubang, batu bergores, lesung batu. Data penelitian tersebut dapat diuraikan sebgai berikut:

  1. Pulau Tidore
    Kawasan Situs di Desa Topo
    Kawasan situs di Desa Topo, Kecamatan Tidore, Kota Tidore Kepulauan, terekam dalam penelitian arkeologi di tahun 2019. Di dalamnya terdapat situs pemukiman kuno Jiko, Kompleks Makam Jere Jou serta situs ritual Mufajara dan Kofu.

a) Kompleks Makam Jere Jou
Kompleks Makam Jere Jou berada dalam area perkebunan cengkeh masyarakat Topu dengan posisi astronomis 00° 39.266‟ Lintang Utara dan 127° 25.461‟ Bujur Timur di ketinggian 405 mdpl. Dalam Bahasa Tidore, Jere Jou makam raja. Secara keseluruhan terdapat tujuh (7) makam yang tiga (3) diantaranya merupakan makam para Kolano yaitu Duku Madoya, Kolano Kie Matiti dan Kolano yang belum diketahui namanya (merupakan ayah dari salah satu Kolano tersebut). Secara umum kompleks makam tersebut dibatasi dengan susunan batu membentuk pagar keliling yang beorientasi ke
arah Utara (3510 ). Pada masing-masing makam memiliki jirat berupa susuanan batu dengan dimensi ukuran tinggi ±100 cm dengan ketebatalan maksimal 65 cm.

b) Situs Mafujara
Situs Mafujara merupakan lokasi ritual masyarakat Topo yang disebut ritual Goya Buru. Situs tersebut berada di sebelah barat Situs Jiko dan sebelah utara pusat perkampungan Topo. Lokasi Situs cukup dekat dari pusat pemukiman ±200 m. bentang lahan situs berbukit dimana pusat ritual berada pada rumpun pohon bambu. Di lokasi pusat ritual terdapat batu serta rumah-rumah kecil yang terbuat dari bambu serta dipan yang juga terbuat dari bilah-bilah bambu. Selain tempat pusat ritual, lokasi lain yang juga menjadi bagian dari prosesi ritual Goya Buru adalah sebuah hamparan/lahan dimana terdapat sebuah batu besar. Lokasi ini berada di sisi bukit lain di sebelah timur berjarak sekitar 40 m dari pusat ritual dan terdapat sebuah batu besar sebagai tempat pembakaran dupa.

c) Situs Kofu
Situs Kofu berada di sebelah utara Situs Mafujara dan juga merupakan tempat ritual. Situs Kofu merupakan sebuah puncak bukit dimana terdapat sebuah batu besar yang menjadi penanda. Pengamatan di sekitar area ini terdapat bekas-bekas ritual berupa pembakaran dupa. Situs Kofu bagi masyarakat Topo dipercaya merupakan tempat pertemuan atau musyawarah antara mubaligh atau penyiar Islam dengan pemimpin lokal yang disebut dengan deklarasi Togorebo.

d) Kawasan Kampung Adat Gurabunga
Pada Kawasan Adat Gurabunga di dalamnya terdapat enam (6) rumah adat yang disekitarnya juga ditemukan sebuah batu yang digunakan sebagai medium pemujaan atau ritual. Tepatnya bagian belakang rumah adat Fola Jiko Sarabi, batu tersebut terletak. Batu pipih atau datar berbentuk persegi dengan masing-masing sisi yang tidak rata dengan ukuran batu ±55 x 50 cm. Kawasan Situs Toloa Kawasan situs Toloa, termasuk dalam wilayah administrasi Kelurahan Topo, Kecamatan Tidore Selatan, Kota Tidore Kepulauan. Dari penelitian arkeologi di tahun 2019, mendata sejumlah situs yaitu bekas pondasi Kedaton Biji Negara, Benteng Toloa, Kompleks Makam Guragan, situs Buku Mayou dan sebuah lokasi dekat dengan bekas pondasi Kedaton yang di dalamnya terdapat puluhan batu dakon atau batu berlubang. Selanjutnya beberapa lokasi yang memiliki temuan dengan ciri-ciri megalit akan diuraikan.

  1. Kompleks Makam Guragan dapat diakses dengan menggunakan kendaraan roda empat dan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 20 meter. Kompleks makam tersebut berada di sisi timur pemukiman, atau kurang lebih sekitar 300 meter bagian utara Benteng Toloa dan perkebunan warga. Kompleks Makam Guragan di dalamnya terdapat 40 makam yang terbagi menjadi 17 makam kuno yang bercampur dengan 23 makam baru. Untuk dua makan kuno dengan tipe nisan menhir mimiliki lubang. Nisan pertama, dengan ukuran tinggi 40 cm dan lebar 20 cm, memiliki tujuh (7)lubang di sisi depan dan tiga (3) lubang di sisi belakangnya. Nisan pertama, dengan ukuran tinggi 20 cm dan lebar 20 cm, memiliki satu (1) lubang di sisi depan dan dua (2) lubang di sisi belakangnya. Selain itu, disekitar makam juga ditemukan masing sebuah batu dakon dan batu bergores. Untuk batu dakon dengan ukuran panjang 60cm dan lebar 40 cm memiliki tiga (3) lubang dipermukaannya. Untuk batu bergoresyang keseluruhan sisinya dipahat hingga bentuk bulat dengan diameter 30 cm dengan goresan vertikal di permukaannya. Di sekitar makam juga terdapat batu dakon yang memiliki 3 lubang dengan panjang 40 cm dan lebar 60 cm, dan jugaditemukan batu berbentuk lingkaran yang bergaris dengan diameter 30 cm.
  2. Situs Buku Mayou Situs Buku Mayou berada di sebelah timur atau ±200 meter dari lokasi bekas pondasi Kedaton Biji Negara, pada posisi astronomis 000 39‟06.6” dan 1270 22‟09.2” di ketinggian 75 mdpl. Di lokasi situs di temukan batu lumpang serta pecahan wadah tembikar dan keramik asing. Area sekitar situs tampak dibuat undakan-undakan dengan menyusun batu sebagai penahan tanah agar tetap datar.
  3. Situs Kedaton Biji Negara Batu Dakon, Batu Asah, dan Bergores di temukan tersebar di lokasi dekat pondasi kedaton ditemukan batu asah batu dakon atau batu berlubang dan bergores. Keseluruhan temuan tersebut ini terletak di sekitar rumah penduduk bahkan beberapa diantaranya berada persis di samping atau belakang rumah.

2. Pulau Halmahera

  1. Situs Jere (Makam Kuno) Situs Makam Kuno di Pulau Moti terekam dalam penelitian arkeologi 2014. Termasuk dalam wilayah admnistrasi Kecamatan Moti, Kota Ternate, dengan posisi astronomis 000 28‟41.8” Lintang Utara dan 1270 24‟52.3” Bujur Timur. Situs tersebut berada dalam kawasan bukit yang sama dengan struktur bekas redout atau benteng kecil yang berfungsi sebagai pos pengawas untuk memantau keadaan sekitarnya. Tepatnya di sisi timur laut struktur bekas redout, tiga (3) makam kuno ini berada, yang disebut jere oleh masyarakat setempat. Ketiga makam berdekatan dengan pinggiran dibatasi dengan batu yang diatur dengan bentuk persegi dengan dimensi ukuran 2,5×2,10 meter. Masingmasing makam memiliki dua buah batu nisan dengan bentuk pipih (Mansyur, 2014).
  2. Situs Jere Mobon Pulau Mobon berada termasuk dalam wilayah admnistrasi Kecamatan Maba Selatan, Kabupaten Halmahera Timur. Saat ini, pulau tersebut digunakan sebagai lokasi pemakaman umum masyarakat Desa Soagimelaha yang dapat diakses menggunakan perahu. Terdapat dua jere di pulau tersebut yang diperuntukan bagi kaum laki-laki dan perempuan yang sering di kunjungi untuk melakukan ritual ketika musim haji. Kedua jere ditandai dengan susunan atau tumpukan batu yang di atas terdapat kumpulan piring. Situs Jere sering digunakan sebagai tradisi berlanjut, yaitu musim Haji sering orang datang ke situs sembayang. 2.3.4 Pulau Halmahera 1. Situs Keramat Tanjung Dubu Situs Keramat Tanjung berada di Desa Sarau, Kecamatan Ibu Selatan, Kabupaten Halmahera Utara. Terletak pada posisi astronomis 010 32‟51.98” Lintang Utara dan 1270 38‟05.53” Bujur Timur di ketinggian 200 mdpl dengan jarak ±3 km dari garis pantai. Medium pemujaan pada situs tersebut berupa pohon bambu besar yang setiap hari jumat dikunjungi untuk meletakan sesajen berupa ayam putih, nasi bambu, nasi kuning dan telur. 2. Situs Jere Wae Mia Situs Jere Wae Mia yang berarti air darah, berada Desa Soagimalaha, Kecamatan Kota Maba, Kabupaten Halmahera Timur. Situs jere tersebut merupakan keramat yang sering digunakan oleh masyarakat untuk tradisi berlanjut seperti misalnya naik haji dan lainnya. Lokasi jere dikelilingi tembok beton. Bentuk jere ditandai dengan susunan batu melingkar dengan diameter ±4 m yang bagian tengahnya terdapat kumpulan piring yang tersusun dan wadah tembikar berisi kemenyan.
  3. Situs Tanjung Luari berada dalam wilayah administrasi Desa Luari Kecamatan Tobelo Utara. Informasi situs tersebut diperoleh dari laporan penelitian arkeologi, Pusat Penelitian arkeologi tahun 1994. Lokasi situs berada di bukit dan dekat dengan sungai, dikenal dengan kawasan salang burung yang merupakan dinding dari batuan breksi vulaknik yang di dalamnya terdapat fragmen tulang manusia yaitu tulang pengumpil (ulna) dan tulang hasta (radius). Di bagian timur dari lokasi situs juga ditemukan pecahan wadah tembikar dan sebuah bongkahan batu andesit yang dipahat dengan bentuk raut wajah manusia yang disebut sebagai batu paha oleh masyarakat sekitar. Papan batu atau batu paha sebagai temuan yang mencirikan masa logam awal (Awe & Intan, 1994). 4. Situs Ruko Situs Ruko berada dalam wilayah administrasi Desa Ruko Kecamatan Tobelo Utara, terletak pada astronomis 01°46‟16.0‟‟ LU dan 127°57‟32.2” BT, yang terdata pada tahun 2014 dari penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Provinsi Maluku. Lokasi situs berada pada wilayah bukit yang dekat aliran sungai Mede. Situs Ruko, dalam tuturan masyarakat merupakan salah satu situs pemukiman kuno atau kampung tua merupakan tempat bermukim masyarakat Ruko pada masa lampau dan merupakan salah satu benteng pertahanan tradisional masyarakat pada masa lampau sebelum dikuasai Portugis. Sumber lain juga menyebutkan, lokasi tersebut pada masa pendudukan Portugis pernah dijadikan sebagai lokasi pertahanan Bangsa Portugis yang sempat membangun benteng namun belum selesai pengerjaannya sudah dihancurkan oleh Belanda. Sekitar tahun 1557, wilayah Ruko dikuasai oleh Portugis, dijadikan sebagai pusat pemukiman, sebelum kemudian pindah di wilayah Mamuya, sebelah selatan Ruko saat ini. Penelitian di situs Ruko menemukan struktur batu yang diduga sebagai susunan batu bekas perbentengan, yang kemungkinan menunjukkan bekas struktur benteng tradisional masyarakat Ruko sebelum dikuasai Portugis. Selain itu, di pinggiran jurang atau areal situs, ditemukan fragmen batu yang bercampur atau melekat kapur dengan pasir. Meyangkut keberadaan susunan batu, terdapat tradisi tutur masyarakat Ruko yang menceritakan tentang keberadaan Benteng, yang dibangun Portugis pada masa lampau. Selain struktur benteng di situs tersebut juga ditemukan sebuah batu lumpang dengan kondisi bagian dalam yang rusak (berlubang), ini sebagai penanda pemakaian batu lumpang untuk menumbuk secara intesif (Handoko, 2014). -Marlyn Salhuteru

© 2020 Balai Arkeologi Maluku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.