web analytics

Megalitik di Garis Khatulistiwa Provinsi Maluku Utara (Tahap II)

Kegiatan Survei di Situs Mamuya

Penelitian Megalitik di Garis Khatulistiwa Provinsi Maluku Utara yang kami laksanakan di tahun 2019 ini merupakan penelitian kedua atau penelitian lanjutan dimana penelitian sebelumnya kami laksanakan di tahun 2018 yang lalu. Tujuan penelitian kami kali ini adalah memperoleh data yang maksimal di Situs Mamuya serta mengetahui kronologi dan lapisan budaya yang terdapat di Situs Mamuya. Untuk tujuan ini kami melakukan survey secara menyeluruh dalam kawasan situs. Hasil survey yang kami laksanakan telah melengkapi data sebelumnya yang kami peroleh di situs ini. Kami telah mendata, mendeskripsi, mendokumentasikan, sebanyak lima puluh lima buah batu berlubang dan batu bergores. Penelitian sebelumnya kami hanya mendata lima buah batu berlubang.

Ekskavasi arkeologi dilaksanakan dengan membuka satu kotak uji berukuran 1×1 meter. Penggalian dilakukan dengan system spit, 1 spit sama dengan 20 cm. penggalian dilakukan sedalam 140 cm atau sampai 7 spit. Temuan dalam kotak ekskavasi adalah fragmen tembikar polos, fragmen besi, fragmen arang, dan fragmen keramik asing. Pada kedalaman 90 Cm terdapat sebuah lapisan tanah berwarna hitam dan tekstur padat dan keras setebal 9 cm. Dugaan sementara kemungkinan lapisan keras berwarna abu-abu kehitaman tersebut adalah lapisan endapan abu vulkanik letusan gunung berapi yaitu Gunung Dukono yang terletak di tidak terlalu jauh dari lokasi penelitian. Setelah lapisan vulkanik ini, tidak ada lagi temuan yang ditemukan dan kotak dinyatakan telah steril, kemudian ditutup.

Kegiatan Ekskavasi di Situs Mamuya

Kami melakukan survey permukaan secara menyeluruh dalam lokasi situs Mamuya dan mendata sebanyak lima puluh lima (55) buah batu berlubang dan batu bergores. Batu berlubang adalah batu yang terdapat lubang pada permukaannya. Posisi keletakan lubang pada batu-batu ini bervariasi, sebagian besar terdapat pada permukaan bagian atas, namun ada beberapa batu posisi lubang berada pada sisi samping. Ukuran diameter lubang bervariasi dari 2 cm sampai dengan 28 cm.

Kondisi batu seperti belum selesai dikerjakan, karena meninggalkan bekas pada sisi nding batu bekas potongan. Bentuk batu dalam kondisi tidak beraturan bentuk , namun sangat jelas bagian atas yang terdapat lubang. Jumlah lubang hanya 1 buah dengan bentuk sempurna, dengan diameter 28 cm dan kedalaman 10 cm. Ukuran panjang batu 1,32 cm, lebar 1,14 meter tinggi dari permukaan tanah 71 cm. Batu lesung adalah sebutan lokal penduduk Desa Mamuya buat jenis batu demikian. Sebutan tersebut terlihat pada bentuknya yang sangat sempurna, bulat dan memiliki lebar mulut lubang cukup memadai. Warna batu berlumut, dan keabu-abuan. Batu berukuran besar, karena sudah dalam kondisi digali bagian badan yang masih tertanam dalam tanah. Ukuran lubang 13 cm untuk kedalaman dari ujung mulut bagian atas sampai dasar lubang (lihat gambar). Lebar bibir lesung 7 cm adalah sisi yang paling besar dan ukuran 5 cm untuk sisi yang paling kecil. Diameter sisi dalam mulut lesung adalah 34 sm. Diameter sisi luar mulut lesung 46 cm.

Batu Lesung di Situs Mamuya

Diameter lubang lesung pada bagian bawah adalah 10 cm. Tinggi bibir lesung pada sisi yang paling tinggi adalah 11 cm. Sedangkan sisi yang paling rendah adalah 2 cm. Jarak lebar tepian batu dengan mulut lesung adalah 36 cm untuk sisi yang paling kecil, sedangkan ukuran 76 cm adalah ukuran sisi yang paling besar. Ukuran panjang batu lesung 1,84 m, lebar batu 87 cm, tinggi dari permukaan tanah 55 sentimeter. Jarak batu lesung dengan batu lubang 49 dan 51 adalah 4,8 m, berada tepat di bagian depan batu lesung. Kondisi tanah pada objek batu lesung berada pada kemiringan dan lebih tinggi dari batu lubang 1-50. Sedangkan jarak kotak ekskavasi dengan batu lesung adalah 9 meter. Pada objek batu lesung, terdapat sebuah anak lesung, yang panjangnya 6 cm, yang mana ukuran tersebut karena anak lesung bekas patah terlihat pada bekas patahannya. Permukaan batu lesung pada sisi kiri dan kanan kelihatan rapi, bekas potongan dan sebagian bekas tidak beraturan. -Marlyn Salhuteru

© 2019 Balai Arkeologi Maluku ·

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.