Koneksitas Antar Pulau: Islamisasi, Kontak Budaya dan Perkembangan Kemaritiman di Kawasan Kepulauan Kei, Provinsi Maluku - Balai Arkeologi Provinsi Maluku

Koneksitas Antar Pulau: Islamisasi, Kontak Budaya dan Perkembangan Kemaritiman di Kawasan Kepulauan Kei, Provinsi Maluku

Penelitian arkeologi di wilayah Kepulauan Kei adalah sebuah penelitian yang hendak menjelaskan tentang jalur dan proses Islamisasi di wilayah Kepulauan Kei Maluku Tenggara. Pentingnya penelitian ini dilakukan, mengingat minimnya atau bahkan masih kosongnya kajian data arkeologi sejarah Islamisasi di wilayah tersebut. Kepulauan Kei, sejarah geografis berada pada titik persilangan jalur lintasan perairan antara wilayah Pulau Seram dan Banda dengan wilayah Kepulauan Aru dan Papua. Selain itu secara tidak langsung maupun langsung juga berhubungan dengan pusat-pusat Islamisasi yang selama ini dikenal berasal dari Ternate dan Tidore. Melihat keletakan geografisnya, Kepulauan Kei strategis sebagai lintasan jalur Islamisasi, sekaligus juga jalur niaga diantara berbagai wilayah di Kepulauan Maluku, baik wilayah yang sekarang meliputi Provinsi Maluku maupun Maluku Utara. Selain itu mengingat Kepulauan Kei merupakan daerah kepulauan yang terdiri dari banyak pulau baik pulau besar maupun pulau kecil, menarik dikaji hubungan antar pulau baik dalam kerangka gerak penyebaran Islam maupun perdagangan.

Mengingat daerah kepulauan, maka mengkaji proses Islamisasi, perdagangan, kontak budaya, maka secara otomatis juga memperbincangkan dinamika budaya maritim yang melekat di dalamnya. Dengan demikian penelitian ini adalah studi untuk menjawab tentang topik hubungan antar pulau di wilayah Kepulauan Kei, baik dalam kerangka proses
Islamisasi, perdagangan maupun kontak-kontak budaya antar pulau dalam kawasan maupun di luar kasawasan Kepulauaj Kei dan sekaligus dinamika kemaritiman.

Lokus penelitian, pertama kali di arahkan di wilayah Kepulauan Tayando Tam. Di wilayah ini, tim penelitian melakukan survei di wilayah Situs Kampung Lama Ohoitom Tahayad di Pulau Tayando, yang letaknya termasuk di dalam wilayah Desa Yamru. Di situs Ohoitom Tahayad, masih dapat dijumpai masjid kuno, yang relatif terjaga. Konstruksi masjid masjid terjaga utuh, kecuali dinding-dindingnya yang sudah tidak ada lagi, kecauali di bagian barat, tempat mihrab atau mimbar masjid. Selain itu juga masih dapat dilihat dengan jelas adalah konstruksi atap, yang memperlihatkan tipologi atap tumpang atau atap bentuk piramid segitiga bertumpang atau bersusun dua dan pada puncak atap, masih terdapat tiang alif.

Lokasi masjid kuno Tahayad itu berada di dalam situs kampung kuno Ohoitom Tahayad. Di situs tersebut terdapat benteng tradisional yang lebih dikenal dengan sebutan lutur yang sebagian besar masih utuh. Dinding susunan batu itu mengelilingi area situs yang diduga sebagai situs permukiman sekaligus sebagai pertahanan. Pada bagian utara memanjang ke sisi timur, kondisi lutur masih tampak utuh dengan ketinggian mencapai 3 meter, pada sudut utara timur, terdapat dinding yang berbentuk oval atau melengkung, bukan sudut persegi. Meskipun dinding terdiri dari susunan batu tanpa perekat, tapi tampak kokoh.

Di dalam lokasi kampung kuno, juga terdapat makam-makam kuno, terletak di sebalah utara masjid Kuno Tahayad. Selain itu di luar kampung kuno, atau di luar dinding lutur, juga terdapat kompleks makam kuno, yang dipercaya penduduk sebagai makam-makam penyebar Islam di Pulau Tayando.

Tim penelitian melakukan analisis berbagai data artefaktual yang ditemukan di situs Kampung Kuno (Ohoitom) Tahayad di Desa Yamru, Pulau Tayando. Berdasarkan data-data arkeologi yang ditemukan, meskipun belum bisa diperoleh kesimpulan secara menyeluruh tentang kronologi Islamisasi di wilayah Kepulauan Kei, namun hasilnya menunjukkan bahwa situs arkeologi Islam di Pulau Tayando, menunjukkan bahwa situs tersebut sebagai salah
satu pusat peradaban Islam. Berdasarkan data-data arkeologi yang diperoleh menunjukkan bahwa situs ini pada masa lampau melakukan hubungan jarak jauh yang cukup intensif dengan daerah luar. Dalam hal ini sebaran keramik asing di permukaan menunjukkan intensitas perdagangan jarak jauh cukup berkembang, meskipun bukan temuan yang
dominan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.