web analytics

Budaya Penutur Austronesia di Kepulauan Maluku: Tradisi Pembuatan Perahu di Kepulauan Aru, Provinsi Maluku

Kepulauan Aru dapat dianggap sebagai jalur lintasan niaga di wilayah Maluku, yang memungkinkan persentuhannya dengan para pedagang muslim, sehingga pengaruh Islam dapat diungkap untuk memberi kejelasan terhadap rekontruksi sejarah budaya, jejak pemukiman Islam, pelayaran dan perdagangan dalam periode Islam dan perkembangannya pada periode kemudian. Hal tersebut berdasarkan hasil ekskavasi arkeologi di Pulau Ujir
bagian Barat Pulau Wokam.

Kajian etnoarkeologi cenderung melihat keberagaman manusia masyarakat dan pendukungnya dalam hal tradisi, teknologi dan pengetahuan tentang perahu. Hasil penelitian menunjukan bahwa simbol yang sama merupakan kelompok yang sama. Namun belum menemukan apakah masih genealogis yang sama. Simbol-simbol yang terdapat pada perahu orang Aru antara lain, simbol fauna dan flora. Lokasi penelitian yang menjadi fokus adalah desa-desa di pesisir, sedangkan desa-desa pegunungan menjadi pelengkap data sebaran manusia dari pesisir ke pegunungan maupun sebaliknya. Sebagai desa pesisir, perahu sebagai sarana transportasi maupun sarana mata pencarian merupakan sesuatu yang penting dalam keseharian mereka. Ada beberapa jenis perahu yang dikenal oleh penduduk Kalar-Kalar, yaitu belang, sampan, dan kedo-kedo. Belang adalah perahu berukuran cukup besar, kedo-kedo berukuran lebih kecil dari belang, dan sampan adalah perahu berukuran kecil. Fungsi ketiga jenis perahu inipun berbeda. Belang lebih sering digunakan sebagai alat transportasi jarak jauh selain untuk mencari hasil laut. Kedo-kedo dan sampan fungsinya hampir sama, hanya saja sebagai alat transportasi kedua jenis perahu ini hanya digunakan untuk menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh, misalnya antar desa dalam pulau Terangan. Yang menjadi objek penelitian kami
adalah perahu belang.

© 2018 Balai Arkeologi Maluku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.