Balai Arkeologi Maluku Berpartisipasi di Konferensi Arkeologi Asia Tenggara SEAMEO-SPAFA II di Bangkok, Thailand 29 Mei - 3 Juni 2016 - Balai Arkeologi Provinsi Maluku

Balai Arkeologi Maluku Berpartisipasi di Konferensi Arkeologi Asia Tenggara SEAMEO-SPAFA II di Bangkok, Thailand 29 Mei – 3 Juni 2016

Kontingen Indonesia di Konferensi Arkeologi Asia Tenggara SEAMEO-SPAFA II 2016
Kontingen Indonesia di Konferensi Arkeologi Asia Tenggara SEAMEO-SPAFA II 2016

seameo 2 press

Menteri Pendidikan Thailand memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi Konferensi Arkeologi Asia Tenggara SEAMEO-SPAFA II 2016
Menteri Pendidikan Thailand memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi Konferensi Arkeologi Asia Tenggara SEAMEO-SPAFA II 2016

Tanggal 29 Mei – 3 Juni 2016 Kepala Balai dan Peneliti Balai Arkeologi Maluku mendapat kesempatan hadir dan berpartisipasi dalam Konferensi Arkeologi Asia Tenggara SEAMEO-SPAFA yang berlangsung di Bangkok, Thailand. Pertemuan ini diselenggarakan oleh Pusat Studi Arkeologi dan Seni Asia Tenggara (SPAFA) yang  bernaung di bawah Organisasi Kementerian Pendidikan se-Asia Tenggara (SEAMEO) yang berpusat di Bangkok. SEAMEO sendiri merupakan organisasi lintas negara dalam kawasan ASEAN yang didirikan dengan tujuan untuk mendorong kerjasama antar sesama anggota dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Konferensi Arkeologi Asia Tenggara ini merupakan penyelenggaraan yang kedua kalinya setelah dilaksanakan untuk pertama kali pada tahun 2013 silam di Chon-Buri, Thailand.

Jelang Makan Malam Selamat Datang untuk Seluruh Peserta Konferensi
Jelang Makan Malam Selamat Datang untuk Seluruh Peserta Konferensi
Pentas Musik Etnik Thailand dalam acara Makan Malam Selamat Datang untuk Peserta Konferensi
Pentas Musik Etnik Thailand dalam acara Makan Malam Selamat Datang untuk Peserta Konferensi

Penyelenggaraan konferesi SPAFA kali ini dihadiri oleh 230 peserta dari 30 negara. Selain dari negara anggota ASEAN, hadir juga para ahli arkeologi dan ilmu terkait dari berbagai negara yang tampil mempresentasikan 150 naskah akademis terkait hasil penelitian arkeologi terkini di Asia Tenggara dan kawasan sekitar.  Di luar pusat penelitian arkeologi di berbagai negara ASEAN, partisipan yang hadir dalam pertemuan ilmiah ini juga  berasal dari berbagai universitas dan institusi pendidikan terkemuka baik di Asia Tenggara maupun dunia.

Presentasi tentang Situs Lukisan Cadas di Seram Timur hasil Kolaborasi Balai Arkeologi Maluku, Pusat Arkeologi Nasional dan University of Washington Amerika Serikat
Presentasi tentang Situs Lukisan Cadas di Seram Timur hasil Kolaborasi Balai Arkeologi Maluku, Pusat Arkeologi Nasional dan University of Washington Amerika Serikat
Presentasi Naskah Akademis tentang arkeologi dan pendidikan di Maluku oleh Peneliti Balai Arkeologi Maluku, Marlon Ririmase
Presentasi Naskah Akademis tentang arkeologi dan pendidikan di Maluku oleh Peneliti Balai Arkeologi Maluku, Marlon Ririmase
Marlon Ririmasse membawakan presesntasi
Marlon Ririmasse membawakan presesntasi

Isu yang ditampilkan sangat beragam dan diwakili dalam 20 tema panel. Mulai dari laporan perkembangan studi arkeologi per-negara; penemuan-penemuan terkini dalam penelitian arkeologi di Asia Tenggara seperti seni cadas, arkeologi bawah air, manusia purba; hingga arkeomusikologi; serta menampilkan juga  tema terkait arkeologi dan masyarakat serta pengembangan arkeologi untuk pendidikan. Termasuk tentu saja aplikasi-aplikasi teknologi terkini yang digunakan dalam berbagai studi arkeologi di kawasan ini.

Indonesia dalam kesempatan ini hadir dengan delegasi yang terdiri dari 25 peserta dan menjadi salah negara dengan partisipan terbanyak. Tampil dalam 12 panel dari 20 tema panel yang disediakan, delegasi Indonesia diwakili oleh peserta dari Pusat Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi yang bernaung di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; serta dari para akademisi arkeologi asal Universitas Gadjah Mada; Universitas Indonesia; Universitas Udayana; dan Universitas Haluoleo. Salah satu naskah akademis dari Universitas Gajah Mada terpilih menjadi satu dari dua makalah kunci yang dibacakan dalam konferensi ini.

Menarik bahwa dalam pertemuan ilmiah arkeologi se-Asia Tenggara ini dibacakan tiga naskah akademis terkait arkeologi Maluku. Topik yang dibawakan masing-masing tentang penemuan situs lukisan cadas (rock art) terbaru di Seram Bagian Timur; Hasil penelitian terkini Arkeologi Kepulauan Banda dan topik tentang Arkeologi dan Pendidikan di Maluku. Ketiga naskah akademis ini dibacakan dalam tiga panel berbeda. Secara khusus, naskah akademis Balai Arkeologi Maluku dan Maluku Utara dibacakan pada panel 15 mengenai Arkeologi dan Pendidikan dengan judul: Sharing Knowledge: Archaeology and Education in the Moluccas oleh Marlon Ririmasse, M.A dan Drs. Muhammad Husni M.M.

Suasana Konferensi
Suasana Konferensi
Suasana Konferensi
Suasana Konferensi

Topik pertama merupakan hasil penelitian kolaborasi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional bekerjasama dengan Balai Arkeologi Maluku dan University of Washington, Amerika Serikat pada tahun 2015. Hasil penelitian ini menegaskan peran penting penemuan ini yang menjadi jembatan geografis antara situs lukisan cadas di Sawai Saleman dan situs-situs di barat Indonesia dengan situs-situs sejenis di Papua dan Kepulauan Kei. Topik tentang Arkeologi Kepulauan Banda, adalah presentasi hasil penelitian kerjasama yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi Maluku dalam kurun waktu tiga tahun berturut-turut. Hasil penelitian di Banda ini menjadi himpunan pengetahuan penting yang menjadi kontribusi terkini studi arkeologi dalam memberi muatan akademis terkait pengusulan Banda sebagai Warisan Dunia. Sementara tema arkeologi dan pendidikan di Maluku menjelaskan mengenai rangkaian program arkeologi untuk dunia pendidikan dan masyarakat yang telah dilaksanakan dalam wilayah kerja Balai Arkeologi Maluku selama satu dekade terakhir. Tema ini menegaskan kembali kontribusi arkeologi dalam mendorong pengetahuan sejarah budaya untuk pengembangan konsep dan konten muatan lokal di Maluku. Ketiga naskah akademis ini dibacakan bersama puluhan naskah dalam tema sejenis sebagai komparasi antar studi arkeologi negara untuk arah pengembangan kajian ke depan yang lebih baik.

Kepala Balai Arkeologi Maluku bersama sesama penyaji naskah akademis dari Panel 15 tentang Arkeologi dan Pendidikan
Kepala Balai Arkeologi Maluku bersama sesama penyaji naskah akademis dari Panel 15 tentang Arkeologi dan Pendidikan

Tentu, banyak naskah akademis dan pengalaman studi arkeologi dari rekan-rekan berbagai negara yang layak dijadikan cermin untuk memajukan penelitian arkeologi di Indonesia dan Maluku. Baik teori, metode, teknologi hingga aktifitas terkait pengembangan studi arkeologi dan hasil penelitian untuk masyarakat.  Demikian halnya banyak relasi baru yang dijalin dan membuka pintu bagi arah kerjasama  ke depan untuk studi arkeologi lintas negara di Maluku. Termasuk dalam kaitan dengan kajian berskala kawasan Asia Tenggara-Australia dimana geografi Kepulauan Maluku menjadi elemen kunci dalam studi. Harapannya tentu saja agar dengan kontribusi ilmiah disiplin arkeologi lintas negara ini, Maluku tidak hanya memiliki nama besar dalam sejarah, namun mampu memberi makna baru bagi kebesaran masa lalu nan mulia itu dengan berdiri sejajar bersama bangsa-bangsa lain saat ini dalam memajukan ilmu pengetahuan untuk masa depan. (MNR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.