web analytics

SITUS ARKEOLOGI DI PEGUNUNGAN KOTA AMBON, PULAU AMBON

Pembagian Wilayah Situs
Pembagian Wilayah Situs
Pintu Masuk Situs Negeri Lama Kilang
Pintu Masuk Situs Negeri Lama Kilang

Balai Arkeologi Maluku (Wilayah Kerja Propinsi Maluku dan Maluku Utara) pada pertengahan Tahun 2016 melakukan penelitian arkeologi di wilayah pegunungan Kota Ambon, Pulau Ambon. Fokus penelitian adalah bagaimana potensi dan karakter arkeologi di wilayah pegunungan Kota Ambon, Pulau Ambon. Tujuan dan manfaat yang diperoleh antara lain untuk mengetahui potensi dan karakter arkeologi di wilayah pegunungan Kota Ambon, Pulau Ambon dan untuk mengiventaris situs-situs arkeologi dimaksud. Pulau Ambon sebagai kawasan lokus penelitian, dibagi dalam 4 situs (situs I-IV) demi mempermudah penelitian yang sifatnya survei. Situs I yang telah dilakukan penelitian oleh Balai Arkeologi Maluku, meliputi: Kecamatan Leitimur Selatan dan Sirimau Kota Ambon. Hasil penelitian menunjukan bahwa wilayah pegunungan Kota Ambon, Pulau Ambon memiliki potensi arkeologi yang kompleks dengan representasi isu-isu terkait Arkeologi Nasional dan Global, salah satu isunya adalah Diaspora Manusia Masyarakat Nusantara dan Kronologi Dinamika Manusia Masyarakat Di Kepulauan Wallacea. Isu-isu tersebut dapat (Balai Arkeologi Maluku masih melakukan kajian) ditelusuri dengan temuan benda-benda arkeologi.

SITUS ARKEOLOGI SEBAGAI WAHANA PARIWISATA

Salah Satu Batu Teung di Negeri Soya
Salah Satu Batu Teung di Negeri Soya
Batu Teung Peimahu di Negeri Hukurila
Batu Teung Peimahu di Negeri Hukurila

Muncul pertanyaan besar dalam diri penulis, bagaimana pemanfaatan dan pengelolaan situs arkeologi di pegunungan Kota Ambon, Pulau Ambon. Pertanyaan tersebut didasari atas fakta, bahwa di pegunungan Kota Ambon sebaran situs arkeologi sangat variatif dan kompleks. Rujukan penajaman pemikiran penulis berkiblat pada institusi dan pembangunan manusia masyarakat Indonesia umumya dan Kota Ambon – Maluku khususnya.

Lutur Anak Tangga Menuju Bekas Baileo Negeri Hukurila
Lutur Anak Tangga Menuju Bekas Baileo Negeri Hukurila
Batu 'Minum Air' di Negeri Rutong
Batu ‘Minum Air’ di Negeri Rutong

Situs arkeologi dolmen batu teong di wilayah pegunungan Kota Ambon, Pulau Ambon tersebar di seluruh desa/negeri pegunungan Kota Ambon. Pola sebaran batu teong didasari pada struktur fungsi, peran dan kedudukan manusia masyarakat kelompok tertentu. Guna melindungi, merawat, melestarikan dan memanfaatkan budaya batu teong tersebut maka pada pembahasan ini dikemukan rekomendasi Batu teong sebagai wahana pariwisata lokal. 3 (tiga) hal penting yang perlu kita sadari dan tingkatkan dalam mengembangkan batu teong sebagai wahana pariwisata, 1) masyarakat adalah elemen utama dalam pengembangan batu teong sebagai wahana pariwisata, karena tanpa unsur masyarakat perencanaan pembangunan akan tidak berjalan sebagaimana mestinya, karena faktor pendukungannya tidak ada. Keterlibatan masyarakat seyogyanya perlu dan penting dalam merencanakan pembangunan batu teong sebagai situs pariwisata, karena pemberdayaan dan keterlibatan masyarakat menghasilkan sesuatu perencanaan yang baik. 2) objeknya dalam hal ini situs batu teong; Pemerintah Pusat, Daerah, Kota Kabupaten perlu peningkatan dalam bekerjasama tanpa memandang unsur ego masing-masing lembaga institusi. Keterbukaan informasi dan program perlu dalam penunjangan pembangunan. 3) lokasi; apakah mudah dijangkau, batu teong di pegunungan Kota Ambon sangat mudah untuk dijangkau karena tersebar dalam perkampungan. 4) sarana prasarana; hal-hal pendukungan lainnya, misalnya hotel, kuliner dan promosi/marketing.

Salah Satu Batu di Kompleks Batu Musyawarah, Negeri Rutong
Salah Satu Batu di Kompleks Batu Musyawarah, Negeri Rutong
Batu Papua Negeri Kilang sebagai Penanda Pintu Masuk Negeri
Batu Papua Negeri Kilang sebagai Penanda Pintu Masuk Negeri

Kendala besar dalam memajukan pariwisata adalah promosi dan marketing serta sarana penunjang lainnya. Kondisi jalan di wilayah pegunungan Kota Ambon perlu diperbaiki dengan pertimbangan-pertimbangan teknis keselamatan dan kenyamanan. Kondisi jalan berlubang, rusak tidak memiliki tingkat keselamatan dan kenyamanan juga mempengaruhi pariwisata, karena wisatawasan tidak akan datang mengunjungi, akibat akses jalan. Promosi dan marketing dapat memberdayakan dunia pendidikan (SMK) yang memiliki studi pariwisata dan setara untuk meningkatkan pariwisata batu teong. Mereka anak-anak sekolah lebih didik untuk berwirausaha dengan realita-realita sebenarnya. Mereka berpatisipasi langsung dengan kegiatan promosi dimaksud. 5) Swasta adalah pihak investor, pengelolaan dan perencanaan yang baik pasti akan banyak dilirik oleh investor untuk meningkatkan pendapatan. Pendapatan per kapita adalah unsur utama kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat, dan pariwisata batu teong mampu memberikan hal dimaksud. Setiap minggu pengunjung datang melihat pariwisata batu teong dengan suguhan tambahan keindahan pantai, pesona matahari terbenam, makanan tradisional, kerajinan tradisional akan secara otomatis melibatkan semua unsur.
Mewujudkan batu teong sebagai wahana pariwisata adalah bukan pekerjaan semata institusi tertentu, tetapi merupakan sebuah pekerjaan yang tersistim secara baik, sehingga saling kait mengkait antara satu dengan lain. Pemberdayaan masyarakat agar menjadi sejahtera lewat pariwisata merupakan bagian amanat dari undang-undang, seyogyanya perlu ditingkatkan. (LW)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *