Sejarah


Kantor Balar Maluku tampak depan

Kantor Balar Maluku

Balai Arkeologi Ambon (kini bernama Balai Arkeologi Maluku) didirikan pada tahun 1995, adalah sebuah instansi penelitian yang  merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang berkedudukan di Jakarta. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional berada dibawah Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, memiliki tugas-tugas pokok sebagai berikut:

  1. Melaksanakan penelitian murni dan terapan untuk kepentingan akademis strategis dan prakstis
  2. Mengolah dan meyebarluaskan hasil penelitian dalam berbagai media
  3. Melatih dan membimbing ketenagaan dan menghasilkan sumber daya manusia yang bertaraf nasional dan internasional di bidang arkeologi
  4. Menyediakan bank data untuk keperluan pendidikan dan penelitian di bidang arkeologi
  5. Menjalin kerjasama internasional untuk pengembangan arkeologi dan ketenagaan
  6. Memberikan saran-saran di bidang pelestarian dan pemanfaatan sumber daya arkeologi untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara (Simanjuntak, 2003).

Balai Arkeologi Ambon sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat  Penelitian Arkeologi Nasional, memiliki peran strategis bagi pengembangan arkeologi Indonesia. Lembaga ini memiliki landasan konstitusional yang sangat kuat untuk pengembangan arkeologi di daerah, sebagimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 32, (TAP) MPR No. 2 Tahun 1988, Undang-Undang no 5 Tahun 1992 tentang benda cagar budaya, dan Peraturan Mendikbud nomor 56 tahun 2012 yang pada intinya mengamanatkan keharusan pada pemerintah untuk melestarikan benda budaya dan tata kerja Balai Arkeologi. Dipilihnya Kota Ambon sebagai tempat berdirinya Balai Arkeologi tentunya telah didasari atas berbagai pertimbangan, diantaranya:

  1. Propinsi Maluku dan Maluku Utara yang merupakan wilayah kerja Balai Arkeologi Ambon, diyakini dan telah terbukti memiliki peninggalan-peninggalan arkeologis/tinggalan budaya, yang berasal dari berbagai masa budaya, seperti budaya masa prasejarah, masa Hindu-Budha, budaya masa Islam, dan peninggalan masa kolonial.
  2. Kota Ambon merupakan pusat kegiatan perekonomian di wilayah Maluku, sehingga diharapakan berbagai sarana dan prasarana yang ada dapat menunjang kegiatan penelitian arkeologi yang akan dilaksanakan.

Selanjutnya Balai Arkeologi Ambon yang dibentuk berdasarkan Surat   Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 015/0/1995, memiliki tugas pokok “Melaksanakan penelitian arkeologi di wilayah kerjanya,” yang dalam hal ini meliputi seluruh wilayah Propinsi Maluku dan Maluku Utara. Sedangkan fungsinya adalah:

  1. Melakukan pengumpulan, perawatan, pengawetan, dan penyajian benda yang bernilai budaya dan alamiah yang berhubungan dengan penelitian arkeologi.
  2. Melakukan usaha perpustakaan, pendokumentasian dan pengkajian ilmiah yang berhubungan dengan penelitian arkeologi.
  3. Memperkenalkan dan menyebar luaskan hasil-hasil penelitian arkeologi.
  4. Melakukan bimbingan edukatif kultural kepada masyarakat tentang benda arkeologi yang bernilai budaya dan ilmiah.
  5. Melakukan urusan tata usaha dan urusan rumah tangga Balai Arkeologi.

Dari uraian tugas-tugas pokok di atas, dapat dibayangkan betapa pentingnya arti penelitian arkeologi bagi bangsa Indonesia, yang memang kaya akan khasanah kebudayaan yang tersebar hampir di seluruh kepulauan di Nusantara. Semua hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari visinya yaitu mewujudkan lembaga penelitian yang mampu mengembangkan dan memasyarakatkan arkeologi Indonesia untuk kemajuan ilmu pengetahuan, pencerdasan bangsa, dan pengembangan budaya nasional.
Keinginan untuk merealisasikan visi ini menjadi semakin penting bila kita sadari bahwa bumi nusantara tercinta ini memiliki banyak sekali warisan budaya yang merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya. Peninggalan-peninggalan yang terkandung di bumi Nusantara ini merupakan sisa kehidupan manusia yang berasal dari masa jutaan tahun yang lalu, dalam wujud berbagai benda budaya dan tradisinya sekarang. Semua itu telah menjadikan wilayah Indonesia sebuah kawasan terpenting di dunia untuk pemahaman sejarah kemanusiaan dan peradaban. Hal ini membuktikan bahwa kita Bangsa Indonesia adalah penyimpan dan pemilik sejarah kehidupan manusia yang sangat tua, di mana pada masa itu mungkin saja belahan dunia lain masih belum terjamah oleh kehidupan manusia. Bangsa Indonesia memiliki benda dan wilayah yang memberikan kontribusi yang sangat berharga bagi sejarah kehidupan manusia di dunia. Hal ini terbukti dengan adanya temuan fosil manusia purba di wilayah Sangiran (Jawa Timur) yang kini telah dijadikan cagar budaya dunia (World Heritage Cultural), sisa-sisa kebudayaan Hindu Budha (Candi Prambanan) di Jawa Tengah juga merupakan cagar budaya dunia. Kebudayaan Islam dan juga peninggalan-peninggalan dari masa penjajahan Belanda. Mengingat demikian banyaknya khasanah budaya yang kita miliki dan menyadari betapa luasnya wilayah Nusantara, maka misi dari Pusat Penelitian Arkeologi adalah:
1. Melaksanakan penelitian arkeologi
2. Memasyarakatkan hasil-hasil penelitian
3. merekomendasikan hasil penelitian untuk pelestarian dan pemanfaatan sumber daya arkeologi.
Untuk mewujudkan misi dan tugas-tugas pokok tersebut, dapat dipastikan bahwa Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang berkedudukan di Jakarta tidak mampu untuk menangani seluruh penelitian di seluruh wilayah Indonesia. Oleh karena itu dibentuklah Balai-Balai arkeologi di beberapa daerah untuk melaksanakan penelitian tersebut. Salah satu dari 10 Balai arkeologi yang ada di Indonesia adalah Balai Arkeologi Ambon yang wilayah kerjanya meliputi Propinsi Maluku dan Propinsi Maluku Utara.