web analytics

PROGRAM RUMAH PERADABAN PULAU BANDA MENUJU WARISAN BUDAYA DUNIA

Press Release

Rumah Peradaban merupakan domain program kebudayaan yang digagas oleh Pusat Arkelogi Nasional. Pada prinsipnya Program “Rumah Peradaban” untuk menginformasikan hasil penelitian kepada masyarakat. Dalam konteks ini, rumah peradaban merupakan terobosan baru untuk menginformasikan kepada masyarakat, bukan hanya bentuk fisik kebudayaan, namun juga menjadi media untuk saling berinteraksi dan mengkomunikasikan kepada masyarakat atau komunitas sehingga budaya peradaban masa lalu itu tetap hidup untuk menguatkan pembangunan karakter masyarakat, selain juga sebagai media interaksi antar masyarakat. Oleh karena itu Program Rumah Peradaban, dimaksudkan sebagai media penguatan pemahaman terhadap jati diri dan kebudayaannya, sebagai bagian dari revolusi mental, restorasi sosial masyarakat terhadap pemikiran persatuan dan pluralism.
Program Rumah Peradaban sebagai domain program kebudayaan Pusat Arkeologi Nasional dan 10 Balai Arkeologi se Indonesia merupakan sebuah konsep baru atau blue print, cetak biru, sebuah konsep baru yang mengarahkan kegiatan dalam sepuluh tahun mendatang, agar lebih meningkatkan peran dan kontribusinya bagi bangsa. Konsep dengan taglinePembangunan Rumah Peradaban yang berbaur dengan Citta ke-8 dan ke-9 dengan tagline: “Arkeologi untuk Keadaban bangsa.
Dalam rangka mendukung gagasan penting tersebut, Balai Arkeologi Maluku, sebagai UPT Kemdikbud dibawah pembinaan Pusat Arkeologi Nasional, dalam hal ini juga turut mendukung Program Rumah Peradaban. Penyelenggerakan Program Rumah Peradaban sesuai dengan konteks kewilayahan Provinsi Maluku dan Maluku Utara Utara, yang juga sebagai wilayah kerja Balai Arkeologi Maluku. Pada Tahun 2016 ini, Program Rumah Peradaban, akan dilaksanakan di wilayah Kepulauan Banda, sebagai wilayah terpenting dalam lintasan sejarah budaya di Maluku dan meliliki ragam potensi tinggalan atau sumberdaya arkeologi dari masa Prasejarah hingga Kolonial. Wilayah Kepulauan Banda, cukup merupakan salah satu yang dicanangkan sebagai Kawasan Strategis Nasional dan diwacanakan dalam usulan World Heritage sejak tahun 2005. Program Rumah Peradaban dengan demikian adalah upaya mengungkap, memaknai sumberdaya budaya, agar timbul rasa mencintai dari masayarakat, komunitas dan generasi pelajar terhadap kekayaan sumberdaya budaya yang dimiliki sebagai modal menumbuhkan dan memperkuat karakter dan jatidiri bangsa.
Adapun tujuan dan sasaran program ini antara lain; a. Meningkatkan wawasan pengetahuan kalangan pelajar dan masyarakat umum (komunitas) tentang pentingnya warisan budaya sebagai sumberdaya pembangunan, b. Meningkatkan apresiasi publik terutama generasi muda, pelajar dan komunitas terhadap tinggalan budaya, khususnya di wilayah Kepulauan Banda dalam rangka memperkuat karakter masyarakat dan jatidiri bangsa, c. Memperkenalkan dan mendekatkan obyek peninggalan budaya masa lampau kepada masyarakat, agar lebih memaknai secara positif keberadaan tinggalan budaya dan mencintai untuk melestarikannya, d. Mensosialisasikan hasil-hasil penelitian arkeologi di wilayah Kepulauan Banda sebagai sarana atau media pendidikan dan peningkatan wawasan dan pengetahuan terhadap warisan budaya dan kearifan lokal, e. Meningkatkan rasa mencintai dan kepedulian masyarakat terhadap obyek peninggalan arkeologi sebagai salah satu sumberdaya yang penting untuk peningkatan pembangunan dan f. Menemukan kesepahaman para pihak (stakeholder) dalam upaya pemanfaatan, pengembangan dan pelestarian sumberdaya budaya (arkeologi) untuk mendukung pembangunan daerah dan nasional.
Bentuk kegiatan meliputi:
Atraksi seni budaya dan launching buku pengayaan arkeologi; Kegiatan ini adalah kegiatan untuk mengawali atau membuka program rumah Peradaban dalam sebuah kegiatan pembukaan yang dilakukan secara resmi. Kegiatan pembukaan ini akan melibatlan seluruh stakeholder yang terkait. Atraksi seni budaya, adalah bagian dari salah satu amata acara kegiatan pembukaan, yang menampilkan berbagai atraksi seni dan budaya masyarakat Banda, selain sebagai ajang memperkenalkan kekayaan khas tradisional masyarakat Banda juga menjadi ajang pentas yang memeprkenalkan sekaligus sebagai daya tarik budaya sebagai kekayaan tradisional setempat. Kegiatan ini dirangkaikan dengan peluncuran Buku Pengayaan Arkeologi, sebuah buku bacaan untuk kalangan siswa SD, yang berisi materi arkeologi yang dikemas secara sederhana, komunikatif dan ringan. Buku ini sebagai cikal bakal untuk pengembangan Modul Pendidikan Arkeologi dan Sejarah Lokal yang lebih padat informasi kearkeologian di daerah Provinsi Maluku dan Maluku Utara.
Diskusi komunitas, kegaiatan diskusi ini adalah sarana mempertemukan berbagai komunitas yang ada di Pulau Banda, baik komunitas adat, pencinta seni dan budaya, komunitas pelestari lingkungan dan sebagainya. Kegiatan diskusi, adalah mempertemukan berbagai pendapat, ide dan gagasan menyangkut problem-problem yang berhubungan dengan sumberdaya arkeologi, sumberdaya budaya, peran-peran masyarakat di dalamnya, berbagai dampak peleatarian dan pembangunan bagi tumbuhnya kesadaran kolektif komunitas dan sebagainya. Kegiatan ini juga sebagai ajang mempertemukan para stakeholder kebudayaan, untuk duduk bersama dalam level kesetaraan guna mendiskusikan tentang aspek-aspek kebudayaan setempat. Diskusi komunitas dimaksudkan untuk saling curah pendapat, saling berbagai pengetahuan dan wawasan diantara para stakeholder dalam rangka mengelola sumberdaya budaya bagi modal budaya dan modal sosial pembangunan. Kegiatan ini dilakukan secara inklusif (terbuka) dengan melibatkan komunitas adat atau masyarakat lokal lainnya. Kegiatan ini selain sebagai sarana menyambungkan saling komunikasi antara pemerintah dengan komunitas atau masyarakat di wilayah setempat. Kegiatan ini menjadi ajang pemebelajaran dan pendidikan bersama, pendidikan orang dewasa terhadap pentingnya kekayaan sumberdaya budaya sebagai modal pembangunan karakter dan jati diri bangsa. Metode Diskusi Komunitas dapat dilakukan melalui metode brainstorming, Focus Grups Discussion (FGD), Sarasehan dan sebagainya.
Outbound Arkeologi, Kegiatan outbound arkeologi dirancang sebagai program khusus ditujukan untuk kelangan pelajar tingkat SD hingga SMA di wilayah Kepulauan Banda. Kegiatan ini adalah paduan atau kombinasi antara sekolah lapangan (Fieldschool) arkeologi dengan simulasi atau permainan dan berbagai lomba yang dilakukan di situs-situs arkeologi yang dikunjungi. Kegiatan ini selain berupa kunjungan situs dan sosialiasi atau penyuluhan arkeologi bagi siswa, juga berbagai simulasi dan lomba dalam rangka pengenalan hasil penelitian arkeologi secara langsung di lapangan. Kegiatan ini dirancang sedemikian rupa, agar lebih dinamis dan lebih mudah merangsang minat dan ketertarikan kalangan pelajar untuk memahami sumberdaya arkeologi di lingkungannya.
Sekolah Multibudaya, Kegiatan sekolah Multibudaya adalah, kegiatan kelas siswa pelajar untuk memberikan pemahaman tentang multikulturalisme atau multibudaya yang tumbuh sebagai cikal bakal maupun dalam perkembangan kekinian pada masyarakat Banda. Pemberian materi sekolah budaya, selain memperkenalkan berbagai data monumental cagar budaya yang dapat menjelakan tentang kehidupan multibudaya di Banda sejak masa lampau, maupun perkembangan budaya kekinian. Pendidikan multibudaya, merupakan ajang pembelajaran kalangan pelajar untuk memahami multikulturalisme di Maluku, sebagai realitas yang memiliki kearifan lokal (local wisdom) sebagai modal sosial yang dapat mempersatukan orang Maluku, ketika menghadapi persoalan dan tantangan bersama. Kearifan lokal dimaksud baik dalam bentuk “institusi” seperti Pela -Gandong, Siwalima, maupun dalam bentuk ungkapan-ungkapan seperti “Ale rasa beta rasa ” (anda rasa saya rasa, artinya ketika anda merasakan dan mengalami sesuatu, baik senang maupun susah, saya juga merasakan hal tersebut), “Sagu salempeng dipatah dua ” (sagu satu buah dibagi dua), “Potong di kuku rasa di daging ” (potong di kuku rasa di daging, artinya seseorang mengalami susah atau sakit, orang lain merasakannya juga), “Manggurebe maju” (berlomba untuk maju), dan sebagainya. Berbagai kearifan lokal ini melekat dalam kehidupan orang Maluku dan merupakan suatu keniscayaan sosial, bersifat kodrati dan tak dapat disangkal karena lahir dari sebuah proses sejarah bersama yang panjang sebagai penemuan jati diri orang Maluku yang mendasar.
Dialog Peradaban Orang Basudara, Kegiatan ini dirancang untuk mempertemukan berbagai kalangan masyarakat setempat dari berbagai negeri di wilayah Kecamatan Pulau Banda. Kegiatan dirancang dalam bentuk dialog interaktif yang memperbincangkan tentang pentingnya menanamkan nilai-nilai persaudaraan bagi semua kalangan masyarakat lintas agama dan budaya. Fasilitator kegiatan bertindak untuk menginisiai dialog tentang pentingnya membangun tradisi dialog Orang Banda yang multikultur sebagai tradisi orang basudara mengingat sejarah lokal di Pulau Banda sebagai ajang bertemunya banyak suku bangsa yang hadir dan turun temurun menjadi masyarakat Banda yang berkembang sampai saat kini. Kegiatan ini adalah ajang mempertemukan kalangan masyarakat dari berbagai negeri di Kecamatan Pulau Banda, lintas agama dan lintas budaya, melalui dialog yang santai, terbuka dan dilandasi semangat persaudaraan dan cita-cita bersama membangun Banda sebagai daerah percontohan bagi tumbuh suburnya kehidupan dan tradisi orang basudara di Maluku, dalam upaya mendukung Banda sebagai Kawasan Strategis Nasional dan World Heritage.
Stakeholder yang dilibatkan diantaranya ; Komunitas Adat (Komunitas Pemerhati Budaya dan Adat), Para Pelajar SD, SMP, SMA se Wilayah Kepulauan Banda, Pemangku Kebijakan (Pemerintah, Provinsi Maluku Utara dan Kabupaten Kepulauan Banda). Tokoh Masyarakat (pemuda, tokoh adat dan agama),Organisasi Pemuda, Institusi terkait (BPCB, BPNB, Kantor Bahasa), Lembaga Pendidikan setempat, Praktisi Pariwisata (Pengelola hotel dan restoran).
Mengenai jadwal pelaksanaan, direncakan program ini dapat terlaksana pada akhir bulan Oktober atau minggu pertama bulan November 2016. (WH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *