web analytics

Manusia Budaya dan Lingkungan Purba di Kepulauan Nusantara; Manusia dan Tradisi Budaya Prasejarah di Kepulauan Kei, Provinsi Maluku

Tampak Depan Situs Ceruk Kel Lein, Pulau Kaimear

Penelitian arkeologi di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara mencakup wilayah Administratif Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara Provinsi Maluku. Isu dalam proposal ini merupakan studi lanjutan dari tema tradisi gambar cadas di Kepulauan Maluku. Isu ini dipilih sebagai langkah awal dalam memberikan kontribusi pembangunan manusia dan kebudayaan daerah kepulauan, sesuai dengan program nasional nawacita. Isu yang dibangun pun tidak terlepas dari Tema RIPAN ; manusia, budaya dan lingkungan purba di nusantara, serta pendukungan program pemerintah tentang kemaritiman.

Kawasan Kepulauan Kei dan Seram dipilih sebagai lokus lanjutan karena memiliki aspek nilai penting yaitu: 1) melanjutkan isu penelitian yang sama yaitu tradisi gambar cadas di Kepulauan Maluku; 2) struktur masyarakat Kei, tergolong dalam kelas sosial (atas, bawah dan tengah); 3) menindak lanjut temuan-temuan arkeologi sebelumnya oleh tim penelitian Balai Arkeologi Maluku Tahun 2018 di gugusan pulau-pulau Kei; 4) merujuk pada Teori Birdsell
tentang jalur migrasi manusia masa lampau, Pulau Seram dan Kei menjadi titik yang dilewati. 5) kedua wilayah tersebut mewakili wilayah kebudayaan (culture area) Maluku Tenggara dan Maluku Tengah; 6) pulau Seram dan Kei memiliki riwayat gambar cadas. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kelilmiahan dan kebijakan nasional yang bersifat pembangunan kebudayaan dan manusia. Lewat isu tradisi gambar cadas setidaknya dapat memberikan gambaran tentang budaya manusia kepulauan Maluku dalam memahami kelompok-kelompok manusia masyarakat kepulauan dalam bertahan hidup dengan lingkungan sekitar.

Merujuk pada isu utama dalam kajian ini adalah Kosmologi Gambar Cadas di Kepulauan Maluku maka Kepulauan Kei, Maluku Indonesia menarik untuk diteliti terkait masa prasejarah di Kawasan Wallacea. Posisi Kepulauan Kei, Maluku yang strategis menghubungkan Wallacea sahul dan sunda dalam geografis Asia Tenggara. Kondisi tersebut menjadi pondasi dasar dalam merekonstruksi kebudayaan di Kepulauan Kei, Maluku. Survei potensi arkeologi prasejarah di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara Indonesia merekam 39 titik situs, yang tersebar di wilayah pulau-pulau kecil bagian barat utara Kepulauan Kei dan pulau Kei Kecil pesisir barat dan timur. Situs-situs tersebut tergolong dalam beberapa karakter, yaitu tebing batu, ceruk peneduh, gua atau liang, dan situs terbuka. Selain itu terdapat situs gambar cadas di Pulau Keimear, Kecamatan Pulau-pulau Kur Kota Tual. Karakter gua, tersebar di Kawasan Kei Kecil dan Pulau-Pulau Kur. Karakter gua vertical dengan kedalaman mencapai titik dalam kurang lebih 7 meter, dengan lebar mulut gua paling kecil 1,5 meter dan 3-4 meter. Ketinggian gua mancapai titik paling tinggi dari permukaan laut 173 mdpl dan paling rendah 4 mdpl di di Pulau Kur. Karakter gua di Kei kecil dengan ketinngian dari permukaan laut 10 meter di pesisir Kei Kecil Barat.

Peta Geologi Kepulauan Kei dengan Inset Lokus Penelitian

Karakter tebing dan ceruk, tersebar di seluruh Pulau Kei Kecil dan Kur. Kondisi tersebut sesuai dengan proses geologi Kepulauan Kei. Ceruk yang paling tinggi di Pulau Kur dengan ketinggian 143 mdpl berada pada daerah tanjung pada arah bagian barat. Sedangkan ceruk paling rendah tersebar di Pulau Kei Kecil pesisir utara.

Panel Gambar Cadas di Situs Ceruk Kel Lein, Pulau Kaimear

Karakter gambar cadas, di Pulau Kaimear dan Pulau Kei Kecil bagian utara. Berada pada tebing dan ceruk. kondisi gambar cadas di situs Kei lein, Pulau Kaimear tersebar pada dinding gua, bahkan pada lantai batu pijakan (lantai dasar). Motif gambar cadas variatif mulai dari motif manusia, perahu, ayam, suram (gerabah), wajah manusia, cap tangan (negatif), serta garis-garis vertikal horizontal, jala ikan, matahari, bulan, mata panah. Gambar-gambar tersebut pun dapat ditemukan di situs Dudumahan, Desa Ohoidertawun, akan tetapi belum dapat dipastikan gambar yang sama atau tidak sama karena harus dianalisis lanjutan.

Temuan permukaan, variatif dari fragmen tulang, tembikar, kerang, porselen. Karakter temuan mengindekasikan tradisi keberlanjutan (sesajen) di situs terbuka atau permukiman lama. Kondisi tersebut dapat ditemukan di Pulau Kur bagian Selatan, Pulau Kei Kecil bagian barat. Jumlah temuan permukaan kurang lebih 23 buah, dengan rincian pecahan wadah tembikar 21 buah, keramik 2 buah. Pecahan berhias 5 buah. -Lucas Wattimena

© 2019 Balai Arkeologi Maluku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *