web analytics

Arkeologi dan Bencana Masa Lalu di Maluku, Kontribusi untuk Pengembangan Mitigasi Lokal Maluku

Tatap Muka dan Diskusi Bersama Kepala BNPB Letjen Doni Monardo

Tahun 2019 menjadi tahun penting bagi pemahaman bencana di Maluku. DenganGempa Ambon di bulan September dengan dampak gempa susulan yang terasa hinggaawal tahun 2020, menjadi penanda akan pentingnya literasi bencana bagi Maluku. Kondisi ini tentu semakin menyadarkan negara dan seluruh elemen bangsa bahwa bencanalam merupakan bagian yang melekat dalam pengelolaan negara. Hal yang berarti bahwstrategi pengelolaan bencana nasional mesti terus menerus disempurnakan untumeminimalisasi dampak bencana. Selama satu dekade terakhir, mitigasi bencana nasionsemakin berkembang ke arah yang lebih baik. Kondisi yang bisa diamati dari penetapanregulasi; pembentukan lembaga; penyediaan tenaga dan sarana; serta pengembangastrategi dan perluasan informasi terkait mitigasi bencana nasional. Perubahan positif yanharus diapresiasi. Meski disadari bahwa beragam perbaikan masih harus dilaksanakan utamanya menimbang luasnya geografi Indonesia; besar jumlah penduduk; dan karakteristiwilayah yang sedemikian beragam.

Sejarah budaya telah mencatat bahwa Nusantara merupakan negeri yang rentan bencana sejak masa lalu. Karakteristik wilayah sebagai zona pertemuan lempeng-lempeng tektonik global dan serta bagian dari mata rantai Cincin Api Pasifik, membuat kepulauan ini lekat dengan bencana sejak waktu silam. Beberapa peristiwa alam tersebut bahkan tercatat sebagai mega-bencana yang merubah rupa lingkungan kawasan dan menghilangkan peradaban. Sebagai bagian dari Kepulauan Nusantara, Maluku juga melekat dengan fenomena serupa. Sejarah budaya wilayah ini tidak terlepas dari rangkaian bencana masa lalu yang beberapa di antaranya berdampak masif bagi lingkungan kawasan dan sejarah budaya regional.

Berpijak pada ulasan di atas maka penelitian ini berangkat dari gagasan bahwa studi arkeologi dapat memberikan kontribusi akademis yang signifikan dalam memperkaya pemahaman tentang bencana masa lalu di Maluku dari perspektif sejarah budaya. Pertanyaan mendasar pertama yang coba dijawab melalui penelitian ini adalah bagaimana karkteristik bencana masa lalu di Maluku ditinjau perspektif studi arkeologi. Pertanyaan kedua adalah tentang bagaimana segenap pengetahuan tersebut dapat berkontribusi bagi pengelolaan bencana termasuk pengembangan model mitigasi berkelanjutan yang juga bertautan pada sejarah budaya di Maluku.

Permasalahan di atas akan coba untuk dijawab melalui aspek-aspek utama yang dikaji melalui penelitian ini:

  1. Tinjauan referensi atas aspek geografi, geologi dan lingkungan yang menjadi setting karakteristik bencana masa lalu di Kepulauan Maluku
  2. Kajian historis atas rekam bencana masa lalu di Kepulauan Maluku melalui sumber sejarah
  3. Kompilasi referensi sejarah lokal tentang bencana melalui pelaku sejarah, sejarah tuturdan memori kolektif masyarakat. Termasuk pendekatan lokal dalam mitigasi bencana pada masyarakat.

Untuk menjangkau cakupan data yang menjadi sasaran di atas maka jangkauan geografi penelitian ini akan dibagi dalam tiga klaster untuk ditinjau sejarah bencananya meliputi:

  1. Klaster Pulau Ambon sebagai lokus utama dalam penelitian. Dalam klaster ini meliputi Pesisir Timur Pulau Ambon dan kawasan sekitar yang memiliki potensi data sejarah budaya terkait bencana masa lalu.
  2. Klaster Pesisir Selatan Pulau Seram sebagai lokus pendukung terutama dalam kaitan dengan rekam bencana gempa tahun 1899 dan menjadi salah satu rujukan utama dalam referensi sejarah budaya masyarakat Maluku tentang bencana masa lalu.
  3. Klaster Pulau-Pulau Lease (Pulau Haruku dan Pulau Saparua) sebagai wilayah terdampak

Cakupan kronologi penelitian akan difokuskan pada rekam bencana sejak abad ke-17 mengacu pada sumber-sumber historis. Pencuplikan data dari masa sebelumnya terbuka mengacu pada pengamatan kondisi lingkungan dan catatan dari sumber-sumber akademis yang relevan.

Hasil studi ini menemukan bahwa Kepulauan Maluku adalah wilayah rentan bencana. Keberadaan Kepulauan ini yang menjadi titik perjumpaan lempeng tektonik dan pertautan gugus pegunungan vulkanik di Cincin Api Pasifik merupakan elemen natural yang membuat wilayah ini senantiasa bersentuhan dengan bencana alam seperti gempa bumi; Tsunami dan letusan gunung berapi meski terjadi secara periodik sejak masa silam, catatan atas bencana di Kepulauan Maluku baru muncul setelah kedatangan orang-orang Eropa yang merekam secara tertulis rangkaian peristiwa alam yang terjadi di wilayah ini. Salah satu catatan paling awal disumbangkan oleh Naturalis terkenal Rumphius pada tahun 1674 tentang gempa bumi di Pulau Ambon.Hasil penelusuran atas sumber-sumber historis dalam kajian ini menemukan bahwa bencana alam terjadi secara merata di hampir seluruh wilayah di Kepulauan Maluku. Meliputi wilayah utara Maluku hingga pulau-pulau paling selatan.

Catatan dengan frekuensi tertinggi kiranya datang dari wilayah Kepulauan Banda yang memiliki intensitas aktivitas vulkanik yang tinggi hingga saat ini. Informasi tentang bencana masa lalu di Maluku yang paling minim berasal dari wilayah Kepulauan Maluku Tenggara. Meski wilayah ini juga tergolong rentan bencana. Minimnya perhatian pemeritah kolonial atas wilayah selatan Maluku sejak masa silam, kiranya menjadi faktor utama yang menciptakan kondisi ini.

Geolog Belanda Verbeek yang Menulis Laporan Mengenai Bencana Gempa Besar Pulau Seram 1899 dan Salah Satu Ruang Edukasi Bencana BNPB

Melalui rangkaian pengetahuan terkait bencana masa silam ini arkeologi dan studi sejarah budaya kiranya dapat memberikan kontribusi melalui cara berikut: sosialisasi dan tatap muka dengan masyarakat tentang bencana masa lalu; pembuatan materi visual terkait pengetahuan bencana masa lalu; mengembangkan kajian tematis bencana masa lalu dan membuka akses informasi atas situs-situs spesifik ini; serta aktif terlibat dalam pengembangan model mitigasi bencana daerah. Peran utama arkeologi kiranya melekat pada kemampuan untuk memberikan pengetahuan empirik atas bencana masa lalu dalam bentang waktu yang panjang dan implikasinya secara sosial budaya bagi masyarakat pada setiap masa. Diharapkan segenap himpunan pengetahuan tentang bencana masa lampau ini dapat menjadi kerangka akademis dalam menentukan strategi dan model mitigasi yang selaras dengan kebutuhan wilayah dan masyarakat Maluku. -Marlon NR. Ririmasse

© 2020 Balai Arkeologi Maluku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *