ARKEOLOGI PULAU SEIRRA, KEPULAUAN TANIMBAR MALUKU TENGGARA BARAT


P_20161126_071041 P_20161128_074945 P_20161128_083425 P_20161128_131820 P_20161128_151231 P_20161128_155258Survei di Pulau Seira, Kepulauan Tanimbar, pada awalnya diarahkan ke Pulau Serra itu sendiri, namun ternyata informasi berkembang berasasal dari masyarakat bahwa potensi arkeologi banyak di temukan di pulau-pulau sekitarnya, yakni Pulau-Pulau yang pada masa lampau dianggap sebagai lokasi pemukiman pertama, sebelum masyarakat menghuni pulau Seira. Meski demikian, informasi di Pulau Seira tidak kalah pentingnya, mengingat tradisi setempat, penduduk masih menyimpan benda-benda koleksi yang merupakan pusaka warisan dari leluhur.

Survei arkeologi di Pulau Seira

Survei di Pulau Seirra, utamanya ditujukan di desa Kamatubun yang berada pada koordinat S 07039’54,3” E 1310 01’52,1” tinggi dari permukaan laut -6 meter. Hasil temuan antara lain. Survei ini terutama pendataan awal untuk menghimpun berbagai artefak pusaka negeri yang menjadi koleksi masyarakat. Data ini merupakan material etnografi, material budaya yang hingga kini masih disimpam difungsikan oleh masyarakat. Data material etnografi yang sangat penting di Desa Kamatubun adalah kolek gading gajah atau bisa masyarakat juga menyebut gigi gajah. Koleksi gading gajah ini merupakan koleksi dari marga Watotomata termasuk dalam soa satubun roal, dan berasal dari kasta agama (mel snoba), yang dalam struktur adat bertugas melaksanakan upacara keagamaan (sembahyang). Ukuran gading cukup besar, yakni panjang 135 cm, dengan diameter batang 11 cm.

Menurut informasi masyarakat, gading gajah diperoleh dari masyarakat Nantabun, Kepulauan Babar sebagai hadiah saaat dilangsungkannya upacara panas pela. Kedua negeri berbeda pulau ini, beberapa waktu yang lalu melangsungkan ritual panas pela. Tradisi setempat juga percaya bahwa asal usul penduduk negeri Pulau Seirra pada masa lampau berasal dari wilayah Kepulauan Babar. Bukti soal ini menurut informasi setempat diketahui dari bahasa, masyarakat umumnya menyebut bahwa bahasa yang digunakan di Pulau Seirra sama dengan bahasa yang digunakan oleh masyarakat di Kepulauan Babar. Masyarakat Tanimbar berbicara dalam lima bahasa berbeda. Bahasa dengan kelompok penutur terbesar adalah bahasa Yamdena, diikuti bahasa Fordata, Bahasa Selaru, Bahasa Seluwasa dan Bahasa Makatian. Kelompok bahasa ini merupakan bagian dari rumpun bahasa Austronesia, Central Easter Malayo-Polynesian (Ririmasse, 2010a; Le Bar, 1976).

Selain gading gajah, tim juga mendata koleksi pusaka negeri, material etnografi berupa kain tenun (kain patola) dan manik-manik. Perhiasan manik-manik dan kain tenun tua antara lain terdapat pada eluarga mantan kepala Desa Kamantubun bapak Wetmanlusi.Perhiasan perempuan terdiri dari : Yual atau konde atau hiasan di kepala, Korasai hiasan di kepala, Ngesa hiasan di pinggang atau rim atau ikat pinggang Marumat hiasan di leher atau kalung, Sislok hiasan di buah tangan atau gelang pada kedua tangan. Kain tenun tua bermotif tafit, maran dan tafit ular, Terdapat 3 motif di Pulau Seira, yaitu motif eman, tafit dan ular.

Selain koleksi penduduk, juga ditemui dolmen-dolmen di dalam kampung (negeri) yang dihubungkan dengan Soa  atau masyarakat menyebutnya batu soa,  yakni dolmen-dolmen yang melambangkan kolektif kolegia  dari soa atau himpunan marga. Pada survei ini difokuskan di desa Kamatubun, yang memiliki 3 (tiga) buah batu menyerupai meja, yang terletak berdekatan antara satu dengan yang lain. Simbol batu tersebut melambangkan jumlah kelompok soa yang ada di Desa Kamantubun, yaitu 1) soa satubonroal yang terdiri dari 9 marga atau matarumah. 2) soa satubunraa terdiri dari 7 marga atau matarumah 3) soa kodubun terdiri dari 6 marga atau matarumah. Menurut masyarakat dan tetua adat setempat bahwa batu-batu ini adalah melambangkan perahu bagi masyarakat tiap soa, sehingga ketika bergabung ketiga soa ini dalam satu perahu namanya irararatu. Soa satubunroal nama perahunya Resiwola, soa satuBunraa nama perahunya sainyakit, sedangkan soa kodubun nama perahunya Ratukosu.

Batu Soa Uren, merupakan tempat raja berdiri, atau disebut juga baru soa raja, soa satubunroal dari mel fowak

Desa Kamantubun nama perahunya irararatu. Setiap batu terdapat memiliki penjaganya; marga renrenulu adalah penjaga batu soa satubunraa. Marga uren penjaga untuk batu soa kodubun. Batu temata soa satubunroal marga watu temata penjaga batu.  Ketiga batu dolmen tersebut pun melambangkan fungsi adat, yaitu bapak atau jon atau kodubun, mama atau jok atau watutemata dan anak atau selu atau renrenulu. Tuang tanah diluar skema fungsi tersebut, karena dia adalah O’ Duang. Atau dengan kata lain tuang tanah yang mengatur ketika fungsi adat tersebut.

Batu watutomata, adalah simbol dari soa agama, yang melantik raja, sebelum berdiri di batu uren, raja dilantik dibatu watutomata, dari melsnoba.

Batu Watutomata, adalah simbol dari marga watutomata, yang dalam kedudukan dalam adat adalah yang berhak menyimpan benda-benda pusaka negeri.  Marga watutomata merupakan kelas sosial atau kasta melsnoba, yakni yang berfungsi atau bertugas mendoakan dalam memimpin upacara adat dan melantik raja. Batu marga  watutomata terbuat dari batu karang, bentuk tidak beraturan dan ditopang oleh empat kaki yang berbentuk tidak beraturan, menyerupai persegi panjang dan menyangga batu meja. Batu Watutomata digunakan untuk memanjatkan doa dalam pelantikan raja.

Batu renrenulu memiliki ukuran tebal 10 sentimeter, lebar 90 sentimeter tinggi dari permukaan tanah 36 sentimeter, panjang kurang lebih 153 sentimeter. batu berbentuk segitiga, terdapat pecahan pada bagian ujungnya. Batu ditopang oleh batu yang baru berjumlah 4 buah. Batu kodubun  memiliki ukuran lebar 50 sentimeter, panjang 80 sentimeter, tinggi dari permukaan tanah 20 sentimeter dan tebal batu 10 sentimeter. terdapat bekas lubang pada bagian ujung batu dengan ukuran pecahan tersebut kurang 2 sentimeter. Marga-marga di soa satubunraa antara lain : renrenulu, fatunlebe, kununara, lalin, watmanlusi. Marga-marga di soa kodubun antara lain : kodubun, uren, lalin, federmuri, wermatang, natar.

Koleksi penduduk lainnya adalah adanya Tombak, Desripsi : tombak memiliki ukiran pada ujungnya. Panjang mata tombak kurang 15 sentimeter dengan lebar kurang lebih 5 sentimeter. Tombak milik keluarga kuwae. Melihat bentuk dan tipologi tombak, kemungkinan berasal dari kerajaan di wilayah Pulau Jawa, besar kemungkinan merupakan barang bawaan pedagang dari Jawa pada masa Majapahit.

Selain survei di Desa Kamatubun, juga di desa Rumasalu yang terletak berdampingan. Desa rumasalu memiliki 2 buah dolmen batu besar yang berdekatan antara satu dengan yang lain. proses perekaman dilakukan meliputi ambil gambar, namun tidak dapat mengukur dan deskripsi sejarah karena masyarakat masih sensitive mengenai satu kelompok dengan kelompok lain pada stu desa, dalam hal ini desa rumasalu.  Dolmen batu meja tersebut memiliki nama, yaitu ditiratu dan Lakamela. Kedua batu ini merepresentasikan batu laki-laki yaitu lakamela dan batu perempuan ditiratu. Kedua batu ini adalah sepasang suami istri yang berasal dari kepulauan babar. Fungsi batu untuk pelantikan raja, sembayang adat.

 Survei di Nus nitu

Masyarakat menyebut Pulau Nus Nitu dengan sebutan Pulau Syetan, hal ini berhubungan dengan kepercayaan mistik masyarakat terhadap penghuni Pulau Nus Nitu yang merupakan arwah gentayangan, dari jasad-jasad leluhur masyarkat Pulau Seirra yang meninggal yang ruhnya tidak bisa terangkat ke sorga. Pulau ini berada di ujung pulau Selu bagian barat. Tidak ditemukan bukti arkeologi di Pulau ini, namun makna kosmologi Pulau ini merupakan informasi yang cukup penting dihubungkan dengan setting budaya dan kepercayaan masyarakat setempat.  Pulau setan adalah jembatan penghubung antara orang mati dan hidup. Orang yang mati berjalan menuju arah barat. Kedua pulau masih satu daratan, yang dipisahkan oleh meti pasir yang besar. Pulau setan juga merupakan penanda klo ada orang mati terdengar suara tangisan sampe ke pulau seira, dan masyarakat tahu bahwa akan ada orang mati. Pulau Selu ditinggalkan oleh penduduk karena wabah ikan tona-tona sejenis ikan momar Sedangkan penduduk meninggalkan pulau wuliaru menuju seira karena wabah lalat.

Survei arkeologi di Pulau Selu

Situs Ceruk Tengkorak Wermatang I

Situs Tengkorak Warmatan 1, merupakan situs ceruk untuk penguburan sekunder. Di dalam situs ceruk ini ditemukan kumpulan frgamen tulang dan tengkorak manusia yang diletakkan pada mulut gua. Di sekitar ceruk ditemukan sebaran fragmen gerabah polos, berukuran tebal dan tipis. Gerabah tipis kemungkinan hanya digunakan untuk ritual keagamaan, yang berhubungan dengan keberadaaan tengkorak. Indikasi ini dapat dilihat mengingat temuan gerabah polos diantaranya ditemukan berasosiasi atau bercampur dengan temuan tulang dan tengkorak. Hasil pengamatan menunjukan bahwa situs berada pada bagian ujung/tebing laut/pantai, situs gua tengkorak berada di pesisisr pantai hutan mangrove. Temuan tulang manusia tidak utuh kurang lebih 20-30 buah, diantaranya tulang tengkorak, tulang paha dan tulang lengan,  tengkorak 3 buah, 1 tengkorak kulit kepala, dan fragmen pecahan botol mungkin sebagai wadah air untuk sesajian. Gerabah yang berukuran tipis, menurut penduduk mungkin jenis peralatan sehari-hari yang disebut Ta’kan,  yakni semacam kendi tempat air minum.

        Situs Ceruk tengkorak warmatan II

Jarak dengan situs warmatan 1 kurang lebih 10 meter arah timur. Situs ini berada di ketinggian kurang lebih 10-15 meter dinding batu gua. Sekitar situs terdapat lutur batu, karena lutur membatasi antara permukiman dan situs penguburan.Temuan tengkorak manusia kurang lebih 14 buah, dengan 2 tengkorak yang tidak utuh hanya kulit kepala. Gerabah polos pecahan 5 buah. Tengkorak berada di mulut gua dengan luas mulut gua kurang lebih 3 meter.

Situs ini merupakan situs ceruk, sebagai penguburan sekunder. Tampak dibuat undak-undakan dari bawah/pantai menuju ceruk, untuk mempermudah jalan menuju situs ceruk penguburan. Dari pengamatan lapangan, kemungkinan pantai di bawah ceruk pada masa lampau masih tergenang air laut, kondisi sekarang sudah mengalami pendangkalan. Di bagian atas ceruk, adalah situs pemukiman. Di samping ceruk, terdapat indikasi adanya jalan menuju ke pemukiman, namun pad masa lampau sengaja ditutup oleh masyarakat pendukung dengan susunan batu (lutur), yang disusun diantara dua tebing. Jadi antara tebing wermatang II, dan tebing yang di bawahnya terdapat ceruk penguburan, disusun lutur sebagai pertahanan tradisional. Lanskap demikian, merupakan lanskap budaya, yakni proses pengubahan lanskap alam oleh masyarakat pendukung untuk tujuan menutup akses orang luar masuk dengan menutup celah diantara dua tebing dengan susunan batu.

 

Situs Pusat Kampung Wermatang

Berada pada ketinggian, 105 mdpl, pusat kampung ditandai oleh meja batu dan beberapa susunan batu, yang tampak sebagai pondasi dan umpak tiang rumah. Jejak-jejak pemukiman diantaraanya lutur-lutur yang tampak rata dengan tanah, sebagai bekas pondasi rumah. Selain itu keberadaan batu meja, yang dianggap sebagai pusat kampung, sementara pada arah empat penjuru mata angin adalah tempat hunian untuk mendirikan rumah-rumah penduduk. Menurut informasi pad lampau hanya terdiri dari 4 keluarga. Leluhur yang bermukim di situs ini berasal dari Pulau Dai, Kepulauan Babar. Semua yang bermukim disini adalah leluhur dari marga Wermatang yang kini bermukim di Pulau Seira, yakni di desa Kamatubun.

 Situs Kampung Lama Yawatbibi

Berada di ketinggian kurang lebih 75 meter dari permukaan laut, situs ditumbuhi oleh tanaman lontar. Di lokasi ditemukan artefak kuli bia (tahuri atau aturi), juga ditemukan batu asah, yakni batu yang digunakan untuk mengasah senjata tajam. Jejak pemukiman adanya lutur-lutur batu yang membentuk pola ruang tertentu.. Kondisi susunan batu yang sudah rusak atau terbongkar dan semak-semak yang menutupi permukaan tanah, menyebabkan sulitnya identifikasi bentuk hunian disitus tersebut berdasarkan keletakan susunan batu  (lutur). Di lokasi situs, dalam kuantitatas yang masif, ditemukan sebaran kerang, yang kemungkinan sebagai salah satu makanan yang dikonsumsi.

 

  1. Survei di Pulau Wuliaru

Lokasi survei di situs wuliaru baru menjangkau satu titik lokasi yang disebut dengan Situs Butu, merupakan situs pemukiman leluhur dari marga Refiali yang kini bermukim di Desa Rumasalu, Pulau Seira. Lokasi situs berada medan yang cukup sulit, untuk mencapai lokasi situs, tim harus menembus hutan bakau dengan berjalan kaki setelah sampai di pantai. Meskipun jarak tempuh yang harus melalui hutan bakau tidak panjang, namun kondisi tanah berkumpur dan akar-akar bakar cukup menyulitkan perjalanan. Setelah menembus bakau, tim survei mendaki bukit yang tidak terlalu tinggi. Pada pintu masuk ke bukit itu, terdapat susunan batu, yang menandai bahwa wilayah itu sudah memasuki kawasan situs. Susunan batu di atas bukit itu menggambarkan lokasi untuk mengintai orang luar yang hendak masuk ke pemukiman itu. Lokasi yang strategis berada pada ketinggian dan jarak pandang yang luas ke bawah, menunjukkan situs tersebut aman sebagai lokasi hunian sekaligus sebagai pertahanan.

Di pusat lokasi ditemukan batu berbentuk bulat, (buntal),  seperti globe, dengan ukuran keliling 3 meter. Ukuran batu globe tersebut memang terbilang besar, seukuran dua lingkar tangan 2 orang dewasa. Batu buntal tersebut, tampak diukir, terdapat bekas pahatan-pahatan melingkar dan bersambung mengelilingi batu dan memenuhi badan batu. Tampak menunjukkan pola tertentu, dengan motif hias garis atau sulur yang melingkari batu. Tidak diperoleh keterangan dari penduduk fungsi batu tersebut. Namun keletakan batu yang berasosiasi dengan batu meja menunjukkan batu tersebut kemungkinan bermakna sakral, untuk keperluan ritual adat.

Pulau Seirra dan pulau-pulau sekitarnya mrupakan sasalah satu kawasan di sebelah barat Kepulauan Tanimbar yang cukup potensial yang meyinpan kekayaan sejarah budaya dan arkeologis. Hal ini ditunjukkan dengan berbagai temuan di beberapa situs arkeologi yang tersebar di Pulau Seirra dan sekitarnya. Potensi tersebut, baik berupaka material etnografi koleksi penduduk, maupun situs-situs arkeologi yang sangat penting yang dapat mengungkap sejarah budaya masyarakat setempat.

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *