Arkeologi dan Sejarah Kerajaan Loloda: Situs Kampung Soa Siu di DAS Loloda


Hasil penelitian arkeologi terkini untuk melacak jejak Kerajaan Loloda di bagian utara Halmahera Barat, menemukan bukti-bukti bahwa Kerajaan Loloda sesungguhnya adalah kerajaan Islam di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Soa Sio, Loloda, Halmahera Barat. Jejak arkeologi di pemukiman di pinggir sungai Loloda tersebut dapat mengkonfirmasi catatan sejarah Kerajaan loloda sebelumnya. Dalam sejarah, tercatat pengaruh Islam dapat dilihat dari adanya pemukiman Muslim yakni Soa-Sio dan Bantoli di ibukota Loloda. (de Clerk, 1890: 74  dalam Rahman, 2015: 211). Kemungkinan Kampung Muslim yang dimaksud Van Fraassen adalah Soa-Sio, karena Soa-Sio yang dimaksud terletak di tepi Sungai Loloda. Di Lokasi inilah, tim suuvei arkeologi melacak jejak peninggalan arkeologi dari kerajaan Loloda (lihat uraiannya di subbab berikut). Di Soa Sio inilah, kediaman atau kedudukan Raja Loloda berada, dan raja juga seorang Muslim. Meskipun raja adalah seorang Muslim, namun dalam sumbersumber Belanda tidak disebutkan eksistensi Penguasa Loloda dengan gelar sultan. Sekalipun demikian dalam pemahaman orang Loloda saat ini, mereka senantiasa memberi konotasi yang sama antara raja (kolano) dengan sultan (Syah, 2005: 26 dalam Rahman, 2015: 11).

Dalam berbagai sumber sejarah, Loloda dianggap sebuah kerajaan Islam yang hilang. Pada masa lampau selain Moluke Kie Raha, yakni aliansi empat Kerajaan Islam di Maluku Utara, yakni Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo sesungguhnya ada satu lagi kerajaan Islam, yang dikenal dengan Kerajaan Loloda. Kerajaan ini hilang akibat perang Loloda tahun 1908. Faktor persaingan dengan pihak Kolonial dalam hal ini Portugis dan Belanda, menyebabkan kekuasaan Loloda semakin memudar dan hilang, dan dalam sebuah perjanjian yang disebut “Perjanjian Moti” tentang konfiguras pemimpim-pemimpin kerajaan di Maluku “Motir Staten Verbond” Kerajaan Loloda tidak dimasukkan dalam konfiguras tersebut. (Amal, 2010, Mappanawang, 2012: 63;143; Mansyur, 2013: 65; Rahman, 2015: 208-209).

Loloda adalah salah satu daerah yang merupakan pusat kekuatan politis yang melahirkan gelar kolano (raja) yang dibantu oleh Jougugu (kapita laut dan hukum), sebagaimana halnya fungsifungsi politik yang serupa di Ternate. Faktanya ialah bahwa penguasa Loloda tertinggi bergelar kolano sebagaimana halnya gelar kolano sebelum digantikan dengan gelar Sultan bagi raja Ternate dan Tidore, namun kemudian Loloda dinyatakan terpisah. Pada abad ke-17 Loloda telah menjadi pusat Islam karena pada tahun 1686, namun Islam dinyatakan baru masuk Loloda pada tahun 1656 (Mappanawang, 2012: 63, 143). Tahun 1662 penduduk Loloda diperkirakan berjumlah 200 orang dan di tahun 1686 muslim Loloda berjumlah 16 orang (Andaya, 1993; 2015, Amal, 2010, Mappanawang, 2015). Sementara penduduk Alifuru berjumlah 60 orang. Pada 1911 sekitar 19 desa dengan jumlah penduduk 4000 jiwa  Muslim, Kristen, dan Pagan. Pada tahun 1686 terdapat lima desa yang ditempati oleh orang-orang Alifuru (di luar desa-desa Muslim utama), lima desa orang Alifuru itu adalah Lobo-Lobo, ToboTobo, Kedi Togolami, dan Bakune, mereka semua berjumlah kira-kira 60 orang. Desa-desa Alifuru yang lain adalah, Baru, Bakun, Kedi, dan Laba (Mappanawang, 2015: 2010).

Pengaruh Islam terhadap sistem politik di Loloda membawa pengaruh terhadap penyebaran Islam di wilayah Loloda pada masa-masa berikutnya. Hal ini dapat dilihat dari data statistik 1917, terlihat jumlah penduduk Loloda yang telah beragama Islam sebanyak 1155, jumlah itu tersebar di kampung Soa-Sio (248), Tolofuo (330), Baja (56), ToboTobo (87), Fitako (119), Dedeta (149), Dama (103), dan Tate (63). Angka tersebut termasuk Kampung Pocao, karena dalam data statistik itu, hanya mencantumkan penduduk Pocao terdiri dari Islam dan Alifuru (kafir) (Baretta, 1917: 104-109 dalam Rahman, 2015:214- 215).

Dengan adanya pengaruh Islam terhadap sistem politik di Loloda, menunjukkan adanya perubahan sosial dalam bidang kebudayaan. Perubahan sosial itu telah mempengaruhi transformasi politik di Loloda, menunjukkan adanya perubahan sosial dan kebudayaan. Perubahan sosial itu telah mempengaruhi transformasi politik di Loloda dari sistem kerajaan ke sistem distrik, namun peran Islam yang dilegitimasikan dalam sistem pemerintahan di Loloda (Bobato Soa Sio) yakni Soa Lebe tetap eksis). Dengan demikian dapat dikatakan pengaruh Islam justru merupkan landasan dari sistem politik di Loloda.

Catatan yang menarik pula adalah bahwa pada masa lalu, Loloda disebut sebagai wilayah vassal dari Ternate. Leirissa menyebut Loloda, salah satu wilayah di Halmahera, yang menjadi penyuplai kebutuhan pokok Ternate (Leirissa, 1990: 133). Dari hasil penelitian arkeologi, diperoleh informasi tentang toponim yang disebut Aha Kolano, yakni sebuah wilayah dusun milik Kolano Loloda, yang ditumbuhi oleh tanaman-tanaman pangan seperti sagu dan padi ladang, yang letaknya jauh dari situs pemukiman Soasio Lama, ibukota Kerajaan Loloda di tepi sungai. Selain itu penelitian arkeologi, ditemukan sejumlah data yang dapat mendukung keterangan sejarah, sebagaimana yang diuraikan sebelumnya. Sejauh hasil penelitian arkeologi di lapangan, situs kampung tua Soasiu, ditepi sungai Loloda, menjelaskan bahwa Kerajaan Loloda, selain sebagai kerajaan pedalaman, juga kerajaan pesisir. Geografis pantai, laut dan sungai saling berintegrasi sebagai karakter khas lingkungan kerajaan Loloda. Hasil survei, memperlihatkan bahwa posisi Kerajaan Loloda sangat strategis menghubungkan wilayah pesisir dan pedalaman.

Loloda merupakan kerajaan yang menganut Islam sejak abad 17 M, kerajaan itu berpusat di negeri Soa Sio, di tepi Sungai Loloda. Menurut tradisi tutur, lima kerajaan Islam Ternate, Tidore, Bacan, Jailolo dan Loloda dikenal dengan sebutan Moluko Kie Romtuha. Namun akibat kalah bersaing dengan pihak kolonial, maka pada awal abad 20 M, kerajaan Loloda ‘hilang’, dan pusat kerajaan ditinggalkan penduduknya menyebar ke daerah-daerah lain. Tampaknya pusat desa atau sebagai ibukota Kerajaan Loloda adalah sebuah lokasi yang oleh penduduk sekarang disebut Soasio lama. Dari hasil survei, Soasio lama, adalah sebuah lokasi yang cukup representratif sebagai tempat bermukim, sebuh dataran berbukit landai yang cukup luas, dan memungkinkan untuk menampung puluhan kepala keluarga atau ratusan jiw penduduk. Wilayah itu memilik sumber air bersih yang cukup, disamping sungai Loloda yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Namun tampaknya sumber air banyak diambil berasal dari cabang sungai Loloda, dan di lokasi tersebut terdapat sumber mata air yang airnya sangat bersih. Penduduk menyebutnya sebagai Ake Tidore, sungai kecil dan sekaligus mata air yang airnya mengalir ke sungai Loloda (Soasio). Ake Tidore berada di sebelah lokasi pemukiman Soasio Lama. Ake tidore, tampaknya sebuah toponim, yang berhubungan dengan soal kedatangan seorang tokoh yang berasal dari Tidore dan kemudian meninggal di wilayah pemukiman Soasio lama. Namun, tidak diperoleh keterangan yang lebih memadai untuk memberikan penjelasan tentang hubungannya dengan Kerajaan Loloda, mengingat catatan-catatan sejarah, tidak menyebut tentang hubungan Tidore dengan Loloda.

Dalam soal Islamisasi, sebuah sumber menyebut, bahwa proses Islamisasi di Loloda, berasal dari salah satu penganjur Islam, bernama Syekh Manyur, yang menyiarkan Islam di Ternate dan Halmahera muka Halmahera muka di sini bisa jadi adalah Loloda dan Ibu (Assegaf, 1974: 15 dalam Rahman, 2015: 211).  Menyangkut nama Syekh Manyur, kiranya menarik jika dihubungkan dengan temuan makam kuno, yang dipercaya sebagai Makan Syekh Mansyur, yang konon berasal dari Bagdad. Makam kuno berada di situs pedalaman di wilayah Kao, Halmahera Utara (Tim Penelitian, 2014; Handoko, dkk, 2016). Namun sumber lain, juga menyebut bahwa tokoh Syekh Mansyur, merupakan penyiar Islam yang mengajarkan Islam di wilayah Tidore (Tudoho, 2013). Tampaknya mengenai nama Syekh Mansyur, banyak diklaim sebagai penyiar Islam di berbagai tempat di Maluku Utara, antara lain Ternate, Loloda, Kao dan juga Tidore. Kemungkinan nama Syekh Mansur berhubungan dengan perkembangan tradisi Islam sufi di wilayah-wilayah tersebut. Menyangkut toponim Ake Tidore di lokasi situs Soasio Lama, ibukota Kerajaan Loloda, merupakan informasi baru sebagai bahan interpretasi hubungan Loloda dan Tidore dalam soal syiar Islam, melalui nama Syekh Mansyur.

Meski demikian, bukti-bukti arkeologi menunjukkan bahwa kemungkinan Kerajaan Loloda, sudah ada pada kisaran abad 15 M. Hasil penelitian arkeologi ditemukan jejak-jejak Kerajaan Loloda di tepi sungai Soa Sio, penduduk menyebutkan sebagai Soa Sio lama, disitulah letak pusat kerajaan Loloda. Bukti pelacakan arkeologi tentang Kerajaan Loloda di situs Soa Siu Lama di DAS Sungai Soa Sio atau Sungai Loloda, ditemukan struktur, berupa susunan batu yang diduga sebagai sisa-sisa kedaton Loloda, yang diperkuat oleh adanya ubin bata merah di lokasi tersebut. Selain itu ditemukan pula sebaran keramik baik dari masa Dinasti Ming (16-17M), Qing (17-19), Eropa (19-20), bahkan ditemukan pula mangkuk Thailand Swangkhalok (14-16 M), dan juga artefak-artefak lain. Meskipun data arkeologi yang ditemukan masih minim, namun dari aspek lingkungan dan daya dukung lainnya, dapat diduga, lokasi itu sebagai bekas pemukiman pusat Kerajaan Loloda sebagaimana yang dituliskan dalam teks sejarah dan tradisi tutur masyarakat setempat.

Data kronologi keramik, mengkonfirmasi adanya hubungan perdagangan Kerajaan Loloda dengan daerah-daerah luar, baik secara langsung maupun melalui pedagang antara. Pada masa lampau, diperkirakan jalur pantai Loloda baik disebelah barat maupun sebelah utara, merupakan jalur lintasan pelayaran dan niaga yang keluar masuk ke wilayah kerajaan ini. Di pesisir pantai sebelah barat, berhubungan dengan Kerajaan Jailolo dan Ternate, sedangkan di sebelah utara berhubungan dengan wilayah Galela dan wilayah Halmahera Utara lainnya, yang dalam hal ini termasuk wilayah dari Kerajaan Moro. Sementara itu, muara dan sungai Loloda adalah pintu dan lintasan masuknya kapal-kapal dagang ke wilayah bagian dalam sungai, tempat Kerajaan Loloda berpusat. Meskipun dalam catatan sejarah, Kerajaan Loloda adalah sebuah kerajaan kecil yang dianggap miskin, namun catatan sejarah lainnya menyebut bahwa Loloda adalah penyuplai kebutuhan pokok Kesultanan Ternate. Informasi sejarah yang tampak bertolak belakang ini, perlu dikaji lebih lanjut, mengingat fakta di lapangan, bahwa Loloda hingga kini merupakan daerah yang kaya kopra, bahkan hingga kini, sagu dan tradisi pertanian padi ladang juga masih berlanjut meskipun untuk kebutuhan sendiri.

Jejak arkeologi bahwa situs Soasio Lama, pada masa lalu sebagai ibukota Kerajaan Loloda, adalah ditemukannya data-data arkeologi yang dapat mendukung informasi tersebut. Selain sebaran keramik sebagaimana yang sudah disebutkan sebelumnya, juga terdapat gerabah, fragmen kaca atu botol produksi Eropa dan data arkeologi lainnya. Di lokasi situs ditemukan pula jejak bekas kedaton Jailolo, yang ditandai oleh adanya struktur atau susunan batu dan area yang tanahnya ditinggikan dengan ukuran 12.5×10 M, yang dapat diyakini sebagai sisa pondasi dan areal tempat berdirinya kedaton. Kemungkinan bangunan kedaton pada masa lalu, adalah bangunan rumah tradisional dengan bahan-bahan setempat yang tidak bisa bertahan lama dalam kurun waktu hingga ratusan tahun, sehingga jejak-jejak meterial rumah atau kedaton tidak ditemukan lagi.

Demikian pula, tentang peninggalan masjid kuno, juga sudah tidak ada sisa-sisa bangunan masjid, kecuali lokasi yang dipercaya masyarakat sebagai bekas lokasi masjid, berupa areal tanah yang tampaknya ditinggikan dan permukaannya rata. Kondisi arealpun sudah sulit dikenal, mengingat tumbuhan perdu dan semak belukar yang rimbun dan menutupi lokasi, sehingga sulit dalam pengidentifikasian dimensi dari lokasi yang dipercaya sebagai lokasi masjid kuno Kerajaan Loloda. Di bagian barat lokasi masjid, ditemukan sebuah batu pipih, yang sesungguhnya adalah dolmen, yakni batu berbentuk seperti meja yang digunakan untuk ritual tertentu pada masa sebelum berkembangnya agama. Dolmen, tersebut adalah peninggalan pra Islam, namun menurut kepercayaan masyarakat setempat, dikenal sebagai Batu Wudhu,  yakni batu yang digunakan sebagai alas pada saat menyucikan diri atau mengambil air wudhu, umat Islam Loloda pada masa lampau.
Selain data arkeologi itu, di lokasi situs juga ditemukan beberapa makam kuno Islam, satu diantara makam Islam, adalah makam Imam Syawal, yang dipercaya sebagai Imam pertama kerajaan Loloda. Makam ini adalah makam kuno, dengan nisan menhir, namun kondisi sekarang, pada bagian nisan makam, sudah diperbaharui, sehingga kehilangan nilai kekunoannya. Ciri makam kuno, dengan susunan jirat batu dan nisan menhir, merupakan ciri makam kuno yang umum. Ciri ini sesungguhnya merupakan bentuk adaptasi budaya pra Islam yang masih berlanjut meskipun masyarakat sudah mengenal Islam. Selain makam Imam Syawal, juga dijumpai makam-makam kuno lainnya, yang lokasinya terkonsentrasi dan tidak berada pada area yang sama dengan makam Imam Syawal. Lokasi konsentrasi makam, berada di sebelah utara Situs Kedaton Soasio, dan lebih dekat ke arah sungai Loloda. Beberapa makam menunjukkan makam Islam dengan tipologi lokal, yakni tipologi pengaruh budaya pra Islam, dengan nisan menhir, namun beberapa diantaranya terdapat makam dengan tipologi nisan yang cenderung memperlihatkan tipologi Ternate. Nisan dengan tipologi Ternate, semakin memperjelas bentuk pengaruh Ternate terhadap Kerajaan Loloda.

Selain makam-makam Islam yang sudah disebutkan, juga ditemukan satu makam yang unik, berbeda dengan makam lainnya, yakni sebuah makam yang menunjukkan makam pra Islam, atau makam yang bukan ciri makam Islam. Kemungkinan tokoh yang dimakamkan adalah tokoh masyarakat asli (alifuru) yang belum beragama Islam, atau masih menganut agama suku (animisme). Ukuran makam yang sangat besar dengan nisan batu menhir dan berorientasi cenderung arah barat timur, berbeda dengan makam-makam Islam sebelumnya yang berorientasi Utara-Selatan. Ukuran makam, dengan jirat atau badan makam, mencapai 5 meter lebih, tanpa jirat. Ukuran panjang makam, diukur berdasarkan keletakan nisan menhir di bagian barat dan timur. Keberadaan makam ini, memberikan penjelasan bahwa lokasi Soasio, merupakan sebuah kampung yang sudah dihuni sebelum munculnya komunitas muslim Loloda. Dalam catatan sejarah, disebutkan bahwa selain kampung muslim Soasio, juga terdapat kampung-kampung pedalaman, yang masih menganut agama suku. Kondisi ini tampaknya menjelaskan bahwa pengaruh kolonial lebih berkembang dibanding kebijakan pemerintahan Loloda yang menganut sistem pemerintahan Islam.

Selain temuan fitur bekas kedaton, masjid dan artefaktual seperti yang disebutkan sebelumnya, temuan koin logam bertahun 1898 dan artefak botol-botol Belanda, serta keramik Eropa, dapat menjadi bahan interpretasi bahwa, wilayah ini pada abad itu, dikuasai oleh pihak Kolonial. Meski jumlah temuan koin yang minim atau hanya satu buah berdasrkan survei yang dilakukan, kemungkinan menunjukkan bahwa pada masa itu, alat tukar yang digunakan berupa uang Belanda, yang dapat pula diterjemahkan bahwa ekonomi kolonial menguasai wilayah itu.

Meskipun demikian, dari bukti-bukti arkeologi yang masih minim, tampaknya dapat mengkonfirmasi informasi sejarah tentang keberadaan Kerajaan Loloda di masa lalu. Secara geografis, Loloda merupakan kerajaan pedalaman di Daerah Aliran Sungai yang sangat terbuka berhubungan dengan wilayah lain melalui laut. Wilayah kerajaan luar yang paling dekat dan mudah berhubungan dengan Loloda adalah Jailolo di Halmahera Barat dan Galela di wilayah Halmahera Utara. Minimnya data arkeologi yang ditemukan dalam penelitian ini, belum sebanding dengan catatan sejarah yang ada. Demikianpun, catatan sejarah yang ada, masih minim dari penulisan sejarah yang utuh tentang Loloda.  Penelitian ini masih sebatas menjangkau, daerah Loloda yang diwakili situs Soasio Lama, yang dianggap sebagai pusat Kerajaan Loloda pada masa lampau. Masih perlu dikembangkan lagi survei-survei arkeologi di wilayah Loloda Utara dan Loloda Kepulauan untuk melihat sebaran data arkeologi, juga melihat sebaran budaya di wilayah Kerajaan Loloda pada masa lampau.

 Penelitian arkeologi, menemukan bahwa Kerajaan Loloda, adalah kerajaan di wilayah daerah aliran Sungai Loloda atau Soasio. Lokasinya adalah di situs yang disebut masyarakat sebagai Soasio Lama. Berdasarkan catatan sejarah, lokasi ini adalah sebagai pusat Kerajaan Loloda. Meskipun cukup banyak catatan sejarah yang menyinggung tentang Loloda, namun sangat minim catatan sejarah yang utuh tentang Kerajaan Loloda. Hal ini karena Loloda tidak berkembang, bahkan pada awal abad 20, sekitar tahun 1900an, Loloda dianggap sebagai kerajaan yang hilang. Meskipun Loloda, dalam sebagian informasi sejarah tercatat sebagai wilayah kekuasaan Ternate ataupun Jailolo, namun pada abad 20, Loloda praktis dikuasai oleh pihak kolonial.

Berdasarkan tradisi tutur, tahun 1908 terjadi perang Loloda, yang dimenangkan oleh pihak Kolonial, sejak saat itu penduduk Soasio Lama berdiaspora ke wilayah atau ke daerah lain mencari aman atau mencari penghidupan yang baru. Tradisi tutur juga mneyebutkan bahwa penduduk Loloda sekarangh baik yang menempati desa-desa di wilayah kecamatan Loloda sekarang ataupun di wilayah Loloda Utara dan Loloda kepulauan, asal muasalnya berasal dari kampung Soasio Lama, yang dulu merupakan pusat Kerajaan Loloda.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *