PENELITIAN JEJAK NEGERI ALAKA DI PULAU HARUKU


Tujuan penelitian ini ialah menelusuri jejak peninggalan negeri Alaka di Pulau Haruku. Negeri Alaka dikenal sebagai negeri yang tidak pernah berhasil ditaklukkan oleh Portugis dan Belanda. Salah satu peristiwa sejarah penting yang pernah terjadi di Negeri Alaka ialah perang Alaka antara masyarakat Tuhaha dengan Portugis tahun 1517 dan Belanda di tahun 1525. Balai Arkeologi Maluku sudah beberapa kali mengadakan penelitian di wilayah Pulau Haruku, namun belum pernah mendapatkan jejak dan data arkeologis terkait Negeri Alaka dan peristiwa perang Alaka, hal itulah yang menjadikan tujuan utama penelitian ini ialah secara khusus mencari data Negeri Alaka dari aspek arkeologis.

Beberapa kendala yang dihadapi oleh tim penelitian sebenarnya sama dengan yang dihadapi oleh tim penelitian yang pernah turun sebelumnya, yaitu terkait perijinan dan kewenangan adat untuk mencapai lokasi bekas Negeri Alaka. Sejauh ini Balai Arkeologi Maluku belum memiliki data faktual menyangkut lokasi sebenarnya dimana Negeri Alaka itu berada. Berdasarkan keterangan dari aparatur Negeri di Pelauw, menerangkan bahwa untuk mencapai lokasi bekas Negeri Alaka maka dibutuhkan ijin langsung dari empat desa yang memiliki akses menuju kesana, yaitu Desa Rohomoni, Desa Kailolo, Desa Pelauw, dan Desa Hulaliu. Lokasi bekas Negeri Alaka merupakan wilayah yang dikeramatkan, sehingga tidak mudah bisa mencapai kesana. Tim penelitian sudah mendatangi Sekretaris Desa Pelauw untuk memperoleh ijin mencapai lokasi Negeri Alaka, namun tidak mendapatkan kepastian ijin. Namun, Tim akhirnya memperoleh akses menuju lokasi Negeri Alaka melalui Desa Rohomoni. Tim penelitian pun berangkat menuju lokasi dengan didampingi oleh perangkat adat Desa Rohomoni.

Penelusuran jejak Negeri Alaka dimulai dari batas timur Desa Rohomoni, tepatnya di koordinat -3.55726 LS dan 128.42987 BT. Dari lokasi inilah penelusuran awal dengan menyeberangi beberapa anak sungai Wai Lalan dan kondisi geografis yang berbukit cenderung menanjak. Vegetasi sepanjang penelusuran relatif lebat.

Tim Penelitian menyeberangi anak sungai Wai Lalan

Tim Penelitian menyeberangi anak sungai Wai Lalan

Beberapa ratus meter penelusuran dari titik awal anak sungai Wai Lalan, ditemukan lokasi yang dipercaya oleh kaum adat sebagai bekas masjid Hatuhaha, namun Tim Penelitian tidak menemukan tinggalan fisik materi maupun artefaktual yang mendukung dugaan tersebut. Sedikit menanjak ke arah timur berdiri bangunan Makam Keramat Alaka, tepatnya di koordinat -3.55578 LS dan 128.4345 BT. Makam keramat tersebut berupa bangunan berdenah persegi panjang yang ditinggikan oleh pondasi setinggi sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah beratapkan rumbia, dan berdinding beton. Terdapat pintu masuk bangunan makam di sisi barat bangunan, namun terkunci rapat. Pekarangan sekitar bangunan makam terjaga dan terawat dengan rapi karena masyarakat adat selalu mengadakan pemeliharaan dan upacara rutin tahunan. Menempel sebelah sisi selatan bangunan terdapat satu makam yang dipasangi atap rumbia, diyakini itu merupakan makam murid dari tokoh Negeri Alaka yang dikeramatkan.

Makam Keramat Alaka

Makam Keramat Alaka

Penelusuran terus berlanjut ke arah timur dengan jalan mendaki di atas punggungan bukit Alaka yang cukup terjal. Menjelang menuju puncak bukit Tuhaha tepatnya di koordinat -3.55172 LS dan 128.44499 BT terdapat deretan makam yang disebut sebagai Makam orang Tuhaha. Deretan makam tersebut terletak di atas punggungan bukit mengikuti alur punggungan memanjang dari barat ke timur sebanyak 33 makam. Makam-makam tersebut berupa susunan batu-batu koral yang bertekstur tajam berwarna kehitaman. Seluruh deretan makam masing-masing berorientasi utara – selatan. Pada ujung selatan deretan makam diyakini merupakan makam kapitan Aipasa. Berdasarkan kisah tutur adat, Kapitan Aipasa merupakan pemimpin orang-orang Tuhaha yang dahulu bernama orang-orang Huhule dalam memerangi Belanda dan Portugis. Makam-makam yang disusun berderet ini merupakan makam para pengikut Kapitan Aipasa yang gugur dalam mempertahankan bukit Alaka dari invasi Belanda. Bersembunyi di balik batu-batu karang, lokasi pantau yang strategis di bukit Alaka dan strategi perang dengan menjatuhkan batang kayu dan batu karang dari atas bukit berhasil menjadikan Negeri Alaka yang tidak pernah berhasil ditaklukkan oleh Belanda.

Makam Orang Tuhaha

Makam Orang Tuhaha

Makam Orang Tuhaha

Makam Orang Tuhaha

Setelah menelusuri deretan Makam Orang Tuhaha, maka sampailah Tim Penelitian di puncak bukit Alaka. Pada puncak bukit inilah ditemukan sisa-sisa tinggalan benteng Alaka tepatnya berada di sekitar koordinat 3.55166 LS dan 128.44552 BT. Tinggalan-tinggalan yang masih dapat dijumpai berupa susunan batu-batu koral bertekstur tajam, yang diyakini dahulu merupakan dinding benteng Negeri Alaka yang dibangun mengelilingi puncak bukit setinggi 3 meter dan lebar 1 meter, namun saat ini sisa-sisa yang masih dapat ditemukan tidak banyak yang bisa diinterpretasikan sesuai cerita tersebut. Benteng negeri Alaka ini berdasarkan cerita tutur merupakan lokasi perlindungan para Pembesar Negeri, wanita, dan anak-anak. Dalam wilayah benteng Alaka, atau di atas puncak bukit Alaka, terdapat batu besar yang disebut ‘Batu Ayunan’ yang dipercaya dahulu wanita dan anak-anak bersembunyi di dalamnya. Terdapat pula batu berukuran besar yang disebut ‘Batu Keramat’ yang dipercaya bahwa batu tersebut dahulu merupakan batu pertama cikal-bakal manusia yang turun dari langit. Dahulu diyakini ketika Bumi masih berupa laut, Batu Keramat ini muncul dari dalam laut. Lokasi wilayah Benteng Alaka ini memanjang mengikuti alur puncak bukit Alaka.

Batu Ayunan

Batu Ayunan

Batu Keramat Alaka

Batu Keramat Alaka

Sisa Dinding Benteng Alaka

Sisa Dinding Benteng Alaka

Penelusuran dilanjutkan dengan menuruni Bukit Alaka ke arah Barat Daya. Awal menuruni bukit tepatnya di koordinat -3.55113 LS dan 128.44193 BT terdapat jejak susunan batu koral yang dipercaya sebagai sisa pondasi masjid Hatuhaha 1. Berdasarkan pengamatan di lokasi walaupun tidak terlihat dengan jelas karena tertutup oleh lebatnya vegetasi, setidaknya sisa pondasi Masjid Hatuhaha 1 berdenah persegi panjang berukuran sekitar panjang 40 meter dan lebar 20 meter dengan orientasi memanjang utara – selatan. Sepanjang jalan menuruni Bukit Alaka terdapat barisan bangunan Makam Keramat Alaka dan Makam Anak-anak Alaka. Makam Anak-anak Alaka ialah makam anak-anak dari pejuang Alaka yang gugur dalam perang. Barisan bangunan berdiri di tengah pekarangan yang tertata rapi di atas punggungan bukit Alaka. Bangunan Makam Anak-anak Alaka terdapat dua makam. Berselingan dengan bangunan Makam Anak-anak Alaka terdapat bangunan-bangunan Makam Keramat Kampung Amuel. Barisan bangunan makam tersebut dipelihara dan dikeramatkan oleh masyarakat adat.

Setelah melewati bangunan-bangunan Makam keramat, tidak jauh dari permukiman modern terdapat tempat yang diduga sebagai bekas lokasi Masjid Hatuhaha 2 tepatnya di koordinat -3.5558 LS dan 128.43195 BT. Pada lokasi tersebut tidak ditemukan tinggalan materi apapun selain cerita masyarakat. Menurut cerita tutur menerangkan bahwa pondasi Masjid Hatuhaha 2 tidak dibangun dengan bahan permanen karena masyarakat sudah mulai berpindah tempat tinggal menuju pesisir.

Barisan bangunan Makam Keramat Alaka

Barisan bangunan Makam Keramat Alaka

Penelusuran Tim Penelitian di Bukit Alaka yang diduga merupakan bekas pusat Negeri Alaka berakhir di Desa Rohomoni. Berdasarkan hasil penelusuran dan bukti-bukti arkeologis yang ditemukan sudah cukup memperkuat interpretasi cerita lokal bahwa lokasi tersebut merupakan pusat Negeri Alaka yang dipercaya dahulu sebagai tempat terjadinya peristiwa perang Alaka. Namun penelusuran ini masih sebatas survey secara umum, masih banyak cerita adat masyarakat yang belum ditemukan bukti arkeologisnya. Sepanjang penelusuran Tim Penelitian di bukit Alaka ini pun tidak menemukan temuan artefaktual yang kiranya dapat lebih mempertajam analisis terkait Negeri Alaka secara lebih mendalam. (MJB)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *