Rumah Peradaban Bahari: Temu Jurnalis dan Jelajah Pusaka Bahari Teluk Ambon


Gerbang KMP Lelemuku

Gerbang KMP Lelemuku

Ambon, 18 Februari 2017 Balai Arkeologi Maluku melanjutkan kegiatan Rumah Peradaban hari kedua bertajuk Temu Jurnalis dan Jelajah Pusaka Bahari Teluk Ambon. Pada kegiatan di hari kedua ini, Balai Arkeologi Maluku mengajak peserta dan undangan untuk menjelajah Teluk Ambon menggunakan kapal Ferry KMP Lelemuku untuk melihat lokasi-lokasi tinggalan sejarah di pesisir Teluk Ambon yang dahulu sangat terkenal. KMP Lelemuku merupakan kapal ferry yang baru saja diresmikan oleh Presiden Joko Widodo dalam rangka Hari Pers Nasional beberapa waktu lalu, dan kegiatan Jelajah Teluk Ambon ini adalah pelayaran pertama KMP Lelemuku setelah diresmikan. Peserta yang ikut serta ialah rekan-rekan jurnalis baik media cetak maupun online di Kota Ambon, antara lain perwakilan jurnalis dari Tribun Maluku, Maluku Pos, Bedah Nusantara, Jurnal Nusantara, Maluku News.com, Poros Maluku, Berita Maluku.com, Pelita, Info Baru, Lacak, Media Nusantara, Buru Pos, Marinyo, Antara, Suara Maluku, Siwalima, Ambon Ekspress, Ambon Rakyat, Rakyat Maluku, Kabar Timur, Metro Maluku, Spectrum, RRI, DMS Radio, Moluccas, Serang TV, Maluku Ekspose, TVRI, dan Moluccas Times.com serta Undangan lainnya. Tujuan dari penyelenggaraan ini secara khusus untuk membuka perhatian rekan-rekan jurnalis terhadap isu-isu kebudayaan yang selama ini cukup terpinggirkan serta membuka wawasan terhadap sejarah-sejarah bahari Kota Ambon.

Perjalanan KMP Lelemuku yang membawa seluruh peserta dan undangan dimulai pada pukul 09.45 WIT dari Pelabuhan ferry Galala Kota Ambon. Rute perjalanan KMP Lelemuku ke arah barat Teluk Ambon menyusuri pesisir selatan Teluk Ambon menyisir Tanjung Martafons, melewati Benteng Nieuw Victoria, Pelabuhan Yos Sudarso, hingga Tawiri dengan kecepatan sekitar 5 nautical knot lalu putar arah ke arah timur di ujung terluar Teluk hingga kembali ke Pelabuhan ferry Galala. Sepanjang perjalanan, peserta dan undangan kegiatan diajak berdiskusi santai seputar sejarah Kota Ambon dibimbing oleh Bapak Prof. John Pattikayhatu, Guru Besar Unpatti, Bapak Simon Maelissa perwakilan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI), dan Andrew Huwae seorang pakar Arkeologi Sejarah dari Balai Arkeologi Maluku. Diskusi interaktif berjalan sepanjang perjalanan menyusuri Teluk Ambon. Prof. John mengatakan berdasarkan bukti-bukti sejarah, pada masa kolonial dahulu Kota Ambon tertata rapi dan bersih. Dahulu laut di Teluk Ambon memiliki hasil ikan yang melimpah, dan Rumphius pernah mencatat bahwa Pelabuhan Ambon adalah Pelabuhan yang terindah di dunia. Bapak Simon Maelissa menunjukkan lokasi-lokasi bersejarah di sepanjang pesisir Teluk Ambon yang dahulu sangat ramai oleh kedatangan pelaut-pelaut asing. Pak Simon menceritakan catatan-catatan sejarah Kota Ambon yang banyak ditulis pada masa pemerintahan kolonial, hingga sejarah tsunami di Kota Ambon tercatat dalam catatan Rumphius. Di akhir, Pak Simon Maelissa menyampaikan Kota Ambon dan Maluku pada umumnya memiliki sejarah panjang dan khasanah budaya yang kaya tidak hanya dimiliki oleh orang-orang Maluku saja tapi juga milik bangsa Indonesia bersama.

Perjalanan di atas KMP Lelemuku juga dimeriahkan oleh hiburan musik yang mengajak para peserta dan undangan menari bersama di atas kapal. Pada pukul 12.40 acara di atas KMP Lelemuku ditutup secara resmi oleh Kepala Balai Arkeologi Maluku, bapak Muhammad Husni. Beliau menyampaikan ke depannya agar kerja sama antara Balai Arkeologi Maluku dengan insan pers akan lebih erat dan harapannya dengan terselenggaranya kegiatan ini akan meningkatkan minat media untuk lebih memperhatikan dan mengangkat isu-isu terkait budaya dan arkeologi. (MJB)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *