Rumah Peradaban Bahari: Arkeologi dan Media


Kepala Puslit Arkenas membuka rangkaian acara secara resmi

Kepala Puslit Arkenas membuka rangkaian acara secara resmi

Ambon, 17 Februari 2017 Balai Arkeologi Maluku melaksanakan kegiatan Rumah Peradaban bertemakan ‘Arkeologi dan Media’ dalam rangka menyemarakkan Hari Pers Nasional yang pada pekan sebelumnya diselenggarakan di Kota Ambon. Pada kegiatan Rumah Peradaban Balai Arkeologi Maluku kali ini mengusung tajuk Rumah Peradaban Bahari, Temu Jurnalistik dan Jelajah Pusaka Bahari Teluk Ambon yang dilaksanakan selama 2 hari di Kota Ambon dengan fokus peserta ialah rekan-rekan jurnalis baik media cetak maupun online di Kota Ambon. Peserta yang diundang antara lain perwakilan jurnalis dari Tribun Maluku, Maluku Pos, Bedah Nusantara, Jurnal Nusantara, Maluku News.com, Poros Maluku, Berita Maluku.com, Pelita, Info Baru, Lacak, Media Nusantara, Buru Pos, Marinyo, Antara, Suara Maluku, Siwalima, Ambon Ekspress, Ambon Rakyat, Rakyat Maluku, Kabar Timur, Metro Maluku, Spectrum, RRI, DMS Radio, Moluccas, Serang TV, Maluku Ekspose, TVRI, dan Moluccas Times.com serta beberapa Undangan lainnya. Tujuan dari penyelenggaraan ini secara khusus untuk membuka perhatian rekan-rekan jurnalis terhadap isu-isu kebudayaan yang selama ini cukup terpinggirkan serta membuka wawasan terhadap sejarah-sejarah bahari Kota Ambon.

Hari pertama penyelenggaraan kegiatan Rumah Peradaban Bahari ‘Arkeologi dan Media’ bertempat di gedung Ocean Café di Kota Ambon. Pada rangkaian di hari pertama ini dilakukan diskusi santai antara rekan-rekan jurnalis dengan pakar kebudayaan dan Arkeologi membahas isu-isu tentang budaya. Acara dimulai pukul 11.00 WIT, dibuka oleh Ketua Panitia kegiatan, Wuri Handoko dan didampingi oleh Marlon Ririmasse selaku pembawa acara. Dilanjutkan oleh sambutan dari perwakilan Walikota Ambon dan sambutan oleh Kepala Pusat Arkeologi Nasional sekaligus membuka acara secara resmi. Acara ditunda sejenak untuk istirahat sholat jumat dan makan siang hingga pukuk 13.30. Pada sesi diskusi santai dibawakan oleh 3 orang panelis, yaitu pak Idham dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud, Pak Sonny dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, dan Bang Arif dari Harian Kompas yang menginisiasi Ekspedisi Cincin Api Kompas beberapa waktu lalu.

Bang Arif memaparkan bahwa kenyataan saat ini tema arkeologi masih terpinggirkan di media dibanding isu-isu ekonomi dan politik yang lebih ‘menjual.’ Namun sesungguhnya arkeologi bisa menjadi isu yang menarik, beliau mengatakan bahwa saat ini sedang menyusun buku bertemakan asal-usul manusia Indonesia dengan pengetahuan yang ia dapatkan selama ini setelah banyak berinteraksi dan mengikuti perjalanan bersama rekan-rekan Arkeolog. Baginya persoalan identitas menjadi sangat penting bagi bangsa ini, maka perlu kita mengetahui sejarah masa lalu Posisi arkeologi memegang peran penting ketika mengungkap kebenaran sebelum adanya tulisan, tidak hanya dari sumber tertulis. Produk arkeologi ialah jurnal, makalah ilmiah dan konservasi tinggalan sejarah, sedangkan jurnalisme menghasilkan produk koran, televsi, radio, online. Peran jurnalis ialah menyiarkan hasil penelitian arkeologi yang terpercaya secara saintifik namun dalam bentuk bacaan populer. Pengalamannya mengikuti proyek penelitian arkenas di Tambora membuatnya berpikir bagaimana manusia masa kini bisa mengetahui dan mengantisipasi/mitigasi bencana dengan mempelajari bencana masa lalu, seperti Tambora yang dahulu merupakan bencana besar yang cukup fenomenal dengan mengubur dua kerajaan. Arkeologi bisa menjadi tema yang menarik tanpa harus melulu ilmiah. Arkeologi relevan dengan kehidupan masa kini. Kontribusi arkeologi ialah ketika menyambungkan pengetahuan yang terputus dari masa lalu akibat ketiadaan sumber tertulis.

Pak Idham menjelaskan tema arkeologi dan media ialah untuk mengunggah ketertarikan media terhadap arkeologi. Menurutnya, kenapa penting untuk menuliskan sejarah lokal kita sendiri? Karena selama ini kita kurang menulis narasi tentang diri sendiri, karena kebanyakan yg menuliskan tentang indonesia berdasarkan perspektif orang luar, dan disinilah peran media. Menurut Pak Idham tema-tema arkeologi yang saat ini sedang populer untuk dibahas antara lain:

  1. Mendefinisikan siapa manusia Indonesia
  2. Menarasikan tentang interaksi kebudayaan dengan alam
  3. Mengurai relevansinya bagi kehidupan masa kini dan tantangannya di masa mendatang

Bapak Sonny Wibisono selaku Arkeolog senior dari Puslit Arkenas memberikan materi diskusi seputar wawasan arkeologi di Kepulauan Maluku. Menurutnya, puzzle sejarah Indonesia tidak lengkap tanpa kehadiran Maluku. Maluku memegang peran penting bagi catatan peradaban bangsa Indonesia dengan bentuk geografisnya yang berbentuk kepulauan cukup memnggambarkan bagaimana jati diri bangsa Indonesia yang berorientasi laut. Maluku memiliki jejak-jejak penting peradaban dari masa prasejarah hingga masa kolonial dan reformasi. Maluku menjadi sangat terkenal sebagai pusat penghasil rempah-rempah yang sangat banyak tercatat di catatan sejarah.

Pada akhir rangkaian acara di hari pertama, Prof. Hermien dari Departemen Sosiologi Unpatti turut memberikan masukan. Prof. Hermien menuturkan bahwa wartawan itu sama dengan peneliti yang menyelidiki suatu berita berdasarkan fakta. Pewarta adalah agen-agen pembangunan karena dengan tugas sebagai pewarta bisa membantu pemerintah dalam pembangunan. (MJB)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *